Surabaya, Optimaise News – Andika Putra, pria berusia 32 tahun asal Makassar, meluncur sendirian menuju Surabaya pada Selasa 4 Agustus 2026. Ia menempuh perjalanan lewat Bandara Sultan Hasanuddin semata untuk menerima jenazah ibunya, Siti Fatimah, yang tewas dalam kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 di Perairan Sumenep, Madura.
Inti artikel
- Andika Putra, pria berusia 32 tahun asal Makassar, meluncur sendirian menuju Surabaya pada Selasa 4 Agustus 2026
- Andika langsung siap mengikuti serah terima dengan pejabat berwenang sesampainya di kota tujuan
- Keberangkatan Andika berlangsung tanpa dampingan kerabat
Identifikasi jenazah telah rampung lewat sidik jari ditambah data gigi, rekam medis, penampakan visual, serta barang pribadi oleh Tim DVI Biddokkes Polda Jawa Timur. Andika langsung siap mengikuti serah terima dengan pejabat berwenang sesampainya di kota tujuan. Keluarga di rumah masih menanti kepastian kapan jenazah tiba di rumah duka Jalan Sultan Abdullah II, Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Makassar.
Perjalanan Solo Andika Menjelang Serah Terima
Keberangkatan Andika berlangsung tanpa dampingan kerabat. Ia memilih fokus penuh pada proses formal yang menunggu di Surabaya. Koordinasi teknis pemulangan baru akan dibahas di sana, termasuk moda transportasi yang dipakai, apakah pesawat udara atau jalur laut.
Pihak pengelola kapal juga dijadwalkan bertemu para keluarga korban pada momen yang sama. Langkah ini diharapkan memberi kejelasan tambahan mengenai kronologi dan dukungan selanjutnya. Andika sendiri mengaku belum memiliki kepastian mutlak soal rute pulang jenazah hingga tiba di lokasi.
Bagi keluarga di Makassar, kehadiran Andika di Surabaya menjadi jembatan utama. Mereka menempatkan rumah duka di kawasan Tallo sebagai titik akhir penantian. Suasana haru bercampur ketegangan menandai hari-hari menunggu hasil koordinasi.
Kisah Liburan Ibu-Anak yang Berujung Tragedi
Siti Fatimah, 57 tahun, sempat menjemput putrinya Nurul Izza di Jakarta. Nurul baru saja menyelesaikan magang selama satu tahun empat bulan di Taiwan dan kini menempuh studi Teknik Elektro di Universitas Negeri Makassar. Rencana liburan singkat ke Bandung dilanjutkan dengan perjalanan laut ke Makassar menggunakan KMP Mutiara Sentosa 02.
Ibu dan anak menikmati momen reuni setelah lama terpisah. Mereka memilih rute Surabaya-Makassar lewat kapal feri untuk pulang bersama. Tak ada yang menduga perjalanan itu berakhir di Perairan Sumenep akibat kebakaran hebat.
Nurul Izza berhasil selamat, sementara ibunya dinyatakan meninggal dunia. Fakta ini semakin memperkuat tekad Andika untuk segera menjemput jenazah dan membawanya pulang ke tanah kelahiran. Optimaise News mencatat bagaimana reuni singkat keluarga berubah menjadi ujian besar bagi saudara yang ditinggalkan.
Proses Identifikasi dan Langkah Selanjutnya
Tim DVI mengandalkan kombinasi sidik jari primer serta data sekunder berupa gigi, catatan medis, visual, dan benda milik almarhumah. Hasilnya memungkinkan Andika langsung melangkah ke tahap serah terima tanpa penundaan panjang. Prosedur ini menjadi standar penanganan korban bencana kapal di wilayah Jawa Timur.
Setelah serah terima, fokus beralih ke pemulangan. Keluarga menginginkan jenazah segera tiba di Makassar agar proses pemakaman dapat dilangsungkan di lingkungan yang akrab. Pilihan moda transportasi masih terbuka dan bergantung pada hasil pembicaraan di Surabaya.
Pertemuan dengan perwakilan kapal dipandang sebagai ruang dialog penting. Di sana diharapkan muncul kepastian tambahan mengenai bantuan dan alur administrasi. Andika menyiapkan diri untuk mewakili keluarga secara penuh dalam seluruh rangkaian itu.






