Surabaya, Optimaise News – Optimaise News mencatat desakan tegas dari Asosiasi Esports Indonesia cabang Surabaya agar forum terbuka digelar segera. Para pengurus khawatir program ekstrakurikuler Mobile Legends di sejumlah sekolah menengah akan dihentikan tanpa pertimbangan matang. Mereka menilai keputusan sepihak bisa merugikan potensi ribuan pelajar yang sudah aktif berlatih.
Inti artikel
- ESI Surabaya menekankan bahwa Mobile Legends bukan sekadar hiburan
- Jika dikelola dengan aturan jelas, permainan ini mampu mengasah kemampuan berpikir cepat, komunikasi, serta kolaborasi
- Payoff-nya nyata: generasi muda Surabaya berpeluang masuk jalur atlet esports nasional tanpa harus meninggalkan bangku sekolah
ESI Surabaya menekankan bahwa Mobile Legends bukan sekadar hiburan. Jika dikelola dengan aturan jelas, permainan ini mampu mengasah kemampuan berpikir cepat, komunikasi, serta kolaborasi. Payoff-nya nyata: generasi muda Surabaya berpeluang masuk jalur atlet esports nasional tanpa harus meninggalkan bangku sekolah.
Desakan ESI Surabaya soal Forum Terbuka Mobile Legends
Ketua ESI Surabaya, Andi Pratama, menyatakan pihaknya sudah mengirim surat resmi ke Dinas Pendidikan Kota. Ia minta pertemuan tripartit yang melibatkan guru, orang tua, dan perwakilan komunitas esports. Andi menegaskan pembatalan mendadak tanpa dialog hanya akan memicu polemik di kalangan pelajar.
Menurut data internal ESI, lebih dari 40 sekolah di Surabaya sempat menaruh minat terhadap ekskul ini tahun lalu. Beberapa bahkan sudah menyusun jadwal latihan dua kali seminggu di lab komputer. Namun, kabar pembatasan muncul setelah keluhan soal durasi main yang berlebihan di luar jam sekolah.
Andi menambahkan bahwa ESI siap menyiapkan modul pendampingan. Modul itu mencakup batas waktu bermain, etika daring, serta integrasi dengan mata pelajaran TIK. Ia berharap dinas tidak menutup pintu sebelum mendengar usulan lengkap dari lapangan.
Manfaat Mobile Legends bagi Pelajar jika Diawasi Ketat

Pelatih esports lokal, Rina Wulandari, menjelaskan bahwa Mobile Legends melatih pengambilan keputusan dalam tekanan. Setiap laga berdurasi pendek memaksa pemain membaca peta, mengatur sumber daya, dan berkoordinasi suara. Keterampilan itu mirip yang dibutuhkan di dunia kerja modern.
Selain itu, turnamen antar sekolah bisa menjadi wadah prestasi non-akademik. Beberapa alumni ekskul serupa di kota lain sudah diterima di klub profesional atau meraih beasiswa esports. Rina menekankan pengawasan orang tua dan guru tetap kunci agar tidak berubah menjadi kecanduan.
Ia mengusulkan sistem poin kehadiran dan rapor digital. Siswa yang melampaui batas main di luar ekskul akan dikurangi jam latihan. Pendekatan ini sudah diuji di komunitas ESI Surabaya dan dinilai efektif menekan keluhan orang tua.
Tanggapan Awal Dinas Pendidikan dan Orang Tua

Juru bicara Dinas Pendidikan Kota Surabaya mengakui surat ESI sudah diterima. Pihaknya masih mengkaji dampak psikologis dan akademis sebelum memutuskan. Ia menjanjikan rapat internal minggu depan untuk merumuskan sikap resmi.
Sementara itu, perwakilan komite sekolah di Kecamatan Gubeng menyampaikan dukungan bersyarat. Mereka setuju ekskul digelar asalkan ada kontrak tertulis soal durasi dan larangan top-up berlebihan. Beberapa orang tua mengaku anaknya justru lebih disiplin setelah bergabung di komunitas resmi.
Di sisi lain, ada juga kekhawatiran soal konten kekerasan virtual. ESI merespons dengan menawarkan filter usia dan sesi edukasi digital parenting. Mereka siap menghadirkan psikolog anak dalam forum yang diminta.
Langkah Konkret yang Diusulkan ESI Surabaya
ESI menyusun tiga usulan utama. Pertama, uji coba terbatas di sepuluh sekolah selama satu semester. Kedua, sertifikasi pelatih lokal agar standar keamanan terjaga. Ketiga, laporan bulanan ke dinas mengenai perkembangan akademik siswa peserta.
Andi Pratama menegaskan bahwa Mobile Legends sudah diakui pemerintah pusat sebagai cabang olahraga prestasi. Menutup peluang di tingkat sekolah justru bertolak belakang dengan arah pembinaan nasional. Ia mengajak semua pihak duduk bersama sebelum keputusan final diumumkan.
Komunitas gamer Surabaya juga merencanakan petisi daring untuk mendukung dialog. Targetnya mengumpulkan dukungan dari pelajar dan orang tua dalam dua minggu ke depan. Mereka berharap suara ini didengar sebelum libur semester berakhir.







