Karawang, Optimaise News – Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda telah menempatkan nama dirinya di nisan lebar yang sama dengan mendiang suaminya Benny Laos di San Diego Hills, Karawang. Tindakan itu terungkap lewat rekaman ziarah keluarga yang menyebar ke publik pada 2 Maret 2025, memperlihatkan sisi kiri sudah diisi identitas Benny sementara sisi kanan sudah dipasangi nama Sherly.
Inti artikel
- Sherly kemudian dilantik menggantikan posisi tersebut, meski sempat terhambat luka bakar di kaki dan pinggul
- Optimaise News mencatat bahwa penghormatan keluarga kini berlangsung lewat cara yang lebih terstruktur
- Liang makam di sisi kanan nisan Benny Laos disiapkan khusus oleh Sherly Tjoanda
Peristiwa tersebut bertaut erat dengan pergantian kursi gubernur setelah Benny Laos tewas dalam kebakaran speedboat saat masih berstatus calon. Sherly kemudian dilantik menggantikan posisi tersebut, meski sempat terhambat luka bakar di kaki dan pinggul. Optimaise News mencatat bahwa penghormatan keluarga kini berlangsung lewat cara yang lebih terstruktur.
Nisan Bersama di San Diego Hills Jadi Titik Keluarga
Liang makam di sisi kanan nisan Benny Laos disiapkan khusus oleh Sherly Tjoanda. Lokasi pemakaman di Karawang itu menjadi tempat yang dipilih keluarga untuk mengukuhkan kebersamaan abadi. Rekaman yang beredar memperlihatkan nisan berukuran lebar dengan dua ruang nama yang sudah lengkap.
Kehadiran nama Sherly di situ tidak hanya simbolis. Keluarga menjadikan tempat tersebut sebagai destinasi rutin. Mereka datang hampir setiap Minggu, merawat area pusara, dan menabur bunga sebagai bentuk penghormatan. Praktik ini dimulai empat bulan setelah Benny Laos meninggal dunia dan terus berjalan tanpa terputus.
Bagi pembaca yang mengikuti dinamika kepemimpinan daerah, langkah ini menandai transisi yang personal sekaligus publik. Sherly menempuh proses pemulihan fisik sambil menjalankan amanah gubernur. Nisan ganda itu seolah menegaskan bahwa kehidupan rumah tangga mereka tetap menjadi bagian dari narasi politik Maluku Utara.
Ziarah Ulang Tahun 8 Agustus dengan Busana Putih

Pada 8 Agustus yang bertepatan dengan hari kelahiran Benny Laos, Sherly Tjoanda beserta anak-anak datang memakai pakaian serba putih. Mereka menaburkan bunga di atas pusara sambil menghabiskan waktu lebih lama di lokasi. Suasana khidmat itu terekam dalam beberapa potongan dokumentasi keluarga yang kemudian beredar luas.
Putri Cece Lyn menjelaskan bahwa momen tersebut sudah menjadi kebiasaan baru. Mereka hadir seolah ayah masih duduk di tengah percakapan. Keluarga berbicara tentang kegiatan sehari-hari, tantangan di kantor, hingga rencana masa depan anak-anak. Ritual bercerita ini menenangkan dan menjaga ikatan emosional tetap hidup.
Pakaian putih dipilih bukan sekadar estetika. Warna itu melambangkan kesucian doa dan kesederhanaan penghormatan. Setelah menabur bunga, keluarga biasanya berdiam sejenak sebelum meninggalkan area makam. Kegiatan ini sudah berlangsung rutin setiap hari Minggu, namun ziarah yang jatuh di ulang tahun mendiang terasa lebih istimewa.
Ritual Mingguan yang Menjaga Kedekatan

Sejak empat bulan pasca kepergian Benny, agenda ziarah setiap Minggu dijalankan konsisten. Keluarga berangkat bersama, merawat nisan, lalu duduk melingkar. Cece Lyn menekankan bahwa mereka datang untuk bercerita seolah sang ayah masih hadir di samping mereka. Rutinitas itu memberi ruang emosi yang tidak tersedia di lingkungan formal gubernur.
Sherly sendiri sempat kesulitan bergerak akibat luka bakar di kaki dan pinggul. Meski demikian, ia tetap hadir dalam hampir semua ziarah. Dukungan anak-anak membuat perjalanan ke Karawang terasa lebih ringan. Mereka membawa bunga segar dan kadang menempatkan foto kenangan di dekat nisan.
Bagi UMKM dan warga yang sering mengikuti kabar pejabat daerah, pola penghormatan semacam ini memberi contoh manajemen duka yang terbuka. Tidak ada upacara mewah, hanya kehadiran konsisten. Optimaise News melihat bahwa kesederhanaan tersebut justru memperkuat pesan tentang kontinuitas keluarga di tengah transisi jabatan.







