Cadangan Minyak Darurat AS Turun ke Rekor Terendah dalam 43 Tahun, Bensin US Naik Rp71 Ribu
Jakarta, Optimaise News – Dari Optimaise News, Cadangan Minyak Strategis AS Menyusut di Bawah 300 juta barel jadi level terendah sejak 1983 disebabkan pelepasan besar mingguan dan konflik regional yang mengganggu pasokan.
Inti artikel
- Pelepasan yang rutin ini bertujuan untuk mengatasi ketidakpastian pasokan energi di berbagai belahan dunia
- Kombinasi ini mengintensifkan kekhawatiran harga bahan bakar akan terus tertekan
- Untuk di pasar dalam negeri, rata-rata harga bensin mencapai US$4,01 per galon yang setara dengan Rp71.000 per galon
Amerika Serikat kehilangan kedalaman cadangan strategisnya setelah membebankan sekitar 6,1 juta barel minyak dalam waktu kurang dari seminggu terakhir, padahal cadangan total mulai tahun ini mencapai 415 juta barel yang terus berkurang.
Hitungan Cadangan Strategis AS yang Kian Menipis
Status cadangan minyak strategis negara tersebut kini hanya bertinggal 298,7 juta barel, atau hanya 42 persen dari daya tampung maksimal sebanyak 714 juta barel. Angka ini jadi indikasi kuat bahwa cadangan minyak darurat AS terus menguras meski sudah dilakukan beberapa kali pengeluaran bersama mitra IEA.
Hingga Juli 2026 tercatat sudah dikeluarkan sekitar 290 juta barel dari cadangan darurat tersebut bersama anggota IEA yang turut merencanakan pembebanan tambahan hingga total 400 juta barel secara global. Pelepasan yang rutin ini bertujuan untuk mengatasi ketidakpastian pasokan energi di berbagai belahan dunia.
Konflik Regional Picu Kenaikan Harga Bensin di AS

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran jadi faktor utama berkurunya cadangan minyak strategis tersebut melalui jalan Selat Hormuz yang rawan gangguan. Kombinasi ini mengintensifkan kekhawatiran harga bahan bakar akan terus tertekan.
Untuk di pasar dalam negeri, rata-rata harga bensin mencapai US$4,01 per galon yang setara dengan Rp71.000 per galon. Sementara di California rata-rata harga justru US$5,59 per galon atau setara Rp99.000 per galon, yang mencerminkan beban regional yang lebih tinggi akibat rantai distribusi minyak.
Reaksi Ekonomi dan Prediksi Besar yang Datang
Penurunan persediaan minyak ini berpotensi memperburuk inflasi bahan bakar nasional dan memicu kelangkaan distribusi bagi negara-negara importir besar yang bergantung pada pasokan strategis. Cadangan Minyak Strategis AS Terendah Sejak 1983 kini menjadi sinyal bagi pelaku pasar untuk beradaptasi pada harga yang terus meningkat.
Di masa mendatang, cadangan strategis AS diprediksi akan menyusut hingga sekitar 243 juta barel jika tren pelepasan berlangsung tanpa penambahan pasokan baru dari lapangan. Kala itu, pemegang pemasok global akan semakin bergantung pada cadangan darurat yang telah mencapai kapasitas seraknya.







