Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan pemerintah kehilangan kepercayaan pada lembaga pemeringkat internasional. Klarifikasi itu disampaikan di Istana Negara usai Sidang Kabinet Paripurna sekitar 20-21 Juli 2026.
Inti artikel
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan pemerintah kehilangan kepercayaan pada lembaga pemeringkat internasional
- Klarifikasi itu disampaikan di Istana Negara usai Sidang Kabinet Paripurna sekitar 20-21 Juli 2026
- Isu utamanya timing asesmen di tengah fundamental yang masih bertahan, bukan hilangnya kepercayaan
Perbedaan penilaian Moody’s dan Fitch yang digambarkan terlalu dini berbanding S&P Global Ratings yang mempertahankan outlook stabil menjadi penegas. Isu utamanya timing asesmen di tengah fundamental yang masih bertahan, bukan hilangnya kepercayaan.
Klarifikasi Usai Sidang Kabinet: Apa yang Sebenarnya Dipersoalkan
Purbaya menekankan pemerintah tetap memandang lembaga rating sebagai mitra penting. Yang dipersoalkan justru sebagian asesmen yang muncul sebelum data terbaru menunjukkan ketahanan ekonomi.
Pernyataan itu merespons kekhawatiran pasar setelah muncul gambaran negatif dari sejumlah lembaga. Narasi seolah pemerintah sudah tidak percaya sama sekali dibantah tegas.
Optimaise News merangkai alur dari sidang kabinet. Presiden Prabowo Subianto lebih dulu menyinggung penakut-nakutan downgrade, lalu Menkeu memberi klarifikasi teknis soal prematur versus jeli.
Inti posisi pemerintah sederhana. Bukan menolak lembaga, melainkan meminta asesmen berbasis perkembangan terkini agar pasar tidak digiring pada sinyal yang kurang pas.
Mengapa Moody’s-Fitch Dinilai Terlalu Dini, S&P Dinilai Jeli
Menurut Purbaya, Moody’s dan Fitch sempat menggambarkan fundamental ekonomi Indonesia jelek. Penilaian itu dianggap prematur karena belum sepenuhnya mencerminkan data dan tren yang lebih baru.
Sebaliknya, S&P Global Ratings dinilai lebih jeli membaca situasi. Lembaga itu keluar dengan penilaian lebih baik dan mempertahankan outlook stabil.
S&P melihat pertumbuhan cenderung lebih cepat dari proyeksi awal. Defisit anggaran tetap terkendali. Indonesia juga mampu bertahan saat harga minyak dunia sempat tinggi.
Kontras itu menjadi argumen utama Menkeu. Perbedaan antar lembaga membuktikan ruang penilaian yang objektif masih terbuka, bukan tanda hilangnya keyakinan pemerintah.
Tiga Indikator yang Dianggap Menopang Outlook Stabil

Purbaya menggarisbawahi tiga indikator sebagai penopang outlook stabil. Pertama, laju pertumbuhan yang menunjukkan tren lebih cepat.
Kedua, defisit fiskal yang tetap dalam koridor aman dan terkendali. Ketiga, ketahanan menghadapi guncangan harga minyak yang sempat melonjak tajam.
Ketiga poin ini menjadi checklist ketahanan jangka pendek. Pembaca awam bisa memahaminya sebagai alasan mengapa asesmen dini dinilai kurang pas.
Kaitan langsung ketahanan fiskal dengan timing rating tampak jelas. Defisit terkendali plus kemampuan serap shock minyak membuat gambaran jelek secara prematur terasa tidak sejalan dengan fakta di lapangan.
Prabowo dan Sinyal Positif S&P atas PT DSI
Di sidang yang sama, Presiden Prabowo Subianto menyinggung adanya pihak yang menakut-nakuti kemungkinan downgrade rating. Tujuannya agar minat investasi asing turun.
Prabowo juga menyampaikan sinyal positif dari S&P. Lembaga itu menilai pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI, BUMN yang fokus ekspor, sebagai langkah tepat.
Sinyal itu memperkuat alur politik-kebijakan. Dari penakut-nakutan di sidang, bukti apresiasi S&P atas PT DSI, hingga klarifikasi teknis Menkeu soal prematur versus jeli, semuanya menjadi satu paket.
Posisi ini memberi gambaran utuh siapa bilang apa usai sidang kabinet. Investor mendapat konteks bahwa ada lembaga yang melihat inisiatif kebijakan dengan kacamata berbeda.
Artinya bagi Investor: Bukan Tolak Rating, Minta Objektivitas
Bagi investor, pesan pemerintah tegas. Bukan penolakan total terhadap lembaga rating, melainkan permintaan agar asesmen berbasis data terbaru dan tetap objektif.
Perbedaan antar rating agency justru menunjukkan ruang diskusi. Hipotesis Purbaya jarang digarisbawahi utuh: jika S&P ikut memberi penilaian negatif, pemerintah wajib mencari bukti bahwa arah kebijakan memang membawa dampak positif.
Framing ini untuk pasar, bukan sekadar bantahan retoris. Pemerintah percaya kekuatan sendiri sambil tetap terbuka pada penilaian independen yang tepat waktu.
Fundamental yang masih menopang outlook stabil jadi sandaran. Investor diimbau melihat paket indikator pertumbuhan, defisit, dan ketahanan shock, bukan hanya satu laporan prematur.
Tanya Jawab Seputar Klarifikasi Rating
Apakah pemerintah sudah tidak percaya pada Moody’s atau Fitch?
Tidak. Menkeu Purbaya menegaskan bukan soal hilang kepercayaan. Yang dipersoalkan adalah sebagian asesmen yang dinilai terlalu dini di tengah fundamental yang bertahan.
Apa yang membedakan penilaian S&P?
S&P mempertahankan outlook stabil. Lembaga itu dinilai jeli karena melihat pertumbuhan lebih cepat, defisit terkendali, dan kemampuan RI survive saat harga minyak tinggi.
Bagaimana kaitan PT DSI dengan sinyal rating?
Presiden Prabowo menyampaikan bahwa S&P memandang pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai langkah tepat bagi BUMN ekspor.
Apa arti pesan ini bagi investor asing?
Pemerintah minta objektivitas dan timing yang pas, bukan menolak rating. Perbedaan antar lembaga jadi bukti ruang penilaian masih terbuka, dengan fundamental sebagai penopang.







