PBNU Siapkan Santri Jadi Peer Educator Kespro usai Halaqah

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama lewat Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama baru saja menutup Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri Batch II di Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah, Pasuruan, 30 Juli

Author Image

Nurul

PBNU Siapkan Santri Jadi Peer Educator Kespro usai Halaqah

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama lewat Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama baru saja menutup Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri Batch II di Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah, Pasuruan, 30 Juli 2026. Kini perhatian bergeser ke peta jalan lanjutan: Training of Trainers untuk ustaz-ustazah, uji coba modul di pondok, lalu pelatihan santri sebagai pendidik sebaya yang diarahkan selesai akhir tahun ini atau paling lambat tahun depan.

Inti artikel

  • Alissa Qatrunnada Wahid menegaskan rangkaian itu bukan sekadar pelatihan formal
  • Ruang pengasuhan yang sudah melekat di pondok menjadi tumpuan utama agar nilai dan perkembangan pribadi berjalan beriringan
  • Pesantren menyatukan dua fungsi yang jarang dimiliki lembaga lain: pendidikan terstruktur dan pengasuhan harian yang intens

Alissa Qatrunnada Wahid menegaskan rangkaian itu bukan sekadar pelatihan formal. Tujuannya agar santri punya bekal mengambil keputusan terbaik soal tubuh dan relasi, sekaligus menutup celah kekerasan seksual di lingkungan pesantren. Ruang pengasuhan yang sudah melekat di pondok menjadi tumpuan utama agar nilai dan perkembangan pribadi berjalan beriringan.

Mengapa Ruang Pengasuhan Pesantren Jadi Modal Utama Kespro

Pesantren menyatukan dua fungsi yang jarang dimiliki lembaga lain: pendidikan terstruktur dan pengasuhan harian yang intens. Alissa menyebut kombinasi itu strategis karena pengasuh bisa menanamkan nilai keagamaan sambil mendampingi perubahan fisik dan psikis santri secara langsung. Transmisi nilai dan penyiapan perkembangan personal tak perlu dipisah, melainkan dijalankan dalam satu irama kehidupan pondok.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 30 persen peserta didik kelas 7 dan 10 mengalami anemia yang kerap terkait growth spurt dan citra tubuh. Di ruang pengasuhan, isu semacam itu bisa dijawab dengan pendekatan yang akrab, bukan hanya lewat ceramah sesekali. Pengasuh muda bahkan punya kesempatan mengaitkan materi klasik seperti Uqudul Lujain dengan kebutuhan kesehatan hari ini tanpa kehilangan kerangka kemaslahatan.

Celak Informasi Seksual Remaja yang Harus Ditutup di Pondok

Celak Informasi Seksual Remaja yang Harus Ditutup di Pondok
Ilustrasi celak Informasi Seksual Remaja yang Harus Ditutup di Pondok.

Banyak remaja kini terpapar informasi perilaku seksual dari luar tanpa bekal memahami perkembangan diri. Celah itu berisiko besar jika dibiarkan di lingkungan pondok yang mestinya aman. Pendidikan kesehatan reproduksi ditekankan bukan semata soal organ tubuh, melainkan kemampuan menimbang pilihan terbaik agar terhindar dari madharat.

Halaqah Batch II di Pasuruan mengingatkan bahwa santri butuh peta yang jelas sebelum menghadapi tekanan media dan pergaulan. Modul yang disusun GKMNU mencoba menutup celah tersebut dengan bahasa yang sesuai kultur pesantren. Dengan begitu, keputusan reproduksi yang sehat bisa tumbuh dari dalam, bukan dipaksakan dari luar.

Urutan Program: Halaqah, TOT Asatidz, Lalu Peer Educator

Urutan Program: Halaqah, TOT Asatidz, Lalu Peer Educator
Ilustrasi Urutan Program: Halaqah, TOT Asatidz, Lalu Peer Educator.

Setelah halaqah di Bayt Al Hikmah, urutan langkah sudah dipetakan dengan tegas. Tahap pertama adalah Training of Trainers bagi asatidz agar mereka menguasai modul dan metode penyampaian. Baru kemudian ada contoh implementasi di beberapa pondok sebagai uji coba nyata di lapangan.

Baru setelah pondok-pondok percontohan berjalan, pelatihan santri sebagai peer educator atau pendidik sebaya akan digelar. Target waktunya akhir 2026 atau paling lambat tahun depan, sesuai pernyataan Alissa. Urutan ini memberi gambaran utuh bagi pengasuh dan orang tua: bukan sekadar acara sekali jalan, melainkan rantai aksi yang berkesinambungan.

Sintesis peta jalan tersebut menjadi bekal praktis. Pengasuh bisa mempersiapkan diri lebih awal, sementara santri senior yang potensial sudah bisa diidentifikasi untuk dilatih sebagai pendidik sebaya. Dengan begitu, edukasi tak berhenti di level pengasuh saja.

Gus-Ning dan Bu Nyai Muda sebagai Ujung Tombak Edukasi Digital

Pengasuh muda dari kalangan gus dan ning didorong aktif memakai media sosial untuk menyebarkan materi kesehatan reproduksi. Mereka akrab dengan platform digital dan bisa menjangkau santri serta orang tua di luar tembok pondok. Sejumlah bu nyai, meski generasi sepuh sering dianggap kesulitan teknologi, ternyata sudah mampu membuat konten edukasi yang relevan.

Fakta itu membuka peluang praktis: siapa yang paling siap memulai? Jawabannya jelas gus-ning dan bu nyai yang sudah terbiasa produksi konten. Mereka bisa menjadi jembatan antara modul formal dan percakapan sehari-hari di media sosial. Pendekatan ini memperluas jangkauan tanpa meninggalkan akar pesantren.

Apa yang Berubah bagi Santri setelah Modul Kespro Berjalan

Ketika modul dijalankan utuh, santri diharapkan lebih mampu membaca tanda-tanda perkembangan diri dan menolak tekanan yang merugikan. Keputusan soal kesehatan reproduksi tak lagi digantungkan pada informasi acak, melainkan pada pemahaman yang dilandasi nilai. Pencegahan kekerasan seksual pun punya fondasi lebih kuat karena kesadaran tumbuh dari dalam komunitas.

Harapan jangka panjang adalah integrasi materi ke kurikulum pesantren, dilengkapi tinjauan kitab klasik agar tak terasa asing. Peer educator akan menjadi perpanjangan tangan yang dekat dengan teman sebaya. Hasilnya, ruang pengasuhan yang semula hanya menjaga adab kini juga menyiapkan santri menghadapi realitas tubuh dan relasi secara bijak.

Dengan peta jalan yang sudah jelas dari halaqah Batch II hingga peer educator, GKMNU di bawah PBNU memberi sinyal bahwa pendidikan kesehatan reproduksi di pesantren bukan wacana sesaat. Ia menjadi bagian dari pengasuhan yang utuh, siap diuji di pondok-pondok, dan dilanjutkan oleh generasi santri sendiri.

Nurul
Redaktur Teknologi

Nurul adalah redaktur teknologi Optimaise News. Meliput gadget, laptop, handphone, spesifikasi, dan harga perangkat untuk pembaca yang banding-banding sebelum beli. Fokus pada fakta spek, rentang harga, dan konteks pemakaian (kerja, kuliah, gaming ringan).