Jakarta, Optimaise News – Nigeria dulu menguasai hampir setengah suplai minyak sawit dunia, tapi kini hanya menyumbang dua persen. Negara itu berutang banyak pada Malaysia dalam mencari solusi defisit impor yang mencapai lebih dari satu juta ton.
Inti artikel
- Nigeria dulu menguasai hampir setengah suplai minyak sawit dunia, tapi kini hanya menyumbang dua persen
- Negara itu berutang banyak pada Malaysia dalam mencari solusi defisit impor yang mencapai lebih dari satu juta ton
- Kebutuhan minyak sawit nasional mencapai 2,7 juta ton, sementara produksi domestik hanya 1,5 juta ton
Kebutuhan minyak sawit nasional mencapai 2,7 juta ton, sementara produksi domestik hanya 1,5 juta ton. Defisit ini harus dipenuhi impor dari Malaysia dan Indonesia dengan biaya belanja 155 juta dolar AS sepanjang 2024.
Perubahan Menyulitkan Pasokan Dalam Negeri
Nigeria yang dulu memasok 43 persen minyak sawit dunia kini hanya menyumbang sekitar dua persen dari total pasokan CPO global. Ketimpangan produksi versus permintaan semakin terasa karena permintaan domestik yang tinggi, sehingga selisih lebih dari satu juta ton harus dipenuhi melalui impor dari luar negeri.
Presiden Organisasi Produsen Kelapa Sawit Nigeria OPGAN Joe Onyiuke menegaskan adanya masalah ketimpangan tersebut yang berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan minyak nabati dalam negeri. Sekitar 80 persen produksi sawit nasional masih bergantung pada petani kecil yang mengelola tanaman secara metode tradisional dan semi liar.
Malaysia Jadi Contoh Produkivitas Tinggi
Malaysia berhasil mencapai produksi 20,28 juta ton minyak sawit pada 2025 sambil mengekspor ke lebih dari 150 negara. Modal yang dimiliki perkebunan skala besar, teknologi terkini, dan sistem pengelolaan yang efisien membuat Malaysia menjadi pusat referensi.
Kebutuhan transfer teknologi dan kerja sama penelitian bibit unggul menjadi langkah krusial agar Nigeria bisa meningkatkan produksi tanpa mengandalkan impor terus-menerus.
Koordinasi Import dan Implementasi Praktis
Defisit satu juta ton ini dihadapi dengan impor rutin dari Malaysia dan Indonesia, yang juga menyumbang sekitar miliar devisa ekspor. Nigeria membeli sawit pada 2024 dengan anggaran 155 juta dolar AS untuk mengurangi kekurangan.
Manfaat bagi Petani Kecil dan Industri Nasional
Metode tradisional yang masih mendominasi produksi nasional perlu didukung melalui program pelatihan dan alokasi bibit modern. Dengan dukungan kontribusi Malaysia, petani kecil Indonesia memiliki kesempatan menikmati manfaat dari program ini.
Malaysian palm oil council mpoc juga membuka kantor perwakilan lagos untuk memantau pertumbuhan penduduk dan ekspansi industri pangan lokal.
Selanjutnya, negara-negara berpotensi bergabung dalam membangun rantai pasok lengkap yang mendukung sekitar tiga juta lapangan kerja baru.




