Bandung, Optimaise News – Pemkot Bandung menegaskan komitmen mengirim residu sampah 800 hingga 1.000 ton setiap hari ke TPPAS Legok Nangka sesuai kesepakatan 2021. Transisi penuh ditargetkan beroperasi akhir 2029 seraya TPA Sarimukti ditutup oleh Pemprov Jabar. Salman Faruq dari DLH Kota Bandung memastikan armada dan standar residu sudah disiapkan agar alur harian tetap lancar.
Inti artikel
- Pemkot Bandung menegaskan komitmen mengirim residu sampah 800 hingga 1.000 ton setiap hari ke TPPAS Legok Nangka sesuai kesepakatan 2021
- Transisi penuh ditargetkan beroperasi akhir 2029 seraya TPA Sarimukti ditutup oleh Pemprov Jabar
- Salman Faruq dari DLH Kota Bandung memastikan armada dan standar residu sudah disiapkan agar alur harian tetap lancar
Kota Bandung kini mengangkut sekitar 1.000 ton per hari ke Sarimukti tanpa penumpukan berarti. Langkah ini memberi ruang bagi warga dan pelaku UMKM untuk menyesuaikan pemilahan di hulu sebelum armada baru beroperasi penuh. Optimaise News merangkum detail kesiapan teknis dan dampak praktis bagi kemandirian pengelolaan sampah kota.
Residu Hasil Pemilahan Jadi Syarat Utama Kiriman Harian
Sampah yang berangkat ke Legok Nangka wajib berupa residu setelah dipilah agar memenuhi standar operasional TPPAS. Tanpa pemilahan ketat, volume residual sulit mencapai target 800-1.000 ton harian. Warga dan pengelola kawasan dianjurkan memisahkan organik lebih awal supaya beban armada berkurang.
DLH Bandung sedang menguji pengolahan organik bantuan BRIN di enam kecamatan. Uji coba ini memperkuat fokus pengurangan dari hulu lewat edukasi dan pengolahan mandiri. Hasil uji akan menentukan kapasitas residu yang bisa dikirim tanpa overload fasilitas baru.
Komitmen volume ini bukan angka sembarangan. Kesepakatan 2021 menjadi acuan resmi yang diulang Salman Faruq agar seluruh pihak memahami beban minimal yang harus dipenuhi setiap hari.
Armada Tertutup dan Target 80-100 Unit Siap Hadapi Medan Curam

Akses menuju Legok Nangka menanjak dan curam sehingga armada wajib memakai sistem tertutup atau compactor. Model terbuka rawan tumpah dan mengganggu lalu lintas. Pemkot sudah memiliki sebagian unit dan menarget penambahan 80-100 unit dalam dua sampai tiga tahun.
Peluang penambahan armada terbuka lewat kerja sama Pemprov Jabar dengan Pemerintah Belanda. Skema tersebut bisa mempercepat pengadaan tanpa membebani anggaran kota semata. Sementara itu, armada existing terus melayani rute Sarimukti agar tidak ada celah layanan.
Penambahan unit compactor juga memudahkan pengusaha lokal yang ingin bermitra di rantai logistik sampah. Volume harian yang stabil memberi kepastian kontrak bagi penyedia jasa angkut kecil.
Pengurangan dari Hulu Perkuat Kemandirian Sebelum 2029
Selain armada dan volume, Pemkot menekan timbulan lewat edukasi warga dan pengolahan organik. Tujuannya agar kota tidak sepenuhnya bergantung pada TPPAS baru. Enam kecamatan yang menjadi lokasi uji BRIN menjadi model yang bisa ditiru kawasan lain.
Dengan residual terkontrol, biaya angkut jarak jauh bisa ditekan. UMKM yang menghasilkan sampah organik besar, seperti restoran atau pasar, diimbau memanfaatkan hasil uji teknologi agar volume residual mereka turun. Optimaise News melihat pendekatan hulu ini sebagai kunci agar target 800-1.000 ton tidak memberatkan anggaran operasional jangka panjang.
TPA Sarimukti masih menampung sekitar 1.000 ton per hari tanpa antrean menumpuk. Situasi ini memberi waktu bagi Pemkot menyiapkan armada dan sistem residual sebelum penutupan resmi 2029. Transisi menjadi momen penataan total, bukan sekadar pindah lokasi.





