Surabaya, Optimaise News – ESI Surabaya melalui Ketua Achmad Nurdjayanto menyesali pembatalan rencana memasukkan Mobile Legends sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Achmad Nurdjayanto menekankan perlunya diskusi bersama pemangku kepentingan agar pembinaan esport berjalan terarah dan ramah anak. Menurutnya, hal ini penting untuk membuka peluang ekonomi baru di bidang olahraga digital yang selama ini kurang dimanfaatkan secara optimal.
Inti artikel
- Achmad Nurdjayanto menekankan perlunya diskusi bersama pemangku kepentingan agar pembinaan esport berjalan terarah dan ramah anak
- Keputusan ini muncul dari kekhawatiran Dinas Pendidikan Surabaya terhadap potensi kecanduan dan gangguan konsentrasi belajar siswa
- Dinas Pendidikan menjelaskan bahwa sebelum memasukkan game tertentu, perlu dibahas lebih dulu dengan semua pihak terkait
Keputusan Pemerintah yang Menimbulkan Penyesalan ESI
Keputusan ini muncul dari kekhawatiran Dinas Pendidikan Surabaya terhadap potensi kecanduan dan gangguan konsentrasi belajar siswa. Dinas Pendidikan menjelaskan bahwa sebelum memasukkan game tertentu, perlu dibahas lebih dulu dengan semua pihak terkait. Ajeng Wira Wati dari DPRD Surabaya juga mendukung keputusan ini karena lebih memprioritaskan pengembangan seni budaya lokal seperti robotika, pemrograman, dan seni. Menurutnya, prioritas pada satu game saja terasa kurang seimbang dan ironis.
Pembinaan Esport untuk Karakter dan Prestasi Siswa

Pembinaan esport dapat membantu siswa mengembangkan karakter dan mencapai prestasi yang lebih baik. Dengan melibatkan guru pembina dari anggota ESI, program ini memungkinkan siswa belajar nilai-nilai positif seperti disiplin dan kerja sama tim. ESI memiliki pengalaman dalam menyusun pola pembinaan atlet usia muda yang telah terbukti efektif dalam berbagai aspek.
Cara Mengarahkan Akses Game Anak melalui Ekstrakurikuler
Cara mengarahkan akses game anak melalui ekstrakurikuler sangatlah praktis. Sekolah dan orang tua dapat mengatur durasi bermain siswa secara terukur melalui guru pembina yang berasal dari anggota ESI. Guru ini dilibatkan dalam proses pembinaan, sehingga pengawasan lebih ketat dan anak terhindar dari kecanduan. Program ini menggabungkan hiburan game dengan pembelajaran yang sehat, sehingga akses game anak dapat diarahkan melalui wadah yang jelas dan pengawasan yang baik.
Peluang Ekonomi Baru bagi Mantan Atlet Esport di Surabaya
Peluang ekonomi baru bagi mantan atlet esport di Surabaya sangat besar. Program ekstrakurikuler ini membuka peluang bagi mantan atlet dan pelatih esport untuk menjadi pembina. Dengan demikian, mereka dapat terlibat dalam serap tenaga kerja informal. Dampaknya, Surabaya bisa berkembang menjadi pusat pembinaan esport nasional, menciptakan lapangan kerja baru di sektor digital dan berpotensi menghemat biaya secara signifikan.
Pentingnya Pelibatan Induk Organisasi Esport dalam Pendidikan
Pentingnya pelibatan induk organisasi esport seperti PBESI tidak boleh diabaikan. PBESI memiliki 18 cabang esports yang tersebar dalam tujuh kategori berbeda. Dewan Pendidikan Jawa Timur juga memberikan rekomendasi serupa agar prioritas tidak hanya pada satu game saja. Dengan demikian, pembinaan bisa lebih komprehensif dan berkualitas tinggi.
Sintesis perspektif dari Dinas Pendidikan, ESI, dan Dewan Pendidikan Jatim menunjukkan pentingnya pendekatan yang seimbang dalam pembinaan esport. Guru pembina yang dilibatkan dapat mengatur durasi bermain dengan baik, sehingga siswa tetap seimbang antara hiburan dan belajar. Selain itu, program ini juga membuka peluang ekonomi jangka panjang bagi mantan atlet esport yang bisa menjadi pelatih di berbagai sekolah. Tingginya minat masyarakat terhadap esport terlihat dari antusiasme peserta dalam turnamen seperti Piala Wali Kota yang diselenggarakan ESI Surabaya.







