Bandung, Optimaise News – Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung menyiapkan armada angkut sampah berstandar tinggi menjelang beroperasinya TPPAS Legok Nangka. Kabid Pengelolaan Persampahan dan Limbah B3 DLH Kota Bandung, Salman Faruq, menegaskan target harian minimal 800 hingga 1.000 ton residu sampah harus terpenuhi sesuai komitmen 2021 agar fasilitas baru tidak menolak kiriman.
Inti artikel
- Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung menyiapkan armada angkut sampah berstandar tinggi menjelang beroperasinya TPPAS Legok Nangka
- Langkah ini digulirkan di tengah kapasitas TPA Sarimukti yang sudah overload
- Akses menuju Legok Nangka menanjak dan curam
Langkah ini digulirkan di tengah kapasitas TPA Sarimukti yang sudah overload. Zona perluasan di sana diperkirakan hanya bertahan sekitar dua tahun sebelum Pemprov Jawa Barat menutupnya sepenuhnya begitu Legok Nangka berjalan penuh.
Rute Curam Tuntut Armada Compactor Fit
Akses menuju Legok Nangka menanjak dan curam. Armada harus dalam kondisi prima serta berperforma tinggi agar tidak macet di tanjakan. Pemkot memprioritaskan sistem tertutup atau compactor. Model ini menahan bau, mencegah tumpahan, serta menampung air lindi sehingga lingkungan sepanjang jalur tetap aman.
Sebagian unit sudah dimiliki Pemkot. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan jumlah armada akan ditingkatkan hingga rentang 80 hingga 100 unit. Target itu dilengkapi peluang bantuan armada tertutup dari Pemprov Jabar lewat skema kerja sama pemerintah Belanda.
Residu hasil pemilahan rumah tangga menjadi fokus utama pengiriman. Hanya sisa yang sudah dipilah yang dikirim agar fasilitas tidak menolak tonase. Optimaise News mencatat pendekatan ini menjaga kontinuitas angkutan harian tanpa membebani sistem di lokasi tujuan.
Uji Coba Organik BRIN di Enam Kecamatan

Selain armada, DLH Kota Bandung menguji teknologi pengolahan sampah organik dari bantuan BRIN di enam kecamatan. Hasil uji dievaluasi secara ketat dulu sebelum model yang sama diperluas ke wilayah lain. Langkah berjenjang ini memangkas volume yang harus diangkut ke Legok Nangka sambil memberi ruang bagi praktik pemilahan di tingkat warga.
Evaluasi awal menjadi penentu kelayakan perluasan. Jika performa stabil, skala pengolahan organik bisa digeser ke kecamatan berikutnya. Kombinasi armada compactor dan pengurangan di sumber diharapkan menstabilkan rantai sampah kota saat TPA lama berakhir masa pakainya.
Jadwal Operasi dan Dampak Penutupan Sarimukti
TPPAS Legok Nangka ditargetkan beroperasi akhir 2029. Setelah fasilitas tersebut mencapai kapasitas penuh, Pemprov Jawa Barat akan menutup TPA Sarimukti. Transisi dua tahun ke depan menjadi masa kritis bagi Pemkot untuk memastikan armada, rute, dan kualitas residu siap tanpa gangguan.
Komitmen tonase harian 800 sampai 1.000 ton residuali yang sudah dipilah menjadi patokan operasional. Armada tertutup dipilih agar pengiriman tidak menimbulkan keluhan warga di jalur. Dukungan potensial dari skema Belanda melalui Pemprov Jabar dapat mempercepat pemenuhan unit di atas 80 buah.






