Kapal Angkut 37 WNI Tenggelam di Perak Malaysia, 7 Tewas

Author Image

Bagus

18 Juli 2026

Kapal Angkut 37 WNI Tenggelam di Perak Malaysia, 7 Tewas

Tujuh warga negara Indonesia ditemukan meninggal setelah kapal yang diduga membawa 37 penumpang terbalik di perairan Pulau Pangkor, negara bagian Perak, Malaysia, Senin (11/5/2026) pagi waktu setempat. Sebanyak 23 orang dievakuasi, sementara tujuh lainnya sempat masuk daftar hilang sebelum operasi pencarian berakhir.

Kasus angkut wni tenggelam ini memicu perhatian karena rute non-prosedural dan dokumen perjalanan yang tidak lengkap. Sebagaimana dihimpun Optimaise News, penumpang diduga berangkat dari Kisaran, Sumatera Utara, menuju sejumlah tujuan di Malaysia.

Kronologi keberangkatan hingga evakuasi di Pangkor

Menurut otoritas maritim Malaysia, para penumpang diduga meninggalkan Kisaran pada Sabtu (9/5/2026). Tujuan akhir yang diperkirakan meliputi Pulau Pinang, Terengganu, Selangor, dan Kuala Lumpur.

Kapal kemudian tenggelam di lepas pantai Pulau Pangkor pada Senin pagi. Tim SAR Malaysia mengevakuasi 23 penyintas—16 laki-laki dan tujuh perempuan—berusia 21–48 tahun.

Mereka dibawa ke Markas Operasi Pasukan Polis Marin Kampung Acheh, Perak, sebelum diserahkan ke otoritas berwenang. Proses lanjutan mencakup pemeriksaan identitas dan fasilitasi kekonsuleran.

Identifikasi korban wni tenggelam perak di rumah sakit

Identifikasi korban wni tenggelam perak di rumah sakit

Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah menjelaskan, dari 14 WNI yang semula dalam daftar pencarian, tujuh orang ditemukan meninggal. Jasad mereka dibawa ke rumah sakit di Perak untuk identifikasi.

“Dari 14 WNI yang sebelumnya dalam proses pencarian, 7 orang telah ditemukan meninggal dunia, dan jasadnya saat ini berada di RS di Perak untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut oleh otoritas setempat,”

kata Heni dalam keterangan tertulis yang dilansir Antara, Rabu (13/5/2026). Sebagian besar korban tidak membawa dokumen perjalanan sah, sehingga proses penelusuran keluarga menjadi lebih rumit.

Kemlu merencanakan pengiriman tim untuk menelusuri keluarga, yang diduga banyak berasal dari Sumatera Utara. KBRI Kuala Lumpur terus berkoordinasi dengan kepolisian maritim Malaysia untuk penanganan penyintas dan almarhum.

“Hal tersebut untuk keperluan identifikasi korban yang selamat dan meninggal, serta pembuatan dokumen terkait untuk penanganan selanjutnya,” tutur Heni. Fasilitasi kekonsuleran dan dokumen perjalanan disiapkan bagi WNI yang selamat sesuai kebutuhan.

Operasi SAR dihentikan dan angka penumpang dipertanyakan

Operasi SAR dihentikan dan angka penumpang dipertanyakan

Badan Penegakan Maritim Malaysia (MMEA) Perak mengumumkan operasi pencarian berakhir pada Sabtu (16/5/2026). Keputusan diambil setelah tidak ada penemuan baru di area pencarian selama beberapa hari.

Operasi melibatkan Angkatan Laut Kerajaan Malaysia, Kepolisian Maritim, dan nelayan setempat sejak hari kejadian. Laporan yang dikutip Bernama menyebut sedikitnya 16 orang meninggal—sembilan pria dan tujuh wanita—sementara 23 orang selamat.

Angka awal 37 penumpang juga digugat. “Informasi awal yang diperoleh pada hari pertama operasi menyatakan bahwa jumlah total korban adalah 37. Namun, angka tersebut diyakini tidak akurat,” demikian pernyataan MMEA Perak.

Optimaise News mencatat, perbedaan data antara laporan awal Kemlu (tujuh tewas dari 14 hilang) dan rangkuman media Malaysia (setidaknya 16 tewas) masih bergantung pada hasil identifikasi final. Insiden tenggelam perak malaysia ini kembali mengingatkan risiko jalur laut ilegal.

Direktur PWNI Kemlu mengimbau masyarakat tidak memakai jalur non-prosedural untuk bepergian atau bekerja ke luar negeri. Tanpa dokumen sah, evakuasi, identifikasi, dan pemulangan menjadi lebih lambat serta rentan sengketa data.

FAQ

Berapa WNI yang selamat dan tewas dalam insiden ini?

Laporan awal Kemlu menyebut 23 selamat dan tujuh ditemukan meninggal dari 14 yang dicari. Sejumlah laporan Malaysia kemudian menyebut sedikitnya 16 meninggal, sementara MMEA meragukan akurasi angka total 37 penumpang.

Dari mana penumpang diduga berangkat dan ke mana tujuannya?

Otoritas maritim Malaysia menduga keberangkatan dari Kisaran, Sumatera Utara, pada 9 Mei 2026. Tujuan akhir diperkirakan meliputi Pulau Pinang, Terengganu, Selangor, dan Kuala Lumpur.

Apakah pencarian korban masih berlangsung?

Tidak. MMEA Perak menghentikan operasi SAR pada 16 Mei 2026 setelah tidak ada temuan baru. Fokus beralih ke identifikasi jenazah dan penanganan penyintas.

Mengapa banyak penumpang tanpa dokumen perjalanan?

Menurut keterangan Kemlu, sebagian besar korban menempuh jalur non-prosedural. Kondisi itu menyulitkan identifikasi, penelusuran keluarga, dan penerbitan dokumen lanjutan bagi penyintas.