Surabaya, Optimaise News – Laurens Lekatompessy alias Pace memenuhi panggilan hukum dengan datang ke Polrestabes Surabaya Minggu (9/8/2026) malam. Penyerahan ini membuka babak pemeriksaan lanjutan atas keterlibatannya dalam pembacokan di area parkir Ambyar, Jalan Basuki Rahmat.
Inti artikel
- Laurens Lekatompessy alias Pace memenuhi panggilan hukum dengan datang ke Polrestabes Surabaya Minggu (9/8/2026) malam
- Penyerahan ini membuka babak pemeriksaan lanjutan atas keterlibatannya dalam pembacokan di area parkir Ambyar, Jalan Basuki Rahmat
- Kabar pembacokan dan pembuangan barang bukti cepat menyebar di kalangan persaudaraan
Insiden bermula Sabtu (25/7/2026) pukul 03.15 WIB ketika Feri (25) dan Didik (28), petugas valet sekaligus anggota PSHT, menolak menyerahkan Suzuki Karimun Wagon R yang menunggak cicilan. Kelompok debt collector diduga mengeroyok hingga keduanya menderita luka bacok; SL (36) sudah lebih dulu diamankan dan mengaku membuang parang plus baju merah ke Sungai Gunungsari.
Aksi 10.000 Massa PSHT Desak Transparansi Proses
Kabar pembacokan dan pembuangan barang bukti cepat menyebar di kalangan persaudaraan. Sekitar 10.000 massa PSHT kemudian menggelar aksi damai di Mapolrestabes Surabaya sekaligus mendatangi markas debt collector Maluku 1 Rasa di Jalan Teuku Umar. Kehadiran massa menuntut penuntasan kasus tanpa pandang bulu.
Reaksi massa mempercepat langkah aparat mengejar buronan. Konteks ini relevan bagi pelaku usaha malam dan UMKM transportasi di kota besar: sengketa cicilan sering memicu bentrok di tempat parkir hiburan. Optimaise News mencatat bahwa ketegasan aparat menjadi penentu apakah kepercayaan publik terhadap penegakan hukum di sektor jasa tetap terjaga.
AKP I Made Sutanaya, Kanit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya, memastikan Pace sudah berada dalam proses pemeriksaan. Fokus penyidik saat ini memetakan peran masing-masing orang dalam keroyokan, termasuk jalur distribusi senjata tajam yang dibuang ke sungai.
Sikap Profesional Kapolrestabes di Tengah Tekanan Massa
Kombes Luthfie Sulistiawan menegaskan setiap warga mendapat perlakuan hukum sama. Ia menolak adanya standar ganda antara korban valet dan pelaku. Penegasan itu dilontarkan usai aksi damai agar proses tetap profesional meski massa besar hadir di markas polisi.
Kasus valet yang mempertahankan unit bermasalah cicilan menggambarkan kerentanan pekerja lapangan di kawasan hiburan. Banyak pengusaha parkir dan pemilik tempat hiburan mulai mengevaluasi protokol penanganan debt collector agar petugas tidak berhadapan sendiri di dini hari.
Setelah SL diamankan dan mengaku membuang barang bukti, jalur sungai menjadi lokasi pencarian materiil. Pemeriksaan Pace kini dilengkapi keterangan saksi di lokasi Ambyar serta rekaman area parkir. Penyidik berharap rangkaian fakta mampu memperjelas motif dan urutan kejadian tanpa interupsi spekulasi luar.
Dampak ke Keamanan Jasa Valet dan UMKM Parkir
Bagi pemilik usaha mikro di sektor hiburan malam, peristiwa ini menjadi alarm. Konflik cicilan mobil sering meluas ke kekerasan fisik bila tidak ada prosedur mediasi yang disepakati. Pekerja valet yang juga anggota organisasi silat memiliki jaringan solid, sehingga setiap kekerasan cepat mendapat respons massa.
Pihak kepolisian terus menekankan bahwa proses berjalan tanpa favoritisme. Optimaise News memandang sinyal tersebut penting agar investor dan operator tempat hiburan tidak ragu menempatkan standar keamanan lebih ketat di area parkir. Evaluasi kamera, rotasi petugas, serta jalur pelaporan cepat ke polisi disebut-sebut sebagai langkah preventif.
Sementara itu, massa PSHT telah menunjukkan kendali dengan memilih aksi damai alih-alih konfrontasi. Momentum itu membantu aparat fokus pada barang bukti yang sudah dibuang ke Sungai Gunungsari dan pemeriksaan lanjutan Pace.







