Surabaya, Optimaise News – Ketua Komnas PA Surabaya Syaiful Bachri memanfaatkan Hari Anak Nasional 23 Juli 2026 untuk menagih komitmen kolektif menciptakan ruang aman anak. Momen ini tak boleh berhenti di seremoni belaka di tengah kasus bullying dan pelecehan seksual yang berulang di Kota Pahlawan.
Inti artikel
- Momen ini tak boleh berhenti di seremoni belaka di tengah kasus bullying dan pelecehan seksual yang berulang di Kota Pahlawan
- Surabaya memang berstatus kota layak anak, namun celah pelaku dari lingkungan terdekat korban masih menganga lebar
- Pola kekerasan anak di Surabaya memperlihatkan pengulangan yang mengkhawatirkan
Surabaya memang berstatus kota layak anak, namun celah pelaku dari lingkungan terdekat korban masih menganga lebar. Optimaise News mencatat desakan itu sejalan dengan 137 laporan kasus anak di Jawa Timur Januari-April 2026, di mana banyak korban memilih diam karena stigma keluarga dan sekolah.
Sorotan Komnas PA Surabaya soal pola kekerasan yang berulang
Pola kekerasan anak di Surabaya memperlihatkan pengulangan yang mengkhawatirkan. Pelaku sering datang dari orang terdekat seperti keluarga, pendidik, atau tokoh yang dipercaya.
Bullying di sekolah dan pelecehan seksual menjadi dua jenis kasus yang paling disorot. Status kota ramah anak belum menutup celah tersebut.
Contoh kasus melibatkan ayah tiri, guru, pengurus organisasi, hingga guru ngaji di pesantren. Anak sulit melawan karena kedekatan itu membuat mereka takut dan bingung.
Syaiful Bachri menekankan bahwa lingkungan terdekat justru paling rawan. Tanpa kewaspadaan bersama, predikat layak anak hanya jadi label di atas kertas.
Desakan hukuman maksimal dan pendampingan korban jangka panjang

Komnas PA Surabaya mendesak aparat hukum menerapkan hukuman maksimal. Efek jera harus terasa agar pelaku tidak mengulangi kejahatan serupa.
Bagi pelaku dari orang terdekat, tambahan sepertiga hukuman layak dipertimbangkan. Langkah itu memberi sinyal tegas bahwa pengkhianatan kepercayaan tak bisa ditoleransi.
Pemulihan trauma korban butuh waktu 5 hingga 6 tahun. Pendampingan psikologis jangka panjang menjadi keharusan, bukan pilihan.
Tanpa dukungan konsisten, luka batin bisa terbawa hingga dewasa. Lembaga terkait wajib hadir sejak tahap awal pelaporan hingga pemulihan selesai.
Peran keluarga hingga RT-RW agar anak berani bicara

Keluarga adalah benteng pertama agar anak berani bercerita. Orang tua perlu ciptakan suasana aman tanpa penghakiman saat anak membuka diri.
RT dan RW bisa memantau lingkungan sekitar. Tokoh masyarakat serta tokoh agama membantu deteksi dini tanda-tanda kekerasan atau kenakalan.
Checklist sederhana yang bisa langsung diterapkan: dengarkan aktif tanpa menyalahkan, laporkan segera ke pihak berwenang, libatkan sekolah, dan jaga kerahasiaan korban. Perlindungan dimulai dari rumah dan tetangga terdekat.
Gotong royong multi pihak membuat keberanian anak tumbuh. Tanpa itu, predikat kota ramah anak sulit diwujudkan di lapangan.
Tantangan kenakalan remaja yang bergeser ke kriminalitas
Kenakalan remaja di Surabaya kini bergeser ke arah kriminalitas serius. Geng, rokok, dan miras sering jadi pintu masuk tindakan melanggar hukum.
Isu ini berkaitan erat dengan pola kekerasan yang berulang. Anak yang terpapar kekerasan rentan terjerumus kenakalan lebih berat.
Program Pemkot seperti operasi rembulan dan makanan bergizi gratis sudah berjalan. Namun pencegahan akar masalah membutuhkan sintesis utuh antara penanganan kekerasan dan kenakalan.
Komnas PA melihat keduanya sebagai PR bersama yang belum digabung utuh. Momen Hari Anak Nasional 2026 menjadi saat tepat untuk menyatukan langkah.
Panggilan moral untuk generasi emas, bukan generasi cemas
Syaiful Bachri menyerukan panggilan moral agar bangsa ini hasilkan generasi emas, bukan generasi cemas. Ruang aman menjadi fondasi mutlak.
Setiap pihak bertanggung jawab, mulai orang tua, RT-RW, tokoh agama, hingga pejabat. Komitmen nyata harus diwujudkan sekarang, bukan ditunda.
Hari Anak Nasional 2026 mengingatkan bahwa masa depan bergantung pada perlindungan hari ini. Optimaise News mendukung desakan itu agar anak Surabaya tumbuh bebas rasa takut dan stigma.







