Surabaya, Optimaise News – Panitia Piala Presiden 2026 merespons keras keluhan jadwal final yang dinilai terlalu mepet. Wakil Ketua Organizing Committee Bidang Administrasi Risha Adi Wijaya menegaskan kalender turnamen sudah disusun sejak awal dan mendapat persetujuan Federasi Sepak Bola Asia (AFC), sekaligus menyinggung opsi rotasi 12 pemain.
Inti artikel
- Panitia Piala Presiden 2026 merespons keras keluhan jadwal final yang dinilai terlalu mepet
- Final mempertemukan Persib Bandung dan Persebaya Surabaya di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, pada Kamis, 6 Agustus 2026
- Kedua finalis baru selesai semifinal Selasa, 4 Agustus 2026, sehingga jeda istirahat sekitar 48 jam memicu protes pelatih
Final mempertemukan Persib Bandung dan Persebaya Surabaya di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, pada Kamis, 6 Agustus 2026. Kedua finalis baru selesai semifinal Selasa, 4 Agustus 2026, sehingga jeda istirahat sekitar 48 jam memicu protes pelatih.
Semifinal Selasa, Final Kamis di Dipta: Jeda yang Picu Protes Pelatih
Persib menundukkan Persija Jakarta 2-1 di semifinal. Pada hari yang sama Persebaya mengalahkan Arema FC 1-0 dan lolos ke babak puncak turnamen pramusim ini.
Pelatih Persib, Igor Tolic, melontarkan kritik keras. Ia menilai jarak semifinal-final terlalu rapat sehingga skuad kekurangan waktu pulih. Situasi itu, menurutnya, membuat kualitas laga final rawan terganggu kelelahan.
Sebagaimana dihimpun Optimaise News, keluhan muncul segera setelah dua laga semifinal selesai. Fokus publik pun bergeser dari skor ke pertanyaan: mengapa final tak digeser sehari atau dua hari.
Risha Adi Wijaya: Jadwal Sudah Disetujui AFC dari Awal

Risha Adi Wijaya memberi penjelasan di kawasan Senayan, Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026. Ia menolak anggapan bahwa susunan laga dibuat mendadak.
“Seperti tadi disampaikan ya, jadwal itu kan sudah kami bikin dari awal dan sudah disetujui oleh AFC,” ujar Risha kepada awak media.
Menurut pantauan Optimaise News, penekanan pada persetujuan AFC menjadi alasan utama kenapa panitia tidak menggeser kickoff final. Kalender yang sudah dikunci federasi Asia membatasi ruang manuver panitia lokal, termasuk bila pelatih meminta jeda lebih panjang.
Artinya, keluhan kebugaran tetap diakui, tetapi jalur resmi untuk mengubah tanggal sudah tertutup sejak tahap perencanaan. Respons panitia berorientasi pada kepatuhan aturan, bukan penyesuaian ad hoc di jam-jam terakhir.
Opsi Rotasi 12 Pemain Jadi Jawaban Panitia atas Keluhan Kelelahan
Selain menyinggung AFC, panitia mengangkat skema rotasi 12 pemain. Aturan itu memberi ruang bagi pelatih untuk memutar personel tanpa harus menunggu penundaan laga.
Dalam praktik pramusim padat, kuota rotasi menjadi alat manajemen beban. Skuad yang baru bermain 90 menit di semifinal bisa menyegarkan lini belakang atau tengah dengan cadangan yang lebih fresh, selama nama yang dimasukkan masuk kuota yang diizinkan.
Bagi Persib dan Persebaya, opsi ini lebih realistis daripada menunggu revisi tanggal. Implikasi praktisnya: komposisi starting XI final bisa berbeda signifikan dari semifinal, tergantung siapa yang masih fit dan siapa yang perlu diganti demi menjaga intensitas 90 menit di Dipta.
Panitia tidak mengklaim rotasi menghapus rasa lelah total. Yang digarisbawahi adalah bahwa kerangka AFC sudah memberi instrumen rotasi sebagai jawaban operasional, bukan pergeseran kalender.
Dampak ke Persib dan Persebaya Menjelang Kickoff Final
Laporan jelang final menggambarkan kedua tim sudah kepayahan. Igor Tolic mengakui keterbatasan waktu istirahat dan menyatakan ia belum sempat menganalisis lawan secara mendalam.
Meski demikian, Tolic menegaskan tidak mengubah strategi Maung Bandung. Ia menekankan bahwa setelah panitia tetap berjalan sesuai jadwal, yang tersisa hanyalah menilai siapa yang fit di masing-masing kubu.
Sintesis kronologi menunjukkan alur yang jelas: semifinal Selasa dengan skor 2-1 dan 1-0, final Kamis di Bali, kritik pelatih soal istirahat, lalu jawaban panitia lewat AFC plus rotasi 12. Bagi pembaca, pesan utamanya sederhana. Jadwal final tidak digeser karena sudah disetujui AFC sejak awal; yang bisa dimainkan pelatih adalah rotasi personel agar final tetap kompetitif meski jeda minim.







