Jakarta, Optimaise News – Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendi Manilet memproyeksikan imbal hasil surat utang negara tenor 5-10 tahun bergerak flat hingga turun tipis di lelang pekan depan. Level terkini 7,22%-7,30% dinilai sudah menyesuaikan pergerakan US Treasury yang masih di atas 4,6 persen, sementara BI Rate 5,75 persen menjaga ruang premi tetap moderat.
Inti artikel
- Dukungan utama datang dari animo investor domestik dan likuiditas bank yang relatif longgar
- Peluang sedikit menurun tetap terbuka asalkan permintaan lokal tetap solid
- Tenor 10 tahun diperkirakan di kisaran 7,1%-7,3 persen
Dukungan utama datang dari animo investor domestik dan likuiditas bank yang relatif longgar. Optimaise News mencatat, skenario kenaikan tajam dapat dihindari berkat kebijakan moneter Bank Indonesia dan penyerapan institusi lokal, meski aliran asing tetap menjadi penentu mood lelang berikutnya.
Proyeksi stabilitas yield 5-10 tahun di lelang mendatang
Menurut Yusuf Rendi Manilet, rentang 7,22%-7,30% untuk tenor menengah sudah cukup mencerminkan penyesuaian global. Peluang sedikit menurun tetap terbuka asalkan permintaan lokal tetap solid.
Tenor 10 tahun diperkirakan di kisaran 7,1%-7,3 persen. Angka itu masih termasuk yang tertinggi di Asia emerging, sehingga daya tarik relatif kuat bagi portofolio regional tanpa harus menaikkan premi berlebihan.
Faktor penopang domestik meliputi aliran dana institusi dan kebijakan BI yang menjaga stabilitas suku bunga acuan. Kombinasi ini membuat curve SUN berpeluang bertahan di zona nyaman.
Rekaman lelang 4 Agustus 2026 dan sinyal appetite
Lelang 4 Agustus 2026 menorehkan total penawaran di atas Rp 70 triliun. Pemerintah hanya mengambil sekitar Rp 32 triliun, indikasi selektivitas harga sambil mempertahankan animo.
Perbandingan terhadap BI Rate 5,75 persen memperlihatkan yield SUN masih kompetitif. Ruang premi tidak perlu melebar lebar, sehingga pemerintah dapat menyerap dana dengan biaya yang terkendali.
| Indikator | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| Yield SUN 5-10 tahun | 7,22%-7,30% | Kisaran terkini |
| Yield SUN 10 tahun | 7,1%-7,3% | Tinggi di emerging Asia |
| US Treasury | >4,6% | Acuan global |
| BI Rate | 5,75% | Acuan domestik |
| Penawaran lelang 4 Agu 2026 | >Rp 70 triliun | Total bid |
| Penyerapan pemerintah | ~Rp 32 triliun | Nominal diterima |
| Rupiah | Rp 17.800-17.900/USD | Zona risiko kurs |
Angka-angka di atas menegaskan bahwa dayatarik imbal hasil masih utuh. Namun pelaku pasar tetap memantau apakah aliran luar negeri akan mengisi sisa kuota di lelang berikutnya.
Peran investor asing dan risiko kurs Rupiah
Meski basis domestik kuat, aliran asing dinilai sebagai variabel yang menentukan arah harga. Jika partisipasi nonresiden melambat, tekanan sedikit menaikkan yield bisa muncul meski tidak harus tajam.
Rupiah di pita Rp 17.800-Rp 17.900 per dolar AS berpotensi membuat sebagian investor meminta kompensasi tambahan. Risiko nilai tukar itu menjadi alasan utama mengapa appetite asing dipantau ketat sebelum lelang.
Bagi pelaku UMKM dan pengelola kas institusi lokal, stabilitas di 7,22%-7,30% memberi acuan bagi penempatan dana berjangka menengah. Mereka dapat memanfaatkan likuiditas bank yang memadai tanpa menunggu pelemahan besar di pasar sekunder.







