Bandung, Optimaise News – Gerbang Digembok Ahli Waris, Murid SDN 026 Bojongloa Bandung Telantar setelah pihak ahli waris mengunci gerbang sekolah pada pukul 06.00 WIB Kamis 6 Agustus 2026. Peristiwa di Jalan Cibaduyut ini membuat 945 murid yang sudah tiba terpaksa berdiri kebingungan di depan gerbang yang terkunci rapat. Sekolah akhirnya memulangkan seluruh siswa dan menerapkan pembelajaran jarak jauh guna menghindari kekacauan serta risiko kecelakaan.
Inti artikel
- Peristiwa di Jalan Cibaduyut ini membuat 945 murid yang sudah tiba terpaksa berdiri kebingungan di depan gerbang yang terkunci rapat
- Sekolah akhirnya memulangkan seluruh siswa dan menerapkan pembelajaran jarak jauh guna menghindari kekacauan serta risiko kecelakaan
- Berita ini langsung viral di media sosial dengan video yang menunjukkan suasana tegang di sekitar gerbang sekolah
Berita ini langsung viral di media sosial dengan video yang menunjukkan suasana tegang di sekitar gerbang sekolah. Kepala SDN 026 Bojongloa Agus Mohamad Fajari menyatakan tidak menerima informasi sebelum penggembokan dilakukan. Langkah ini diambil sebagai respons cepat agar pembelajaran tatap muka langsung terhenti.
Latar Belakang Sengketa Lahan Sekolah
Sengketa tanah seluas sekitar 1.500 meter persegi yang dimiliki SDN 026 Bojongloa Bandung telah berjalan sejak putusan pengadilan tingkat pertama tahun 2017 dan kemudian naik ke peninjauan kembali di Mahkamah Agung. Pihak ahli waris mengklaim kepemilikan berdasarkan putusan pengadilan tersebut sehingga menganggap gerbang sekolah bagian dari lahan mereka.
Insiden penggembokan gerbang ini tidak diumumkan sebelumnya kepada pihak sekolah. Dampaknya langsung terasa bagi anak-anak yang bergantung pada kegiatan belajar mengajar secara tatap muka setiap hari. Para siswa yang berkumpul di lokasi tersebut terlihat frustrasi sementara orang tua mulai khawatir dengan jadwal pembelajaran yang terganggu.
Langkah Darurat Dinas Pendidikan
Dinas Pendidikan Kota Bandung menyatakan akan mempertimbangkan tiga alternatif tempat belajar sementara yaitu SD Leuwi Panjang, SDN 269 Cibaduyut, serta SDN 229. Asep Ghufron dari Dinas Pendidikan mengungkapkan rencana menggelar rapat siang hari tersebut untuk menentukan lokasi paling memungkinkan yang bisa digunakan segera.
Langkah tersebut dilakukan guna memastikan semua siswa tetap mendapat tempat belajar yang sesuai regulasi. Namun gerbang sekolah sudah dibuka kembali sekitar pukul 10.00 WIB sehingga siswa yang sudah pulang tidak bisa kembali. Sekolah terus memantau situasi agar tidak terjadi kekacauan di kemudian hari.
Reaksi Masyarakat dan Dampak Jangka Panjang
Video kejadian di media sosial semakin menyebar luas dan menarik perhatian banyak netizen yang melihat ketidakadilan yang dialami murid-murid. Banyak yang menyoroti pentingnya penyelesaian sengketa tanah yang telah berlarut-larut ini agar tidak mengganggu proses pendidikan anak-anak.
Di sisi lain, keluhan dari orang tua siswa juga muncul di berbagai forum online. Mereka khawatir dengan kualitas pembelajaran yang tergantung pada situasi lingkungan. Kasus ini mengingatkan pentingnya komunikasi yang lebih baik antara pihak sekolah, ahli waris, serta otoritas pendidikan sebelum tindakan penggembokan dilakukan.






