Jakarta, Optimaise News – Presenter Indra Bekti mengaku bobotnya menyusut sekitar 10 kilogram, dari kisaran 80 kg ke 70-an. Perubahan itu ia sampaikan saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (4/8/2026).
Inti artikel
- Presenter Indra Bekti mengaku bobotnya menyusut sekitar 10 kilogram, dari kisaran 80 kg ke 70-an
- Perubahan itu ia sampaikan saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (4/8/2026)
- Yang paling ia rasakan bukan angka di timbangan, melainkan napas yang lebih lega dan celana yang kerap merosot
Yang paling ia rasakan bukan angka di timbangan, melainkan napas yang lebih lega dan celana yang kerap merosot. Target berikutnya 68 kg, tanpa memaksa olahraga berat karena riwayat sakit dan jadwal kerja yang padat.
Dari 80-an ke 70-an: Apa yang Berubah di Tubuh Bekti Sehari-hari
Menurut rangkuman Optimaise News dari sejumlah keterangan di media, penurunan berat itu berangkat dari pola makan yang lebih terukur. Ia mengurangi porsi yang dulu berlebihan di pagi, siang, dan malam, lalu memangkas karbohidrat seperti nasi dan roti.
Sayur lebih sering masuk piring agar kenyang lebih lama. Tujuannya jelas: menjaga tenaga agar mampu menopang pekerjaan padat, bukan sekadar mengejar postur ramping di kamera.
“10 kiloan lah ya. Udah 10 kiloan dari semenjak aku eh apa tuh, 80 ya, sampai turun, turun, turun, turun, sekarang 70-an lah gitu,” ujar Indra Bekti. Di usianya yang 48 tahun, ia menyebut tubuh kini terasa lebih ringan dan nyaman bergerak.
Efek lain yang langsung terasa: napas tidak lagi mudah sesak saat beraktivitas. Koleksi baju lama yang sempat sempit kini longgar dan bisa dipakai lagi, menaikkan rasa percaya diri di panggung maupun di luar siaran.
Celana Longgar hingga Gesper Ditarik Kencang: Efek Samping yang Lucu

Progres fisik itu punya penanda yang lebih konkret daripada angka kilogram. Celana yang dulu pas kini longgar, sehingga ia harus mengencangkan gesper agar tidak melorot di tengah aktivitas.
“Baju-baju yang agak, agak udah, agak mulai longgar. Ini celana ini, longgar nih sekarang. Harus pakai di apa namanya, gespernya harus diikat kenceng lagi gitu karena untuk supaya bisa ngepasin lagi, karena udah mulai apa, longgar ya gitu, jadi merosot,” katanya.
Anekdot itu, berdasarkan sumber yang dihimpun Optimaise News, menjadi indikator harian yang mudah dibaca siapa pun: ukuran pinggang mengecil tanpa menunggu menunggu hasil lab atau jadwal timbangan rutin.
Masih Kejar 2, 3 Kg Lagi Menuju Angka 68 Tanpa Wajah Kempot
Meski sudah turun sekitar 10 kg, Bekti belum berhenti. Ia ingin mengurangi 2 sampai 3 kg lagi agar mendarat di 68 kg, angka yang ia anggap paling ideal untuk postur dan penampilan di depan kamera.
“Ya 2 sampai 3 kilo lagi lah ya, gitu. Jadi 68 kalau bisa sih ya idealnya segitu. Supaya gak sampai kekurusan juga, ntar kayak kempot kan? Rugi lagi,” jelas Bekti.
Trade-off penampilan kamera itu membuat targetnya tidak dibuka lebih rendah. Ia menahan diri di 68 kg agar wajah tidak terlihat kempot, yang menurutnya justru merugikan di layar.
Olahraga Dibatasi: Porsi Makan Jadi Andalan Utama Pasca Sakit
Semangat menurunkan berat tidak membuatnya memaksakan olahraga porsi penuh. Setelah sempat sakit, ia memilih membatasi intensitas agar jantung dan stamina tidak kaget.
“Iya sih, olahraga jangan terlalu, apa namanya, porsir. Jadi masih aku batasi-batasi dulu tuh supaya jangan cepat capek, karena dari kerjaan aja juga udah lumayan apa eh tenaga ya, gitu,” pungkasnya.
Hierarki strateginya sederhana: asupan makanan jadi jalur yang lebih aman dibanding latihan berat, karena tenaga sudah banyak habis di set kerja. Olahraga tetap ada, tapi porsinya dikontrol.
Bagi pembaca yang ingin meniru pendekatan serupa, sinyal tubuh seperti napas lega, tenaga yang stabil, dan ukuran celana yang longgar bisa menjadi penanda progres selain kilogram di timbangan.






