Yogyakarta, Optimaise News – Hampir 300 pekebun sawit rakyat di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, berpeluang melipatgandakan hasil tandan buah segar mereka tanpa harus menambah anggaran besar. Penerapan GAP Bisa Dongkrak Produktivitas TBS Sawit Rakyat dari kisaran 20 ton per hektare per tahun menjadi 30 ton lewat praktik budi daya yang lebih efisien.
Inti artikel
- Program SDMP 2026 ini menargetkan perubahan nyata di kebun rakyat yang selama ini masih di bawah standar produksi
- Wakil Direktur AKPY Idum Satia Santi menekankan bahwa lonjakan hasil tidak selalu memerlukan modal ekstra
- Yang dibutuhkan adalah cara memakai pupuk lebih hemat, mengatur tenaga kerja, serta memanfaatkan sarana produksi secara optimal
Pelatihan teknis digelar 2, 7 Agustus 2026 di Balikpapan oleh Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan dan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian. Program SDMP 2026 ini menargetkan perubahan nyata di kebun rakyat yang selama ini masih di bawah standar produksi.
Fokus efisiensi tanpa tambah biaya besar
Wakil Direktur AKPY Idum Satia Santi menekankan bahwa lonjakan hasil tidak selalu memerlukan modal ekstra. Yang dibutuhkan adalah cara memakai pupuk lebih hemat, mengatur tenaga kerja, serta memanfaatkan sarana produksi secara optimal.
Ia menambahkan, pengalaman lapangan petani wajib disandingkan dengan data dan temuan riset. Dengan begitu mereka paham mengapa benih unggul dipilih, bagaimana dosis pupuk disusun, serta bagaimana menjaga kesehatan tanah agar produksi stabil.
Materi yang disampaikan mencakup seleksi benih unggul, pemupukan berimbang, pemanfaatan bahan organik, pengendalian gulma dan organisme pengganggu tanaman, penggunaan pestisida secara bijak, serta pemeliharaan tanaman secara rutin. Setiap topik dirancang agar mudah diterapkan di lahan berskala kecil.
Paser masih di bawah 20 ton, target minimal 30 ton

Kepala dinas terkait di Paser, Djoko Bawono, mengakui produktivitas sawit rakyat setempat masih belum mencapai 20 ton TBS per hektare tiap tahun. Target minimum yang ingin digapai adalah 30 ton agar pendapatan pekebun lebih layak.
Menurutnya, ilmu yang diterima di kelas dan di lapangan harus langsung dipraktikkan di kebun masing-masing peserta. Tanpa penerapan nyata, pelatihan hanya menjadi formalitas tanpa dampak ekonomi.
Optimaise News mencatat pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan UMKM kebun sawit yang sering terkendala modal. Efisiensi input menjadi jalan utama menaikkan marjin tanpa menambah utang atau biaya operasional.
Praktik lapangan dan kunjungan kebun mitra

Selain sesi di kelas, 298 peserta ikut praktik langsung serta kunjungan ke kebun PT Waru Kaltim Plantation dan PT Sukses Tani Nusasubur yang berada di bawah Astra Agro Lestari. Mereka melihat penerapan standar di kebun yang sudah mapan.
Program budi daya sendiri terdiri atas 10 kelas. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari lima kelas panen dan pascapanen sebelumnya. Total pekebun Paser yang dilatih sepanjang 2026 mencapai 556 orang.
Dengan rangkaian tersebut, pekebun diharapkan mampu mengukur sendiri hasil panen, mencatat dosis pupuk, dan menyesuaikan jadwal perawatan. Data sederhana ini menjadi jembatan antara pengalaman tradisional dan rekomendasi ilmiah.







