Banyuwangi, Optimaise News – Pelajar pria berinisial MD dari SMK Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, muncul ke publik lewat video klarifikasi. Ia menegaskan permintaan maafnya murni tanpa paksaan setelah suara bernada erotis viral memicu keprihatinan orang tua dan investigasi polisi.
Inti artikel
- Pelajar pria berinisial MD dari SMK Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, muncul ke publik lewat video klarifikasi
- Rekaman yang disebut-sebut dari video syur singkat itu sempat menjadi perbincangan hangat
- MD memilih bicara langsung agar nama sekolah dan teman-temannya tidak terus tercoreng
Rekaman yang disebut-sebut dari video syur singkat itu sempat menjadi perbincangan hangat. MD memilih bicara langsung agar nama sekolah dan teman-temannya tidak terus tercoreng.
Isi Permohonan Maaf MD ke Teman dan Sekolah
Di video klarifikasi, MD secara terbuka meminta maaf karena perbuatannya telah membuat jelek nama baik sekolah. Ia juga menyampaikan penyesalan kepada seluruh teman sekelas dan pihak yang merasa terganggu oleh perbincangan publik yang muncul.
“Saya minta maaf karena telah membuat jelek nama sekolah. Saya meminta maaf kepada semua teman-teman dan semuanya,” ujar MD. Ia menegaskan, “Permintaan maaf ini tidak ada paksaan dari pihak manapun.”
Penekanan pada maaf bebas tekanan ini menjadi titik penting. Banyak orang tua di Banyuwangi khawatir anak-anak mereka ikut terdampak stigma dari kasus yang melibatkan pelajar di bawah umur.
Asal Suara Viral dari Grup WhatsApp Pelajar
Suara erotis dengan ucapan “yank wes yank” pertama kali beredar di media sosial Banyuwangi. Rekaman itu diduga berasal dari video syur berdurasi singkat yang menyebar di berbagai grup WhatsApp pelajar.
Dugaan kuat, video awalnya muncul di grup internal sekolah lalu merembet ke publik. Sedikitnya enam potongan video beredar dengan durasi bervariasi, dari 21 detik hingga 8 menit 53 detik. Peredaran diduga bermula dari tayangan live di aplikasi TikTok sebelum masuk ke grup chat.
Dua pelajar yang diduga terlibat masih di bawah umur. Situasi ini membuat masyarakat setempat merasa prihatin, terutama karena identitas anak mudah tersebar tanpa kendali.
Imbauan Polresta: Hentikan Sebar Identitas Anak
Polresta Banyuwangi segera merespons dengan imbauan tegas. Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan menekankan komitmen melindungi anak serta menangani perkara secara profesional, objektif, dan sesuai ketentuan hukum.
“Polresta Banyuwangi berkomitmen memberikan perlindungan kepada anak serta menangani setiap perkara secara profesional, objektif, dan sesuai dengan ketentuan hukum,” kata Rofiq. Ia meminta warga menghentikan penyebaran video demi menjaga privasi dan masa depan anak.
Rofiq juga mengingatkan agar tidak melakukan doxing atau menyebar identitas yang bisa mengidentifikasi anak. Langkah ini diambil agar proses hukum berjalan tanpa tekanan tambahan dari media sosial.
Status Penyidikan Dugaan Persetubuhan di Srono
Laporan resmi diterima SPKT Polresta Banyuwangi sejak 20 Juli 2026. Dugaan kejadian berpusat di Kecamatan Srono. Penyidik sudah mengamankan sejumlah rekaman video sebagai barang bukti.
Kasat Reskrim Kompol Lanang Teguh Pambudi menjelaskan penanganan mengikuti ketentuan anak berhadapan dengan hukum dan mengutamakan kepentingan terbaik anak. Status perkara kini ditingkatkan ke tahap penyidikan atas dugaan persetubuhan anak di bawah umur.
Polisi berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan. Penanganan diselaraskan dengan undang-undang perlindungan anak dan UU ITE agar tidak melanggar hak-hak anak yang masih sekolah.
Reaksi Warga dan Orang Tua atas Kasus Ini
Reaksi warga Srono dan sekitarnya cukup beragam. Seorang warga mengaku mendapat video dari teman dan memastikan suara di dalamnya sama persis dengan yang viral. Di sisi lain, versi laporan lain menyebut pria berinisial MA meminta maaf langsung kepada perempuan berinisial S yang menjadi korban sebar video.
Perbedaan inisial MD yang minta maaf ke sekolah dan teman versus MA yang fokus ke korban S menunjukkan laporan yang tercerai kini bisa disatukan. Sintesis ini memperjelas bahwa klarifikasi publik dan permintaan maaf ke korban berjalan beriringan.
Orang tua Farah Hastuti mengungkapkan keprihatinan mendalam. “Astaghfirullah, semoga tidak terjadi pada anak saya,” katanya. Banyak orang tua kini lebih waspada terhadap konten yang beredar di grup WhatsApp dan TikTok anak-anak mereka.
Kasus ini menjadi pengingat keras soal perlindungan privasi pelajar di media sosial. Dari sebaran di grup WhatsApp dan live TikTok, munculnya klarifikasi MD tanpa paksaan, imbauan polisi, hingga reaksi orang tua, semuanya menuntut tanggung jawab bersama agar masa depan anak tidak hancur hanya karena konten viral.







