Harga minyak mentah dunia anjlok hampir 1 persen pada perdagangan Rabu. Penyebab utamanya proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat kepada Iran. Investor langsung berharap ketegangan di Timur Tengah mereda.
Inti artikel
- Harga minyak mentah dunia anjlok hampir 1 persen pada perdagangan Rabu
- Penyebab utamanya proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat kepada Iran
- Investor langsung berharap ketegangan di Timur Tengah mereda
Kontrak berjangka Brent ditutup di 78,45 dolar AS per barel. Harga itu turun 0,72 dolar atau 0,9 persen. West Texas Intermediate ikut melemah 1,1 persen ke 74,20 dolar per barel.
Brent Turun ke Level Terendah Sejak Senin
Penurunan ini membawa Brent ke posisi terendah dalam sepekan. Sehari sebelumnya harga masih bertahan di atas 79 dolar. Pasar sempat cemas gangguan pasokan lewat Selat Hormuz.
Kini optimisme muncul di kalangan trader. Mereka melihat peluang de-eskalasi yang nyata. Produksi minyak Iran dan negara-negara Teluk diharapkan tetap stabil.
Penurunan harga juga terjadi di tengah kekhawatiran inflasi global. Energi yang lebih murah bisa membantu bank sentral melonggarkan kebijakan. Dolar AS yang melemah menambah tekanan pada harga minyak.
Proposal Gencatan Senjata dari Pemerintah AS
Washington melontarkan ide gencatan senjata melalui saluran diplomatik. Langkah itu datang di tengah eskalasi retorika antara dua negara. Iran belum memberikan respons resmi hingga penutupan pasar.
Sumber diplomat menyebut proposal mencakup gencatan tembak di kawasan sengketa. AS menjanjikan pelonggaran sanksi terbatas jika Teheran setuju. Detail lengkap masih dirahasiakan kedua belah pihak.
Usulan itu muncul setelah pertemuan tertutup di Wina. Mediator Eropa turut dilibatkan dalam pembicaraan. Tujuannya mencegah eskalasi militer yang lebih luas di kawasan.
Dampak ke Pasokan Minyak Global
Timur Tengah menyumbang sekitar 30 persen pasokan minyak dunia. Gangguan kecil saja biasanya mengguncang harga secara tajam. Harapan gencatan senjata langsung menekan spekulasi kenaikan.
OPEC+ belum merespons berita ini. Aliansi produsen itu masih menahan produksi sesuai kuota. Analis memperkirakan mereka pantau perkembangan dulu sebelum ubah kebijakan.
Selat Hormuz dilalui seperlima minyak dunia setiap hari. Ancaman penutupan biasanya angkat harga 5 sampai 10 persen. Kini ancaman itu mereda setidaknya untuk sementara waktu.
Analis Sebut Volatilitas Masih Tinggi
Analis energi dari sejumlah bank investasi menilai penurunan ini masih sementara. Risiko geopolitik belum hilang sepenuhnya dari radar pasar. Harga bisa naik lagi jika proposal gagal total.
Data inventori AS juga ikut memengaruhi pergerakan. Stok minyak mentah di Amerika turun pada minggu lalu. Namun berita geopolitik jauh lebih dominan pada sesi Rabu.
Beberapa analis merevisi proyeksi harga ke bawah. Mereka sebut level 75 sampai 80 dolar lebih realistis jika de-eskalasi berlanjut. Momentum bearish diperkirakan masih kuat hingga akhir pekan.
Pengaruh ke Indonesia dan Harga BBM
Bagi Indonesia harga minyak dunia memengaruhi kebijakan subsidi BBM. Penurunan yang berlanjut bisa meringankan beban anggaran negara. Pemerintah masih memantau sebelum putuskan penyesuaian harga.
Menteri ESDM belum berkomentar secara resmi. Pejabat kementerian menyebut situasi global menjadi pertimbangan utama. Cadangan minyak nasional masih aman untuk beberapa bulan ke depan.
Konsumsi BBM dalam negeri mencapai 1,5 juta barel per hari. Sebagian besar kebutuhan itu diimpor dari luar. Harga minyak rendah membantu tekan defisit transaksi berjalan.
Pertamina masih menghitung dampak ke harga jual eceran. Jika harga ICP turun signifikan ada ruang penyesuaian. Keputusan akhir tetap di tangan pemerintah pusat.
Pasar energi Asia juga merespons cepat. Harga minyak di bursa Singapura ikut turun sejalan. Impor minyak Indonesia berpotensi lebih murah dalam jangka pendek.
Ke depan investor menunggu respons resmi Teheran. Jika Iran setuju harga bisa turun lebih dalam lagi. Sebaliknya penolakan akan memicu rebound yang tajam di pasar.







