Malang, Optimaise News – Pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita pada Rabu 20 Agustus 2025 menilai program pendidikan rakyat setempat tertahan karena ruang gerak pemerintah kota yang sempit. Permintaan fisik seperti pagar pengaman tidak bisa dipenuhi instansi daerah.
Inti artikel
- Permintaan fisik seperti pagar pengaman tidak bisa dipenuhi instansi daerah
- Sebagai gantinya, aparat pemkot mengandalkan pola penjagaan personel
- Angka alokasi tahunan itu disebut Amithya sebagai bukti niat baik program
Sebagai gantinya, aparat pemkot mengandalkan pola penjagaan personel. Amithya juga menyinggung layanan kesehatan yang masih kurang, padahal setiap peserta didik mendapat dana sekitar Rp48,5 juta setahun yang ia sebut sangat besar jika dijalankan penuh.
Dana per Siswa Dinilai Spektakuler namun Perlu Dukungan Penuh
Angka alokasi tahunan itu disebut Amithya sebagai bukti niat baik program. Ia menekankan skema ini potensial sukses hanya bila seluruh pihak memberi dukungan maksimal, termasuk pemenuhan kebutuhan operasional di lapangan.
Optimaise News mencatat konteks kunjungan Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman ke SMP Negeri 16 Malang pada 12 Juni 2026 sebagai sinyal perhatian pusat. Meski demikian, kendala yurisdiksi daerah tetap menjadi penghalang implementasi harian.
Program ini dirancang untuk kelompok masyarakat tertentu. Namun keterbatasan wewenang membuat banyak usulan teknis terhenti di tingkat kota, sehingga inovasi pengganti harus segera disusun.
Pagar Diganti Sistem Jaga, Kesehatan Siswa Belum Ideal
Usulan pagar di sekitar sekolah untuk melindungi anak-anak tidak bisa direalisasikan karena bukan kewenangan pemda. Solusi yang diambil adalah pengaturan jadwal penjagaan oleh petugas yang sudah ada.
Amithya menyoroti sisi medis. Ia berharap ada mobil khusus yang bisa menjemput peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan agar penanganan lebih cepat dan terkoordinasi.
Kondisi fisik para siswa menurutnya belum mencapai tingkat optimal. Minimnya fasilitas pendukung membuat pemantauan kesehatan harian masih bergantung pada inisiatif sekolah semata.
Proses Rekrutmen Guru dan Pendamping Masih Berjalan
Kebutuhan staf pengajar serta pendamping siswa sedang diupayakan pemenuhannya. Proses ini melibatkan koordinasi lintas instansi karena sebagian sumber daya manusia berada di luar kendali langsung kota.
Amithya berharap percepatan agar kegiatan belajar tidak terganggu. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara infrastruktur lunak dan keras agar program tidak hanya berhenti di angka anggaran.
Tanpa percepatan itu, manfaat dana besar per anak berisiko tidak terasa di ruang kelas. Dewan akan terus mengawal agar hambatan wewenang tidak berlarut.







