Jakarta, Optimaise News – Lionel Messi terpukul berat kepergian sang ayah, Jorge Messi, yang meninggal pada 8 Agustus 2026 di Rosario, Argentina. Pemain berusia 39 tahun itu kini kerap merenungkan masa depan karier di Inter Miami setelah kehilangan sosok paling dekat sejak kecil.
Inti artikel
- Lionel Messi terpukul berat kepergian sang ayah, Jorge Messi, yang meninggal pada 8 Agustus 2026 di Rosario, Argentina
- Pemain berusia 39 tahun itu kini kerap merenungkan masa depan karier di Inter Miami setelah kehilangan sosok paling dekat sejak kecil
- Dalam pesan emosional tersebut, ia menulis, “Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpamu, bagaimana aku akan melanjutkannya.”
Messi menyatakan melalui unggahan di akun media sosialnya bahwa ia belum siap melangkah maju tanpa ayah yang menjadi segenap segalanya, ayah, pelatih pertama, dan agen bisnisnya. Dalam pesan emosional tersebut, ia menulis, “Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpamu, bagaimana aku akan melanjutkannya.”
Proses kehilangan dimulai sejak pertama pada Sabtu dini hari, ketika Jorge Messi wafat di usia 68 tahun di Sanatorio Centro. Dikebumikan secara tertutup dua hari kemudian di pemakaman Perez, pinggiran Rosario, dengan Messi langsung datang memberikan penghormatan terakhir.
Kronologi kehilangan yang mencengangkan
Sepeninggal ayahnya, Messi mengaku kehilangan pedoman dan motivasi setiap hari. Kesehatan Jorge menurun sejak awal 2026 dan semakin parah jelang Piala Dunia yang dijadwalkan digelar di sejumlah negara, sehingga ayahnya tak bisa menyaksikan turnamen itu. Mario Mess dinyatakan tidak hadir di final setelah Argentina kalah dari adu penalti.
Messi melanjutkan, “Aku ingin sekali menang supaya bisa membawa itu pulang dan memperlihatkan trofi baru itu kepada Ayah. Tetapi aku tak bisa; kakiku sudah tidak sanggup lagi. Kali ini aku mencoba memaksakan diri, tetapi tidak bisa. Kondisiku tak pernah benar-benar fit.” Pesan itu menyebar luas dan langsung menimbulkan kekhawatiran di kalangan suporter maupun media olahraga.
Peran Jorge sebagai ayah sekaligus pelatih

Selama ini, Jorge Messi adalah segalanya bagi Lionel. Ia mengantar si kecil ke setiap sesi latihan, mendampingi meski sedang bekerja sebagai pengusaha. Kekhawatiran Jorge saat putranya didiagnosa masalah hormon pertumbuhan membuatnya yakin Messi butuh perawatan terbaik. Hasilnya, bakat si bocah berbuah di Barcelona.
Setelah putranya maju, Jorge Messi terlibat sebagai manajer bisnis dan penerus mantan pemain AS Milan itu. Ia tak hanya memberikan nasihat tentang kehidupan keluarga, tapi juga mendampingi segala sesuatu yang menyangkut karier profesional. Setiap gol dan setiap gelar menjadi momen yang dibagikan, bahkan sampai Piala Dunia 2022.
Harapan Piala Dunia yang batal disaksikan
Sejak Messi kembali ke Inter Miami pada 2024, Jorge selalu berjanji akan datang jika bisa. Namun karena kondisinya memburuk, ia akhirnya tak bisa lagi bepergian. Sementara itu, Argentina berhasil meraih final Piala Dunia 2026, di mana Messi sangat ingin membawa trofi itu pulang.
Pada saat itu, Jorge Messi sudah berada di rumah sakit dan tak bisa menyaksikan gol-gol putranya yang akhirnya membuat argentinata ke final. “Kami berhasil mencapai final, tetapi Ayah tak bisa hadir di sana,” ujar Messi saat mengingat kembali hari-hari yang sama.
Penampilan perdana sebagai pengganti
Belum lama ia resmi bergabung, Messi didorong ke lapangan sebagai pengganti di pertandingan Liga Cup melawan Club León. Dalam laga yang berakhir kalah 2-3, ia langsung mencetak tiga tembakan tepat sasaran. Sembari menjelang keluar duka, pelatih Inter Miami menyatakan tidak akan memaksa tim ini bermain segera.
Sikap ini mendapat respons positif dari publik. Bagi keluarga dan fan, ia dianggap sikap dewasa yang baik. Meski demikian, keraguan Messi yang muncul di pesan baru itu tetap membuat tim penasaran.
Apa yang berarti bagi sisa karier usia 39 tahun?
Sisa kontrak Messi di Inter Miami masih hingga 2028, dengan gaji pokok dilaporkan US$25 juta per musim. Musim lalu ia membantu tim meraih MLS Cup pertama kali sekaligus jadi MVP dua kali berturut-turut. Namun sekarang, lewat duga-cuang emosional, terasa jelas bagaimana hubungan emosional sang ayah menjadi salah satu mesin pendorong motivasi terbesarnya.
Bagi Inter Miami, situasi ini menjadi tantangan sekaligus pendorong. Tim berharap dukungan dari Messi masih kuat, sementara pelatih kepala menyatakan saatnya fokus pada hasil sebagai tim dan meninggalkan jeda yang wajar bagi sang kapten.
Optimaise News mencatat bahwa keraguan Messi ini akan menjadi bahan diskusi lama di dunia sepak bola. Meski usia 39 tahun masih relatif muda untuk berhenti bermain, rahasia dalam hatinya kini menunjukkan bahwa sepak bola bukanlah segalanya, adik untuknya adalah keluarga yang selalu menyadari.
Setiap kali bermain, Messi akan selalu merindukan ayahnya yang telah berani mengawalinya dari nol. Semoga hari-harinya berikutnya menemukan kedamaian yang membuatnya siap melangkah maju, meski taklah mudah.







