Jakarta, Optimaise News – Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) ditutup melemah 4,49 persen ke Rp20.750 pada Senin, 10 Agustus 2026, di Bursa Efek Indonesia. Perdagangan mencatat 2,34 juta saham, frekuensi 4.723 kali, dan nilai transaksi Rp49,85 miliar, sementara investor asing berbalik net sell Rp12,59 miliar.
Inti artikel
- Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) ditutup melemah 4,49 persen ke Rp20.750 pada Senin, 10 Agustus 2026, di Bursa Efek Indonesia
- Berdasarkan sumber yang dihimpun Optimaise News, aliran asing sebelumnya sempat net buy beruntun pada 3, 7 Agustus sebelum putar arah
- Pada sesi Senin, harga GGRM sempat menyentuh Rp21.825 sebelum tertekan usai jeda siang
Koreksi itu menyusul puncak intraday Rp21.825, level tertinggi setahun, dan datang di tengah laba semester I-2026 yang melonjak sekitar 2.440 persen. Berdasarkan sumber yang dihimpun Optimaise News, aliran asing sebelumnya sempat net buy beruntun pada 3, 7 Agustus sebelum putar arah.
Pembalikan harga Senin: puncak setahun lalu tertekan
Pada sesi Senin, harga GGRM sempat menyentuh Rp21.825 sebelum tertekan usai jeda siang. Penutupan Rp20.750 membalik penguatan 5,46 persen yang tercatat Jumat, 7 Agustus 2026.
Pergerakan harian itu menjadi sorotan karena datang setelah rali pendek yang mendorong harga di atas target sejumlah sekuritas. Volume dan frekuensi relatif ramai untuk emiten rokok, menandakan ada aliran jual yang aktif di sisi tawar.
Aliran asing berbalik: dari seri net buy ke net sell

Investor asing yang pada 3, 7 Agustus 2026 konsisten mencatat net buy di GGRM mendadak mencatatkan net sell Rp12,59 miliar pada Senin. Pekan sebelumnya, akumulasi net buy asing mencapai Rp130,39 miliar dan harga naik 14,34 persen, dengan penutupan Jumat Rp21.725 dan puncak sekitar Rp21.800.
Pembalikan dalam hitungan hari ini membentuk timeline singkat: rali plus serbuan asing, puncak intraday Senin, lalu koreksi dan net sell. Di sesi kedua Selasa, 11 Agustus 2026, GGRM masih tertekan 0,36 persen ke Rp20.675, dengan tertinggi Rp21.050 dan terendah Rp20.475, frekuensi 2.394 kali, volume 16.388 saham, serta nilai sekitar Rp34,1 miliar.
Pelemahan Selasa sejalan dengan IHSG yang turun 1,58 persen ke 6.264 dan LQ45 yang turun 1,65 persen. Tekanan pasar umum memperkuat narasi aksi ambil untung di saham yang baru saja melonjak.
Laba bersih semester I melonjak, pendapatan masih terkontraksi
PT Gudang Garam Tbk membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sekitar Rp2,97 triliun di semester I-2026, naik 2.440 persen dari Rp117,16 miliar pada periode sama 2025. Ada rincian yang menyebut laba neto sekitar Rp2,98 triliun dan laba per saham dasar Rp1.547, naik dari Rp61.
Kontrasnya, pendapatan bersih turun 7,19 persen menjadi sekitar Rp41,17, 41,18 triliun dari Rp44,37 triliun. Beban pokok ditekan ke Rp35,19 triliun, mengerek laba bruto ke kisaran Rp5,98, 5,99 triliun atau naik sekitar 58 persen year-on-year.
| Indikator (semester I) | 2026 | 2025 / catatan |
|---|---|---|
| Laba ke pemilik entitas induk | Rp 2,97, 2,98 triliun | Rp 117,16 miliar (+2.440%) |
| Pendapatan bersih | Rp 41,17, 41,18 triliun | Rp 44,37 triliun (−7,19%) |
| Beban pokok | Rp 35,19 triliun | lebih rendah dari Rp 40,58 triliun |
| Laba bruto | Rp 5,98, 5,99 triliun | +58% yoy |
| Pendapatan SKM | Rp 36,61 triliun | dominan |
| Pendapatan SKT | Rp 3,58 triliun | ditambah varian |
| Harga penutupan Senin 10/8 | Rp 20.750 | −4,49% |
| Net sell asing Senin | Rp 12,59 miliar | usai net buy Rp 130,39 miliar pekan 3, 7 Agustus |
Segmen lain seperti kertas karton, konstruksi jalan tol Kediri, Tulungagung, dan klobot juga tercatat, sementara lini infrastruktur masih rugi operasional meski membaik. Total aset per 30 Juni 2026 disebut sekitar Rp77,87 triliun dengan kas Rp8,71 triliun.
Respons analis dan strategi SKT hadapi cukai serta produk ilegal
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menaksir pelemahan harga terkait aksi profit taking setelah kenaikan signifikan. Ia menyarankan wait and see dengan support di Rp20.300 dan resistance di Rp20.950.
Di sisi operasi, Direktur PT Gudang Garam Tbk Istata Taswin Siddharta menjelaskan perluasan varian sigaret kretek tangan (SKT) karena beban cukai lebih ringan dibanding sigaret kretek mesin (SKM) dan daya beli konsumen tertekan. Ia juga menyoroti maraknya SKM ilegal tanpa pita cukai atau pelekatan salah yang membuat biaya cukai praktis nol dan menarik pembeli menjauh dari produk resmi.
“Diperkirakan adanya aksi profit taking setelah mengalami kenaikan yang signifikan,” ujar Herditya.
“Kami di tahun 2024 dan sampai sekarang juga masih dalam proses sudah mengeluarkan dan dalam proses untuk memperbesar varian ataupun produk dalam segmen SKT sehingga kita juga bisa berpartisipasi pada demand yang timbul dari orang yang mencari rokok lebih murah,” ujar Istata.
Konteks rali pekan sebelumnya dan target harga sekuritas
Rali 3, 7 Agustus menempatkan GGRM di atas target harga Mandiri Sekuritas Rp19.100. Itu menjelaskan kenapa ambil untung muncul begitu puncak setahun tercapai, meskipun bottom line sedang melesat.
Bagi investor ritel, kombinasi top-line yang menyusut, bottom-line yang meledak lewat efisiensi, dan aliran asing yang berbalik dalam 24, 48 jam menuntut pembacaan tenang: harga tidak otomatis mengikuti laba harian, dan risk reward bergeser ke zona wait and see yang diucapkan analis. Dalam rangkuman Optimaise News, fokus tetap pada data transaksi, level teknikal, dan strategi SKT versus ancaman produk ilegal, bukan spekulasi di luar laporan.







