MUI mendorong pemanfaatan AI agar dakwah lebih efektif di era digital. Keseimbangan manusia-AI menjadi kunci: AI membantu efisiensi produksi konten sambil menegaskan oversight manusia dan daya kritis generasi muda. Bukan sekadar seruan manfaatkan teknologi, tapi dengan penekanan tanggung jawab manusia tetap utuh.
Inti artikel
- MUI mendorong pemanfaatan AI agar dakwah lebih efektif di era digital
- Bukan sekadar seruan manfaatkan teknologi, tapi dengan penekanan tanggung jawab manusia tetap utuh
- Ismail Fahmi, Wakil Ketua Bidang Riset Digital Komisi Infokomdigi MUI, menilai AI mengubah cara masyarakat memperoleh informasi
Ismail Fahmi, Wakil Ketua Bidang Riset Digital Komisi Infokomdigi MUI, menilai AI mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Melalui aplikasi ini, konten dakwah bisa diproduksi lebih cepat, termasuk mengolah rekaman ceramah menjadi video berdurasi singkat. Namun, efisiensi ini tidak boleh mengorbankan kualitas dan kesesuaian ajaran Islam.
AI sebagai Mitra Produksi, Bukan Pengganti Otoritas Dakwah
AI diposisikan sebagai alat bantu produktivitas untuk kerja, belajar, dan berdakwah. Komisi Infokomdigi MUI melihat teknologi ini sebagai mitra yang membantu percepat proses produksi konten keagamaan. Contohnya, satu rekaman ceramah yang tadinya memakan waktu berjam-jam bisa diproses AI dalam hitungan menit menjadi konten pendek yang siap dibagikan.
Seluruh konten hasil AI wajib ditinjau manusia agar informasi, kutipan, dan penjelasan akurat serta sesuai ajaran Islam. Tanggung jawab akhir isi dan pesan tetap berada pada manusia, bukan pada mesin. Ini menjadi prinsip utama agar dakwah tetap memiliki otoritas yang sah.
Review Manusia Wajib sebelum Konten Keagamaan Dipublikasikan

Sebelum konten AI dipublikasikan, review manusia harus menjadi tahap krusial. Lembaga dakwah seperti MUI menekankan agar tidak ada informasi yang menyimpang atau kutipan yang tidak sesuai. Proses ini melibatkan pemeriksaan mendalam terhadap setiap poin agar tetap mencerminkan nilai-nilai keislaman yang moderat.
Optimaise News mencatat bahwa pendekatan ini mencegah potensi kesalahan yang bisa terjadi saat mengandalkan AI secara langsung. Manusia tetap bertanggung jawab penuh atas akurasi dan kebenaran pesan yang disampaikan kepada umat.
Generasi Muda Diminta Jaga Berpikir Kritis di Era AI

Generasi muda diminta tidak bergantung penuh pada AI. Berpikir kritis harus menjadi bekal utama agar mereka tidak kehilangan kemampuan analisis saat menghadapi konten digital. AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti proses berpikir manusia.
Komisi Infokomdigi MUI menyampaikan pentingnya membangun kemampuan ini sejak dini. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya memanfaatkan AI untuk produktivitas, tapi juga tetap menjaga integritas pemahaman agamanya sendiri.
Kuasai AI untuk Sebar Islam Wasathiyah dan Tradisi Keilmuan Nusantara
KH Masduki Baidlowi, Ketua MUI Bidang Infokomdigi, menilai AI alat efektif bila dikuasai dengan baik. Teknologi ini bisa digunakan untuk menyebarkan pesan Islam moderat, yaitu wasathiyah, serta tradisi keilmuan Nusantara yang kaya. Penguasaan AI akan memudahkan penyampaian konten yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.
Optimaise News menyoroti bahwa pendekatan ini memungkinkan lembaga keagamaan lebih luas jangkauan tanpa mengorbankan esensi ajaran. AI membantu memperkaya konten dakwah dengan pendekatan yang lebih dinamis dan terukur.
Lembaga Keagamaan Harus Sesuaikan Strategi di Tengah Perubahan Informasi
Lembaga keagamaan seperti MUI harus terus menyesuaikan strategi dakwah dengan perkembangan informasi berbasis AI. Pendekatan ini mencakup pemanfaatan teknologi untuk mendukung literasi Islam sekaligus memperkuat syiar. Adaptasi strategi menjadi keharusan agar tetap relevan di tengah transformasi digital.
Proses ini melibatkan pemantauan terhadap perubahan perilaku masyarakat yang semakin bergantung pada konten berbasis AI. Lembaga keagamaan perlu merancang langkah konkret agar tetap terdepan dalam menyampaikan pesan yang tepat.







