Bandung, Optimaise News – Proyek bus rapid transit di Cekungan Bandung memasuki tahap pembangunan nyata setelah nota kesepahaman disepakati sejumlah pihak. Kementerian Perhubungan dan Pemprov Jawa Barat bergandeng dengan pemerintah Kota Bandung, Cimahi, Sumedang, Kabupaten Bandung Barat, serta Kabupaten Bandung untuk mewujudkan sistem angkutan massal terintegrasi di kawasan metropolitan tersebut.
Inti artikel
- Proyek bus rapid transit di Cekungan Bandung memasuki tahap pembangunan nyata setelah nota kesepahaman disepakati sejumlah pihak
- Muhammad Farhan sebagai Wali Kota Bandung menegaskan bahwa angkot tidak akan dimatikan
- Langkah ini menandai perubahan paradigma transportasi di kawasan metropolitan
Muhammad Farhan sebagai Wali Kota Bandung menegaskan bahwa angkot tidak akan dimatikan. Armada angkot diarahkan untuk berperan sebagai feeder yang menghubungkan area perumahan maupun jalan sekunder ke koridor utama BRT Bandung Raya.
Langkah ini menandai perubahan paradigma transportasi di kawasan metropolitan. Bukan lagi kompetisi antarmoda, melainkan kolaborasi agar mobilitas warga lebih efisien dan merata di seluruh cekungan yang selama ini rawan macet pada jam sibuk.
Nota Kesepahaman Multi Pihak Percepat Realisasi BRT
Kesepakatan mencakup koordinasi penataan rute, halte, dan terminal lintas batas administratif. Dengan begitu koridor BRT bisa melayani perjalanan harian dari Sumedang hingga Bandung Barat tanpa hambatan birokrasi yang berlarut.
Dengan BRT Bandung Raya Mulai Dibangun, Farhan Pastikan Tak akan terjadi penghapusan total moda angkot. Justru integrasi diutamakan supaya layanan publik tetap inklusif bagi semua lapisan masyarakat yang bergantung pada angkutan umum harian.
Proyek bersifat regional sehingga manfaatnya dirasakan warga di luar Kota Bandung semata. Dialog intensif dengan berbagai pemangku kepentingan terus digelar agar implementasi berjalan mulus dan mendapat dukungan luas.
Sinergi lintas wilayah menjawab tantangan mobilitas yang selama ini terfragmentasi antar daerah. Banyak pekerja dan pelajar melintasi batas kota setiap hari sehingga membutuhkan moda yang andal dan terhubung baik.
Peran Baru Angkot sebagai Feeder ke Koridor BRT

Operator angkot diajak menyesuaikan trayek agar fokus mengantar penumpang menuju titik transfer BRT. Model feeder ini diterapkan agar jangkauan dari rumah atau gang kecil ke halte utama tetap terjaga tanpa meninggalkan moda yang sudah ada.
Komunikasi dengan operator angkot dan pedagang di sekitar area penataan dibuka lebar. Pemerintah daerah menyiapkan skema kompensasi khusus bagi pedagang yang usahanya terdampak sementara selama proses penataan berlangsung.
Optimaise News mencermati bahwa pendekatan dialogis ini penting untuk mengurangi gejolak sosial di lapangan. Keterlibatan pelaku usaha lokal menjadi prasyarat suksesnya sistem transportasi baru yang lebih modern dan terintegrasi.
Dengan skema feeder, angkot tetap mendapatkan penumpang di rute-rute sekunder. Model demikian menjaga eksistensi angkot sambil meningkatkan efisiensi koridor utama yang dilayani BRT secara khusus.
Penataan Kawasan Terminal Termasuk Cicaheum

Terminal seperti Cicaheum akan ditata ulang agar berfungsi optimal dalam skema integrasi. Penumpang bisa berpindah dari angkot feeder ke bus BRT dengan nyaman di satu kawasan tanpa harus berjalan jauh.
Penataan ini bagian dari upaya menciptakan sistem transportasi yang saling terhubung di Cekungan Bandung. Pemerintah menekankan bahwa perubahan dilakukan bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan warga sehari-hari serta kelancaran operasional.
Seluruh wilayah Cekungan Bandung dilibatkan agar tidak ada daerah yang tertinggal dalam akses angkutan massal modern. Skala proyek yang luas menuntut sinergi berkelanjutan antar pemerintah daerah yang terlibat.
Integrasi terminal juga mempertimbangkan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dan lansia. Rencana penataan disusun agar seluruh pengguna merasa nyaman saat berpindah dari satu moda ke moda lainnya.
Tanya Jawab Seputar Dampak BRT bagi Angkot dan Pedagang
Apakah angkot benar-benar tidak dimatikan setelah BRT beroperasi?
Ya, Muhammad Farhan memastikan angkot tetap beroperasi. Mereka dialihkan fungsinya sebagai feeder menuju koridor utama BRT agar tetap relevan.
Bagaimana nasib pedagang yang terdampak penataan rute atau terminal?
Terdapat skema kompensasi yang disiapkan bagi pedagang terdampak. Dialog dengan mereka terus dibuka untuk mencari solusi terbaik bersama.
Apakah proyek BRT hanya mencakup wilayah Kota Bandung saja?
Tidak. Proyek melibatkan seluruh wilayah Cekungan Bandung termasuk beberapa kabupaten dan kota tetangga di sekitarnya.
Apa tujuan penataan terminal Cicaheum dalam proyek ini?
Penataan kawasan terminal termasuk Cicaheum dilakukan sebagai bagian integrasi sistem agar perpindahan moda lebih lancar dan nyaman bagi penumpang.






