Jakarta, Optimaise News – Ansu Fati mengakui hari pertama meninggalkan Barcelona lewat pinjaman sebagai hari tersedih dalam hidupnya. Kini striker 23 tahun itu menyatakan bahagia setelah AS Monaco mengaktifkan pembelian permanen seharga 11 juta euro dan kontrak empat musim.
Inti artikel
- Ansu Fati mengakui hari pertama meninggalkan Barcelona lewat pinjaman sebagai hari tersedih dalam hidupnya
- Kini striker 23 tahun itu menyatakan bahagia setelah AS Monaco mengaktifkan pembelian permanen seharga 11 juta euro dan kontrak empat musim
- Jebolan La Masia itu sempat digadang sebagai penerus Lionel Messi
Dalam rangkuman Optimaise News dari wawancara dengan AS, Fati menatap karier baru tanpa dendam. Ia menerima rentetan cedera di Camp Nou dan ingin main sebanyak mungkin di Prancis, di mana cuacanya terasa mirip Barcelona.
Jejak Ansu Fati dari La Masia hingga pinjaman ke Monaco
Jebolan La Masia itu sempat digadang sebagai penerus Lionel Messi. Debut dan total penampilan awalnya menjanjikan, tapi absen panjang memutus alur karier di tim senior Blaugrana.
Perjalanan ke luar Camp Nou dimulai lewat pinjaman ke Brighton, lalu AS Monaco. Klausul pembelian permanen akhirnya dijalankan, menandai perpisahan resmi setelah bertahun-tahun di akademi dan skuat utama.
Optimaise News mencatat dari keterangan narasumber bahwa pamit ke teman dan staf La Masia diisi pesan saling. Rasa sedih campur lega muncul saat tandatangan dengan klub kerajaan Prancis.
Mengapa Ansu Fati pilih pindah permanen ke AS Monaco

Monaco mengunci Fati dengan biaya 11 juta euro plus ikatan empat musim. Angka itu memberi kerangka praktis bagi fans soal nilai transfer pemain muda yang pernah jadi aset mahal Barcelona.
Fati menekankan sambutan luar biasa, kepercayaan klub terhadap kemampuannya, dan suasana latihan di cuaca panas yang cocok baginya. Cuaca mirip Barcelona membuat adaptasi terasa lebih ringan dibanding pindah jauh ke iklim berbeda.
Ia bilang bahagia dengan pilihan itu karena peluang main reguler terbuka. Setelah musim-musim yang kering di Spanyol, targetnya sederhana: tampil sesering mungkin dan bantu tim di Liga Prancis.
Fakta cedera panjang yang jadi pelajaran hidup Fati
Cedera robek meniskus lutut kiri pada November 2020 menjadi titik balik. Setelah itu hamstring kiri bermasalah berulang pada 2021 dan 2022, memaksa menepi lama dan mempersempit menit di lapangan.
Status di Barcelona terasa sempit karena persaingan dan tubuh yang belum stabil. Di Monaco, fokus bergeser ke pemulihan rutin dan menit kompetitif, meski sejarah cedera tetap jadi pelajaran harian.
Fati menolak mengungkit lama proses penyembuhan di masa lalu. Baginya semua itu bagian hidup yang harus diterima, bukan bahan dendam terhadap klub yang membesarkannya.
Pesan Ansu Fati ke fans dan diri sendiri soal nasib Barcelona
“Hari pertama saya pergi dari Barcelona ketika dipinjamkan, jadi hari tersedih dalam hidup saya,” ujarnya kepada AS. Nada itu jujur, tapi tidak dilanjutkan dengan keluhan panjang.
“Ya, saya kena banyak cedera. Tapi inilah hidup dan saya menerima semua kenyataannya,” tegas Fati. Ia melanjutkan sedih meninggalkan banyak teman, lalu menekankan kerja keras dan arah ke depan.
“Saya bahagia dengan pilihan ini, saya mau main sebanyak mungkin,” tutupnya. Kalimat itu merangkum motif utama: frekuensi bermain usai lama absen, tanpa menumpuk dendam pada Barcelona.
Dalam wawancara yang sama Fati juga menyinggung LaLiga yang akan kompetitif. Real Madrid, menurutnya, datang dengan pemain bagus dan semangat balas setelah Barcelona unggul dalam beberapa tahun, sementara skuad Blaugrana punya kohesi lama. Ia tetap menjaga nada netral sebagai mantan pemain yang kini di luar duopoli itu.







