Blok Asia, termasuk PSSI, tetap setia pada Presiden FIFA Gianni Infantino di tengah badai kritik Eropa. Dukungan itu berpijak pada dana bantuan dan infrastruktur yang dirasakan langsung federasi berkembang, justru saat beberapa asosiasi barat mencabut sokongan jelang pemilihan Maret 2027.
Inti artikel
- Blok Asia, termasuk PSSI, tetap setia pada Presiden FIFA Gianni Infantino di tengah badai kritik Eropa
- Pada Rabu, 5 Agustus 2026, PSSI mengeluarkan pernyataan resmi di akun Instagram
- Federasi menegaskan sikap yang tidak goyah terhadap pria yang sudah satu dekade di pucuk FIFA
Optimaise News mencatat, Infantino (56 tahun, Swiss) yang memimpin sejak 2016 masih diguyur loyalitas dari Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) setelah membatalkan proposal penjualan saham Piala Dunia. Indonesia menjadi salah satu jangkar utama di barisan itu.
PSSI resmi ikrar dukungan mutlak lewat Instagram
Pada Rabu, 5 Agustus 2026, PSSI mengeluarkan pernyataan resmi di akun Instagram. Federasi menegaskan sikap yang tidak goyah terhadap pria yang sudah satu dekade di pucuk FIFA.
“PSSI menegaskan kembali dukungannya yang berkelanjutan untuk Presiden FIFA Gianni Infantino dan komitmennya untuk memperkuat kerja sama dengan FIFA dan semua Asosiasi Anggota untuk memajukan pengembangan sepak bola di Indonesia & di seluruh dunia,” tulis akun resmi PSSI.
Pernyataan itu juga menyinggung manfaat nyata program FIFA di tanah air di bawah kepemimpinan Infantino. Ketua Umum Erick Thohir digambarkan memiliki hubungan baik dengan sang presiden, sehingga posisi Indonesia terasa lebih personal sekaligus strategis.
15 negara lain mayoritas AFC ikut solid, termasuk Qatar-UEA
Selain Indonesia, lima belas negara lain membuka dukungan secara terbuka. Mayoritas berasal dari kawasan AFC. Qatar dan Uni Emirat Arab masuk daftar pendukung berpengaruh dari Timur Tengah.
Sri Lanka, Lebanon, dan Kuwait ikut menyatakan sikap. Dari Afrika, Mesir dan Maroko juga bergabung. Total sekitar 16 negara, termasuk Indonesia, membentuk benteng loyalitas di luar Eropa.
Hasil pemantauan Optimaise News menunjukkan, basis Asia ini menjadi penyeimbang saat suara barat mulai retak. Blok AFC yang berpotensi lebih dari 40 suara dinilai sulit diabaikan dalam peta politik federasi dunia.
Proposal saham Piala Dunia yang batal picu cabut dukungan Eropa
Krisis bermula dari wacana Infantino menjual sebagian saham Piala Dunia lewat perusahaan yang bisa ditanami investor swasta. Skema itu memicu penolakan keras, ancaman boikot UEFA dan CONCACAF, serta pengunduran diri penasihat senior Carlos Cordeiro yang menilai proposal sebagai kesepakatan buruk bagi sepak bola.
AFC sempat menyatakan solidaritas dengan UEFA dan CONCACAF soal usulan tersebut. Tekanan memaksa Infantino membatalkan rencana. Namun dampak politik tetap terasa: Wales, Denmark, Swedia, Serbia, dan Inggris mencabut dukungan.
Presiden UEFA Aleksander Ceferin dan Presiden CONCACAF Victor Montagliani kini disebut sebagai unggulan penantang kursi nomor satu FIFA. Peta perpolitikan berubah lebih cepat menjelang kongres Maret 2027.
Alasan loyalitas: bantuan dana dan infrastruktur nyata
Negara-negara pendukung di Asia dan sebagian Afrika menekankan alasan praktis. Infantino dinilai telah menyalurkan dana bantuan serta membangun infrastruktur yang berdampak langsung di lapangan.
PSSI menekankan Indonesia merasakan manfaat inisiatif FIFA secara konkret. Program yang sudah dan akan dijalankan di bawah Infantino dianggap mengubah misi global menjadi hasil nyata bagi federasi anggota.
Bagi banyak asosiasi berkembang, loyalitas bukan soal personalitas semata, melainkan rekam jejak pengembangan yang sudah dirasakan. Itulah yang membedakan respons Asia dari gelombang penarikan dukungan di Eropa.
211 suara setara, blok Asia bisa jadi penentu Maret 2027
FIFA terdiri dari 211 asosiasi anggota. Setiap negara mendapat satu suara setara, tanpa memandang ukuran atau kekuatan sepak bola. Sistem ini membuat blok regional yang solid memiliki bobot besar.
Dengan fragmentasi di Eropa dan munculnya penantang kuat, dukungan AFC yang mencakup puluhan federasi menjadi savior potensial bagi Infantino. Indonesia, lewat jangkar Erick Thohir dan pernyataan PSSI, menempatkan diri di poros loyalitas itu.
Pemilihan presiden FIFA dijadwalkan Maret 2027. Siapa yang berhasil merawat basis Asia, Afrika, dan wilayah berkembang lain akan menentukan apakah Infantino bisa melanjutkan masa jabatan atau digeser oleh rival dari UEFA maupun CONCACAF.






