Jakarta, Optimaise News – Risiko keselamatan ratusan penumpang muncul setelah seorang pilot Malaysia Airlines dinyatakan positif sabu, ineks, dan kokain saat masih bertugas di kokpit. Mohd Saufi bin Othman (39) menerbangkan MH727 dari Kuala Lumpur ke Indonesia yang mengangkut minimal 170 penumpang sebelum ditangkap di Terminal 3 Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta.
Inti artikel
- Trik menyimpan botol urine bersih di tas juga gagal total
- Temuan itu menambah kekhawatiran publik soal bagaimana penumpang bisa terbang tanpa tahu awak pesawat masih terpengaruh tiga zat tersebut
- Kepala Bea Cukai Soetta Hengky Tomuan Parlindungan Aritonang menegaskan hasil urine menunjukkan pilot positif sabu, ineks, dan kokain
Trik menyimpan botol urine bersih di tas juga gagal total. Temuan itu menambah kekhawatiran publik soal bagaimana penumpang bisa terbang tanpa tahu awak pesawat masih terpengaruh tiga zat tersebut.
Hasil Tes: Tiga Zat Aktif Saat Masih di Kokpit
Kepala Bea Cukai Soetta Hengky Tomuan Parlindungan Aritonang menegaskan hasil urine menunjukkan pilot positif sabu, ineks, dan kokain. Menurutnya, zat-zat itu aktif pada saat Saufi menerbangkan pesawat. Tes lanjutan dari Bareskrim memperkuat temuan MDMA atau ekstasi, metamfetamin, serta kokain.
Bagi penumpang MH727, fakta ini berarti mereka berada di udara bersama orang yang berpotensi kehilangan fokus dan refleks normal. Kondisi seperti itu langsung mengancam keselamatan seluruh orang di dalam kabin, terutama saat lepas landas dan mendarat.
Rencana Gagal: Botol Urine Bersih di Tas Tersangka

Humas Bea Cukai Soetta Satria Yudhatama membeberkan botol kecil berisi urine bersih ditemukan di tas Saufi. Botol itu disiapkan sebagai antisipasi tes dadakan maskapai atau otoritas. Namun urine belum sempat dipakai karena petugas langsung melakukan pemeriksaan resmi.
Barang bukti itu lalu diserahkan ke Dittipidnarkoba Bareskrim untuk pengujian lebih lanjut. Siasat ini menunjukkan niat sistematis untuk mengelabui, tapi justru memperlihatkan risiko yang dibiarkan masuk ke jalur penerbangan komersial.
Dari X-Ray Koper ke Interogasi: Kronologi Bea Cukai-Bareskrim

Kronologi dimulai Selasa 28 Juli 2026 sekitar pukul 23.30 WIB di Terminal 3. Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso menjelaskan koper mencurigakan terdeteksi lewat X-ray. Pemeriksaan bersama Bea Cukai Soetta lalu menemukan 14 bungkus besar ekstasi plus satu bungkus sabu.
Total isi mencapai 70.114 kapsul dengan berat bersih 25.194,83 gram atau sekitar 25 kilogram, ditambah 4 gram metamfetamin. Alur berlanjut ke interogasi di mana Saufi mengaku hanya kurir. Dari deteksi X-ray, pengakuan upah, tes urine tiga zat, temuan botol, hingga respons maskapai dan tes acak Hubud 1 Agustus, seluruh rangkaian itu membentuk satu rantai risiko yang utuh bagi keselamatan penerbangan.
Upah RM50 Ribu dan Respons Internal Maskapai
Tersangka mengakui disuruh orang lain membawa ekstasi ke Jakarta dengan imbalan RM 50.000. Malaysia Airlines merespons tegas. Maskapai menyatakan tidak mentolerir pelanggaran apa pun dan langsung melakukan peninjauan internal.
Prioritas mereka adalah keselamatan, keamanan, serta integritas operasional. Pernyataan itu setidaknya memberi sinyal bahwa perusahaan menyadari dampak langsung ke penumpang yang sudah terbang bareng pilot dalam kondisi terpengaruh.
Langkah Cegah Hubud: Tes Acak Kru di Soetta
Ditjen Hubud merespons dengan menggelar rapid test urine acak terhadap kru pesawat di Soetta pada Sabtu 1 Agustus 2026. Inspeksi melibatkan Direktorat Kelaikudaraan, Balai Kesehatan Penerbangan, dan Otoritas Bandara Wilayah I.
Langkah ini bertujuan mencegah kasus serupa terulang. Bagi penumpang awam, tes acak menjadi lapisan perlindungan tambahan setelah terungkap bahwa seorang pilot bisa lolos membawa narkoba aktif ke kokpit tanpa terdeteksi lebih awal. Kejadian ini menegaskan perlunya pengawasan ketat sebelum setiap penerbangan komersial lepas landas.







