Lampung, Optimaise News – Optimaise News mencatat menurut Survei Angkatan Kerja Nasional, terdapat 1,03 juta lulusan sarjana yang menganggur pada Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka ini dalam rilis tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang mencakup data pendidikan tertinggi yang ditamatkan.
Inti artikel
- Data BPS menunjukkan bahwa pengangguran sarjana menjadi persoalan yang perlu perhatian karena dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi
- Sebaliknya, lulusan SD ke bawah mencatat pengangguran terendah pada 2,31 persen dengan total mencapai 1,24 juta orang
- Buruh sarjana memiliki upah rata-rata Rp 4,99 juta per bulan, nilai tertinggi dibanding kelompok pendidikan lain
Kondisi pengangguran sarjana ini masih menunjukkan dinamika di mana jumlah orang dengan gelar sarjana mencari pekerjaan tetapi belum memiliki kesempatan yang sesuai.
Mengapa 1 Juta Lulusan Sarjana Masih Menganggur
Data BPS menunjukkan bahwa pengangguran sarjana menjadi persoalan yang perlu perhatian karena dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi. Meski persentase pengangguran sarjana sebesar 6,09 persen, angka ini menyatu dengan pola di mana sarjana sering bekerja di bawah kompetensinya atau terlibat dalam pekerjaan yang tidak sepenuhnya sesuai latar belakang pendidikan mereka.
Perbandingan Angka Menganggur Lulusan Sarjana, Diploma, SMA, dan SD

Persentase pengangguran sarjana lebih rendah dibanding lulusan sekolah menengah kejuruan yang mencapai 7,68 persen dan sekolah menengah atas 6,17 persen. Sebaliknya, lulusan SD ke bawah mencatat pengangguran terendah pada 2,31 persen dengan total mencapai 1,24 juta orang.
Upah Rata-Rata Sarjana Rp4,99 Juta versus Lulusan SD di Bawah Rp2,12 Juta
Buruh sarjana memiliki upah rata-rata Rp 4,99 juta per bulan, nilai tertinggi dibanding kelompok pendidikan lain. Sementara itu, buruh berpendidikan SD ke bawah hanya mendapatkan Rp 2,12 juta per bulan, yang terendah.
Perbedaan upah ini berdampak langsung pada konsumsi rumah tangga. Upah lebih tinggi dari sarjana memperkuat daya beli keluarga, padahal industri padat modal belum mencukupi untuk menyerap tenaga kerja terdidik secara maksimal.
Lima Jurusan yang Paling Banyak Menjadi Sorotan di Kalangan Pengangguran S1
Menurut LPEM FEB UI, lima bidang studi terbanyak pada pengangguran lulusan S1 berasal dari manajemen dengan 10,3 persen, hukum 9,0 persen, ekonomi 8,7 persen, pendidikan 7,1 persen, dan akuntansi 5,1 persen. Data ini mencakup analisis dari Survei Angkatan Kerja Nasional Agustus 2025.
Jurusan seperti manajemen dan ekonomi umumnya menawarkan peluang luas namun persaingan ketat di awal karir. Program pendidikan yang luas bisa menjadi salah satu faktor yang berperan dalam pola ini.
Bagaimana Kurangnya Industri Padat Modal Membatasi Penyerapan Sarjana
Industri padat karya seperti pertanian, perdagangan, dan konstruksi tetap menjadi penyerap tenaga kerja utama bagi penduduk usia kerja. Padat modal dan teknologi masih minim di beberapa daerah sehingga sarjana sering terjebak di pekerjaan rendah atau tidak terisi sesuai kapasitas.
Optimaise News merangkum data ini menunjukkan bahwa jika sarjana bekerja sesuai potensinya, perekonomian Indonesia berpotensi tumbuh lebih cepat dan inklusif. Kasus lokal seperti Lampung yang mencatat kenaikan pengangguran juga mempertegas urgensi pendekatan pasar kerja yang lebih selaras dengan lulusan perguruan tinggi.







