Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengeluarkan ultimatum yang menautkan hak jual minyak Teheran dengan nasib pasokan energi seluruh kawasan. Ia menegaskan, di wilayah di mana Iran tak bisa menjual minyak, tak ada pihak lain yang akan menjual minyak.
Inti artikel
- Ia menegaskan, di wilayah di mana Iran tak bisa menjual minyak, tak ada pihak lain yang akan menjual minyak
- Pernyataan itu muncul bersamaan dengan aksi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di selatan Selat Hormuz
- Tiga tanker dihentikan, satu meledak lepas pantai Oman
Pernyataan itu muncul bersamaan dengan aksi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di selatan Selat Hormuz. Tiga tanker dihentikan, satu meledak lepas pantai Oman. Optimaise News merangkai rangkaian ini sebagai bukti klaim kendali jalur vital yang diperkuat ancaman balasan Presiden AS Donald Trump.
Ultimatum ‘All or Nothing’: Minyak Regional Terkunci Bersama Iran
Ghalibaf membingkai konflik sebagai perkara jual minyak yang bersifat ‘semuanya atau tidak sama sekali’. Ia menyatakan infrastruktur kawasan tak aman jika keamanan Iran tak terjamin. Framing ini bukan sekadar kutipan samping, melainkan persamaan strategi perang minyak.
Iran mencak-mencak perkara jual minyak setelah sanksi dan tekanan AS membatasi ekspor Teheran. Ghalibaf menegaskan, jika Teheran dicegah menjual, maka seluruh kawasan ikut terkunci. Syarat koordinasi pelayaran di Hormuz langsung dihubungkan dengan leverage ekspor minyak regional.
Tanpa jaminan keamanan bagi Iran, tidak ada pihak yang diizinkan memanfaatkan jalur itu secara bebas. Klaim ini menaikkan risiko bagi rantai pasok energi global yang bergantung pada selat sempit tersebut.
Tiga Tanker Dihentikan, Satu Meledak Lepas Pantai Oman

IRGC mengklaim menghentikan tiga kapal tanker minyak di rute selatan Selat Hormuz. Satu tanker meledak dan terbakar lepas pantai Oman. Dua tanker lain berbalik arah setelah dihentikan.
Pernyataan resmi IRGC menyebut rute selatan dipasangi ranjau. Tanker tersebut disebut ‘diprovokasi’ tentara AS. Namun, waktu pasti kejadian ledakan tetap tidak jelas dalam rilis resmi mereka.
IRGC menyatakan Hormuz berada di bawah kendalinya. Kapal yang berlayar tanpa koordinasi diancam nasib serupa. Aksi ini menjadi bukti fisik dari ultimatum Ghalibaf soal kontrol jalur energi.
Trump Balas: Satu Jembatan atau Pembangkit per Serangan di Hormuz

Presiden AS Donald Trump membalas lewat ancaman langsung. Ia mengancam mengebom satu jembatan atau satu pembangkit listrik Iran setiap kali Teheran menembaki kapal di Hormuz.
Ancaman itu muncul di Truth Social sebelum pernyataan Ghalibaf dan klaim IRGC menyusul. Timeline singkat ancaman timbal-balik ini memperlihatkan urutan eskalasi, bukan potongan berita terpisah.
Optimaise News mencatat, balasan infrastruktur Trump menarget aset vital Iran. Tujuannya menekan Teheran agar menghentikan gangguan di jalur pelayaran.
Larak Disasar Rudal dan Syarat Teheran: Hormuz Tanpa Pasukan AS
Media Iran melaporkan serangan rudal AS ke Pulau Larak pukul 14.48 waktu setempat. Laporan ini menutup rantai eskalasi 22, 24 Juli yang menggabungkan aksi tanker, ultimatum minyak, ancaman Trump, dan serangan ke Larak.
Ghalibaf menegaskan selat hanya aman tanpa kehadiran pasukan AS. Ia menolak situasi kembali ke kondisi sebelum perang. Syarat ini menjadi inti penolakan proposal gencatan senjata yang diajukan lewat pihak ketiga.
Klaim kendali Hormuz berarti Teheran ingin memaksa setiap kapal berkoordinasi dengan pihak Iran. Bagi pasar energi global, ancaman ‘tak ada yang jual minyak’ berpotensi memicu lonjakan harga jika dijalankan penuh.
Rangkaian ini menunjukkan Iran memakai kendali geografis sebagai kartu tawar. AS membalas dengan ancaman fisik terhadap infrastruktur sipil dan militer.







