MSCI Inc. mengeluarkan enam emiten Bursa Efek Indonesia dari MSCI Global Standard Index pada evaluasi Mei 2026 yang berlaku efektif 13 Mei. Saham yang tersingkir mencakup Amman Mineral Internasional (AMMN), Barito Renewables Energy (BREN), Chandra Asri Pacific (TPIA), Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), serta Sumber Alfaria Trijaya (AMRT).
Inti artikel
- mengeluarkan enam emiten Bursa Efek Indonesia dari MSCI Global Standard Index pada evaluasi Mei 2026 yang berlaku efektif 13 Mei
- Perubahan keanggotaan indeks global semacam ini kerap menjadi sorotan investor asing karena memengaruhi alokasi dana pasif
- Evaluasi berkala MSCI Global Standard Index biasanya mempertimbangkan freefloat, likuiditas, dan kapitalisasi pasar
Meski keluar dari indeks acuan itu, AMMN justru membukukan lonjakan laba bersih Semester I 2026 mencapai 495,2 juta dolar AS atau sekitar Rp8,91 triliun, naik 295 persen dari periode sama tahun sebelumnya berkat volume produksi tembaga dan emas Fase 7 Batu Hijau plus harga emas global yang tinggi.
Konteks MSCI Indonesia Index dan Perannya di Pasar Modal
Perubahan keanggotaan indeks global semacam ini kerap menjadi sorotan investor asing karena memengaruhi alokasi dana pasif. MSCI Indonesia Index merupakan acuan utama yang dilirik manajer investasi internasional, sehingga penyesuaian mid-year 2026 langsung berimbas pada likuiditas saham-saham terkait. Optimaise News mencatat, langkah MSCI ini menegaskan kembali seberapa sentral MSCI dan perannya dalam menentukan arus modal di bursa tanah air.
Evaluasi berkala MSCI Global Standard Index biasanya mempertimbangkan freefloat, likuiditas, dan kapitalisasi pasar. Keenam emiten tersebut tidak lagi memenuhi kriteria setelah peninjauan, meskipun beberapa di antaranya masih mencatatkan kinerja keuangan positif. Situasi ini membuka ruang diskusi tentang seberapa jauh keluarnya dari indeks bergengsi memengaruhi persepsi nilai saham jangka pendek.
AMMN dan BREN Cetak Laba Positif Usai Penyesuaian Indeks

AMMN menorehkan hasil istimewa di tengah status baru. Laba bersih 495,2 juta dolar AS setara Rp8,91 triliun (kurs Rp18.000) melesat 295 persen year-on-year. Pendorong utama adalah kenaikan volume produksi tembaga dan emas dari Fase 7 proyek Batu Hijau, ditambah harga jual rata-rata emas global yang mendukung di paruh pertama 2026.
Sementara BREN membukukan laba bersih 61,54 juta dolar AS atau sekitar Rp1,11 triliun. Angka itu tumbuh 6,2 persen dibanding semester I 2025. Pertumbuhan tipis ditopang operasional penuh PLTP Wayang Windu, Salak, dan Darajat, meskipun beban penyusutan naik akibat modernisasi turbin. Kedua emiten ini menunjukkan fundamental operasional tetap solid meski status indeks berubah.
DSSA, CUAN, dan AMRT juga termasuk dalam daftar yang dikeluarkan. Data keuangan rinci untuk ketiganya di semester ini tidak tersedia dalam laporan ringkas, namun status mereka di MSCI Global Standard Index sudah final per 13 Mei 2026. Investor lokal biasanya memantau reaksi harga harian setelah pengumuman semacam ini.
TPIA Jadi Pengecualian dengan Kerugian Bersih
Di antara enam emiten yang terlempar, TPIA menjadi satu-satunya yang mencatat laba bersih negatif di Semester I 2026. Perusahaan itu membukukan rugi bersih US$38,4 juta atau sekitar Rp691 miliar. Kondisi ini berbeda mencolok dari AMMN dan BREN yang masih hijau.
Rugi TPIA muncul di saat penyesuaian indeks berlangsung, sehingga investor mungkin menimbang ulang posisi pada saham petrokimia tersebut. Tidak ada rincian tambahan soal penyebab rugi di fact sheet, namun angka tersebut menjadi penanda kontras paling jelas di grup yang dikeluarkan MSCI.







