Louis van Gaal mengaku mundur dengan berat hati dari jabatan penasihat Dewan Komisaris Ajax setelah menilai dirinya tidak dihargai. Ia menuturkan di wawancara Voetbal International bahwa struktur organisasi klub membebani setiap keputusan teknis dan membuat masukan sepak bolanya tak lagi terdengar.
Inti artikel
- Louis van Gaal mengaku mundur dengan berat hati dari jabatan penasihat Dewan Komisaris Ajax setelah menilai dirinya tidak dihargai
- Peran yang diembannya sejak 2023 berakhir pada Juli lalu
- Pada 2023, Michael van Praag yang saat itu ketua Dewan Komisaris sekaligus temannya meminta Louis van Gaal menjadi penasihat
Peran yang diembannya sejak 2023 berakhir pada Juli lalu. Optimaise News merangkum, fokus Van Gaal bukan sekadar undur diri, melainkan kritik tajam soal 16 orang yang ikut meninjau kebijakan, hilangnya pengaruh setelah Michael van Praag, serta perbandingan dengan jalur singkat di PSV.
Peran penasihat 2023 berakhir Juli: Louis van Gaal keluar setelah tiga tahun
Pada 2023, Michael van Praag yang saat itu ketua Dewan Komisaris sekaligus temannya meminta Louis van Gaal menjadi penasihat. Van Gaal setuju. Tiga tahun kemudian mantan pelatih Ajax, AZ, dan Bayern Munchen itu merasa cukup dan meletakkan tugas di Juli.
Menurutnya, masalah utamanya adalah organisasi kepengurusan Ajax, bukan sekadar kelelahan pribadi. Ia menekankan bahwa ia mau membantu klubnya, tapi posisi di luar lingkaran formal membuat perubahan sulit dilakukan.
16 orang ikut tinjau, dia di luar lingkaran: kenapa saran tak dipakai
Van Gaal menjelaskan ada enam belas orang yang harus ikut meninjau setiap keputusan, sementara dirinya berada di luar struktur itu. “Ada enam belas orang yang harus ikut meninjau setiap keputusan dan saya bahkan berada di luar itu. Pada akhirnya saya berpikir: saya hanya satu dari sekian banyak orang,” ujarnya.
Sumber yang dihimpun Optimaise News menambahkan rincian: jajaran direksi, dewan pengawas, dan dewan manajemen ikut campur. Dari 16 orang itu, hanya dua yang dinilai memiliki pengalaman sepak bola papan atas. “Setelah kepergian Van Praag dari Dewan Komisaris, nasihat-nasihat saya tidak pernah lagi dipakai. Saya tidak dihargai sebagaimana mestinya oleh Ajax,” lanjutnya.
Ia merasa kehadirannya dimanfaatkan sebagai tameng citra, mirip pengalaman Danny Blind yang keluar dari jajaran komisaris di awal tahun. Tanpa tanggung jawab formal, masukan teknis sulit dijalankan meski ia diminta “ikut berpikir”.
PSV singkat jalur, Ajax 1995 hanya 5-6 orang: model yang dirindukan
Van Gaal menunjuk PSV sebagai kontras. Di Eindhoven, jalur komunikasi dinilai sangat pendek, mirip Ajax era 1995 yang hanya lima atau enam orang mengambil keputusan. Ia menyinggung Marcel Brands yang pernah bekerja bersamanya di AZ, Toon Gerbrands, serta garis ke Earnest Stewart dan pelatih Peter Bosz.
Menurut Van Gaal, pelatih seharusnya orang terpenting dalam organisasi. Di Ajax dan Feyenoord ia melihat pelatih sering kurang berdaya membentuk skuad. Waktu terbuang untuk memberi tahu dan meminta persetujuan banyak organ membuat sepak bola yang bergerak cepat sulit diikuti.
Finis kelima Eredivisie dan prediksi bangkit lambat
Ajax musim lalu finis kelima di Eredivisie VriendenLoterij. Van Gaal menilai klub tidak akan cepat bangkit selama terlalu banyak pihak memengaruhi kebijakan.
Direksi seharusnya memutuskan, kata dia, tetapi dihambat karena setiap organ harus terus diinformasikan dan menyetujui. Proses itu memakan waktu terlalu lama untuk urusan penunjukan pelatih atau rekrutmen pemain. Inilah yang ia sebut sebagai akar kerumitan di Amsterdam.
Dari Ajax ke spekulasi Oranje: posisi Bondscoach dan sinyal KNVB
Di sisi lain, nama Louis van Gaal kembali dibahas untuk kursi pelatih Timnas Belanda setelah Ronald Koeman mundur. Van Gaal menegaskan belum ada kontak resmi dari KNVB. Michael Reiziger sempat dikabarkan hampir sepakat, lalu sejak berita itu muncul ia tidak mendengar kabar dari federasi.
“Saya selalu ingin membantu KNVB, dan saya melihat ada kemungkinan,” kata Van Gaal. “Saya pikir Belanda dengan skuad ini bisa menjadi juara Eropa atau juara dunia.” Ia menambahkan belum tahu apa yang diinginkan KNVB; minat pada jabatan itu terasa kecil, lalu namanya muncul kembali.
Ia sudah tiga kali melatih timnas Belanda. Jika mengambil pekerjaan baru, kemungkinan besar di luar negeri, meski ia merasa lebih bugar daripada 2022. Sintesis dari undur Ajax memperlihatkan pola yang sama: ia ingin pengaruh nyata, bukan posisi simbol. Spekulasi Bondscoach harus dibaca lewat lensa itu, tanpa memastikan tawaran yang belum ada.







