Palembang, Optimaise News – Warga Desa Dulang, Kabupaten Tapin, sudah meramaikan Masjid Nurul Falah pada 11 Agustus 2026. Acara doa bersama dipimpin KH Ahmad Barmawi sebagai persiapan menyambut akhir bulan Safar 1448 H yang jatuh pada 12 Agustus 2026 menurut Kalender Hijriah Kementerian Agama RI.
Inti artikel
- Warga Desa Dulang, Kabupaten Tapin, sudah meramaikan Masjid Nurul Falah pada 11 Agustus 2026
- Momentum yang sama menjadi acuan banyak jamaah di Jawa, Sunda, dan Madura
- Tanggal 12 Agustus 2026 atau 28 Safar 1448 H menjadi titik utama pelaksanaan
Momentum yang sama menjadi acuan banyak jamaah di Jawa, Sunda, dan Madura. Mereka memadukan doa tolak bala dengan silaturahmi keluarga serta sedekah kecil sebagai rangkaian rukun tradisi setempat, merujuk penanggalan Lembaga Falakiyah PBNU yang menetapkan 1 Safar 1448 H bertepatan 16 Juli 2026.
Jadwal 28 Safar 1448 H dan Anjuran Kitab Klasik
Tanggal 12 Agustus 2026 atau 28 Safar 1448 H menjadi titik utama pelaksanaan. Lembaga Falakiyah PBNU memastikan perhitungan tersebut. Syekh Ahmad bin Umar Ad-Dairabi mencatat anjuran serupa dalam kitab Fathul Malik Al-Majid Al-Muallaf li Naf’il ‘Abid wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid.
Banyak tokoh setempat mengizinkan pembuka sholat sunnah mutlak berstatus hajat. Waktu yang disukai berkisar setelah Asar hingga menjelang Maghrib pada hari itu. Namun sholat lidaf’il bala sendiri boleh dikerjakan kapan saja, mulai pagi hingga Asar tanpa batasan jam khusus.
Optimaise News mencatat praktik ini sering menjadi pengikat komunitas UMKM desa. Pemilik warung kecil atau pengrajin lokal biasanya menyempatkan waktu berdoa lalu berbagi makanan sederhana agar rezeki tetap terjaga dari gangguan tak terduga.
Tata Cara Bacaan per Rakaat yang Disusun Ulama
Setiap rakaat diisi surah Al-Kautsar sebanyak 17 kali, Al-Ikhlas lima kali, serta Al-Falaq dan An-Nas masing-masing satu kali. Susunan ini diulang pada dua rakaat sholat sunnah mutlak yang diniatkan sebagai hajat penolak bala.
Setelah salam, jamaah membaca doa pendek. Isinya memohon perlindungan dari angin merah, wabah besar, serta segala musibah yang menyentuh jiwa hingga ke urat. Doa panjang menyusul, memohon keselamatan dari madyan wa balaa dan dari keburukan apa pun yang menimpa negeri sendiri maupun negeri muslim lain.
Urutan itu tidak diganti sembarangan. Para ulama menekankan kesesuaian niat dan bacaan agar amalan tetap ringan dan bisa diikuti keluarga yang baru mengenal tradisi.
Tradisi Silaturahmi Serta Sedekah di Tiga Wilayah Budaya
Di tanah Jawa, Sunda, dan Madura, pengurusan acara digabung dengan kunjungan kerabat. Sedekah sederhana, biasanya beras atau lauk, dibagikan setelah doa. Langkah ini dipandang sebagai pelengkap agar doa tolak bala tidak berdiri sendiri.
Warga Tapin mencontohkan pola tersebut sehari sebelum puncak. Masjid Nurul Falah menjadi pusat, namun banyak keluarga meneruskan doa di rumah masing-masing pagi atau siang harinya. Pola fleksibel ini memudahkan pekerja harian dan pelaku usaha mikro yang sulit meninggalkan toko seharian.
Kalender yang sama dipakai ulang tahun berikutnya. Masyarakat tinggal menyesuaikan hari kerja agar tetap semi-formal dan tetap terasa kebersamaan.







