PSG Termotivasi Samai Rekor Real Madrid di Liga Champions

PSG menargetkan menyamai rekor Real Madrid yang mampu menjuarai Liga Champions tiga kali berturut-turut. Pelatih Luis Enrique bahas tantangan besar bagi tim.

Author Image

Dwi

PSG Termotivasi Samai Rekor Real Madrid di Liga Champions

Pelatih Paris Saint-Germain, Luis Enrique, menanamkan tantangan besar di ruang ganti: bawa Les Parisiens menyamai kehebatan Real Madrid di Liga Champions. Ambisi itu bukan sekadar juara lagi, melainkan hat-trick gelar beruntun yang hanya pernah dimiliki raksasa Spanyol.

Inti artikel

  • Ambisi itu bukan sekadar juara lagi, melainkan hat-trick gelar beruntun yang hanya pernah dimiliki raksasa Spanyol
  • Gelar Liga Champions pertama PSG datang pada musim 2024/2025 lewat kemenangan 5-0 atas Inter Milan di final
  • Musim berikutnya Les Parisiens kembali ke puncak setelah menumbangkan Arsenal di final Mei lalu

Dalam rangkuman Optimaise News dari keterangan kepada Uefa.com, Enrique menempatkan gairah juara sebagai fokus, sambil mengakui betapa sulitnya mempertahankan puncak Eropa. PSG baru saja meraih gelar kedua beruntun dan kini membidik status yang hampir belum pernah ditulis sejarah sepak bola Eropa modern.

PSG ulangi juara tapi mulai durjan ambisi samai rekor Madrid

Gelar Liga Champions pertama PSG datang pada musim 2024/2025 lewat kemenangan 5-0 atas Inter Milan di final. Musim berikutnya Les Parisiens kembali ke puncak setelah menumbangkan Arsenal di final Mei lalu.

Dua trofi beruntun sudah menempatkan klub Paris di jajaran langka. Namun skema ambisi klub tidak berhenti di situ. Mereka memandang Real Madrid, pemilik 15 titel, sebagai patokan tertinggi, terutama karena Los Blancos menjadi satu-satunya klub yang juara tiga kali berturut-turut (2014/2015, 2015/2016, 2016/2017).

Bagi pembaca di Indonesia yang mengikuti UCL, ini bukan hanya soal piala. Ini tentang dinasti Eropa yang jarang sekali terbentuk di era format modern Liga Champions.

Bagaimana sederhana kini jadi favorit tanpa Mbappe-Messi-Neymar

Dulu PSG sering dianggap gagal total meski pernah mengandalkan trio penyerang bintang: Kylian Mbappe, Lionel Messi, dan Neymar. Persepsi underdog itu melekat kuat.

Kini klub meraih dua gelar UCL dengan skuad yang digambarkan lebih sederhana. Enrique menegaskan dua tahun lalu hampir mustahil menempatkan Paris sebagai favorit, sementara sekarang hampir tak ada yang menyangkal status itu.

Pergeseran ini menjadi bukti evolusi klub. Favorit bukan diberi label, melainkan dihasilkan lewat kerja yang harus dipertahankan dengan intensitas lebih tinggi lagi.

Enrique ungkap dua tantangan primadona yang belum pernah ada

“Saya fokus pada memperbarui gairah untuk juara lagi. Sulit lho untuk terus juara,” ujar Luis Enrique kepada Uefa.com. Ia kemudian merinci tantangan yang disebutnya lain dari yang lain.

“Sekarang, kami punya sebuah tantangan yang lain dari yang lain — sesuatu yang praktis belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sepakbola Eropa, yaitu menyamai Real Madrid jika kami bisa memenangi Liga Champions tiga kali berturut-turut.”

Dia menambahkan: “Wow! Itu adalah sesuatu di level sepenuhnya berbeda. Belum ada tim dalam sejarah yang juara tiga kali beruntun, hanya Real Madrid. Kami bisa menyamai mereka, tapi saya kira tidak ada tim di Eropa yang lebih termotivasi daripada kami.”

Berdasarkan sumber yang dihimpun Optimaise News, nada Enrique realistis sekaligus agresif: gairah diperbarui, tapi kesulitan juara beruntun tidak disembunyikan. Itu membedakan ambisi semata dari rencana yang berpijak pada sejarah.

Kenapa Madrid hanya satu tim yang bisa capai triple UCL

Real Madrid tetap raja kompetisi dengan 15 gelar. Rekor tiga musim beruntun mereka di pertengahan 2010-an belum terulang oleh klub mana pun.

Sintesis multi-sumber memperlihatkan motivasi di kubu Madrid juga kerap muncul di babak-babak krusial. Federico Valverde sempat mencetak hat-trick dan membawa Real Madrid unggul 3-0 atas Manchester City di leg pertama babak 16 besar, yang ia sebut laga terbaik karier profesionalnya. Di era lain, Toni Kroos pernah menekankan semangat tinggi skuad demi gelar dan kemungkinan rekor beruntun.

Bagi pemain yang kelak ikut serta dalam upaya hat-trick PSG, nilai tambahnya jelas: jadi bagian dari generasi yang menyamai monumen Madrid di UCL. Prestasi kolektif itu otomatis menempel pada reputasi individu di panggung Eropa.

Arsenal di belakang PSG sebelum hadapi duel final

Perjalanan final 2025/2026 menempatkan Arsenal di sisi yang pahit. Gunners kembali gagal merebut gelar perdana setelah berhadapan dengan PSG. Narasi multi-sumber mencatat drama skor yang berujung penalti di final, mengingatkan kegagalan final 2006 lawan Barcelona.

Pola serupa pernah dialami Valencia dan Atletico Madrid, klub-klub yang gagal memetik gelar pertama di dua final. PSG, sebaliknya, bergabung ke kelompok klub dengan dua gelar UCL bersama nama-nama seperti Juventus, Benfica, Chelsea, Nottingham Forest, dan Porto.

Konteks ini mempertegas mengapa Enrique menilai tantangan hat-trick begitu langka. Paris sudah dua kali di puncak. Langkah ketiga akan menulis ulang peta dinasti modern.

FAQ
Apa ambisi utama PSG usai juara dua kali beruntun?
Menyamai Real Madrid dengan meraih Liga Champions tiga musim berturut-turut, sesuatu yang baru dilakukan Madrid pada 2014/2015 hingga 2016/2017.
Berapa gelar UCL Real Madrid dan kapan hat-trick mereka?
Madrid memegang 15 titel. Hat-trick beruntun terjadi di musim 2014/2015, 2015/2016, dan 2016/2017.
Bagaimana Luis Enrique memandang status favorit PSG sekarang?
Ia menilai dulu Paris hampir mustahil disebut favorit, sementara kini status itu sudah dihasilkan dan harus dijaga lewat kerja lebih keras.
Dwi
Redaktur Olahraga

Dwi adalah redaktur olahraga Optimaise News. Meliput sepak bola, basket, dan kompetisi internasional: skor, jadwal siaran, transfer, dan analisis pertandingan untuk pembaca Indonesia. Tulisan mengacu sumber pertandingan dan rilis resmi, disusun agar cepat dibaca di beranda dan Google Discover.