Surabaya, Optimaise News – Lima petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Surabaya dikirim ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk membantu operasi gabungan. Mereka membawa truk pemadam berkapasitas 3.000 liter, satu mobil ranger, dan dua ransel pemadam bertekanan, karena sebagian titik api tidak bisa dijangkau kendaraan.
Inti artikel
- Kepala DPKP Surabaya Laksita Rini Sevriani menuturkan, dukungan datang setelah koordinasi dengan BPBD provinsi dan Sekda
- “Kami diminta membantu penanganan karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
- Setelah berkoordinasi, tim rescue dan pasukan rayon langsung berangkat,” ujarnya, Kamis, 13 Agustus 2026
Optimaise News merangkum, pengerahan itu merespons permintaan BPBD Jawa Timur dan Sekretaris Daerah Kota Surabaya. Api di kawasan taman nasional sudah menyala sejak 3 Agustus 2026 dan sempat merambat ke utara B29 serta sekitar kaldera.
Permintaan BPBD Jatim dan Sekda yang memicu keberangkatan
Kepala DPKP Surabaya Laksita Rini Sevriani menuturkan, dukungan datang setelah koordinasi dengan BPBD provinsi dan Sekda. “Kami diminta membantu penanganan karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Setelah berkoordinasi, tim rescue dan pasukan rayon langsung berangkat,” ujarnya, Kamis, 13 Agustus 2026.
Bantuan lintas kota ini menempatkan unit urban di operasi hutan yang sudah berjalan belasan hari. Personel Surabaya tidak memimpin seluruh lapangan, melainkan mengisi celah di titik yang sulit dijangkau unsur gabungan.
Komposisi rescue-rayon serta dua armada dari Surabaya

Formasi terdiri atas tiga personel rescue dan dua dari pasukan rayon. Truk 3.000 liter dipilih karena kelima orang itu masih harus membawa peralatan, sehingga satu ranger menyertai sebagai pengangkut orang dan logistik.
“Fire truck yang kami bawa kapasitasnya 3.000 liter karena personelnya lima orang dan masih ada beberapa peralatan yang harus dibawa, kami juga menggunakan mobil ranger,” imbuh Laksita. Kombinasi itu memisahkan fungsi tangki besar di jalur yang masih bisa dilalui dari mobilitas cepat di pasir dan lereng.
Titik Pasar Berisik, Ranu Pane dan operasi udara berulang
Di lapangan, tim Surabaya membantu di jalur Pasar Berisik menuju Ranu Pane. Sumber lain menyebut sentuhan di Blok Tepelan, Watu Tulis, dan Resort Ranu Pane. Beberapa lokasi tidak bisa disentuh darat sehingga helikopter melakukan water bombing berulang, sementara satuan gabungan memadamkan titik yang masih terjangkau kaki.
“Medannya memang cukup berat. Ada beberapa lokasi yang tidak bisa dijangkau langsung oleh tim pemadam sehingga dilakukan pemadaman melalui water bombing menggunakan helikopter,” jelas Laksita. Lautan pasir juga menjebak kendaraan saat siang, lebih licin dibanding pagi; seluruh personel dilaporkan selamat dan sehat, lalu kembali ke markas setelah tugas selesai.
Ransel AFT 10 liter untuk api padat di medan terjal
Dua unit AFT Backpack, alat portabel berbentuk ransel bertekanan tinggi berkapasitas sekitar 10 liter, dibawa khusus untuk saku api yang padat. Truk 3.000 liter mengisi cadangan di akses yang masih terbuka; ransel dipakai ketika jalur hanya cukup untuk orang berjalan.
“Kami membawa dua unit alat pemadam yang bisa dipanggul. Kapasitasnya sekitar 10 liter dan bertekanan tinggi, sehingga sangat membantu ketika ada titik api yang padat dan harus segera dipadamkan,” tutup Laksita. Itu alasan praktis lima orang tidak hanya mengandalkan semprotan dari truk.
Koordinasi gabungan dan tantangan akses darat
Menurut sumber yang dihimpun Optimaise News, operasi melibatkan BPBD Jawa Timur, pemadam daerah lain, Manggala Agni, BPBD setempat, dan relawan. Laporan 6 Agustus 2026 masih mencatat asap di lereng curam, pemadaman masif TNI-Polri-BNPB, drone BPBD sekitar 150 liter, serta dua helikopter BNPB yang saat itu masih dalam perjalanan, singgah Banjarmasin, menuju Surabaya 7 Agustus 2026.
Angin kencang siang merambatkan api; kabut setelah pukul 15.00 WIB menghentikan kerja darat dan drone. Modifikasi cuaca belum dijalankan karena pertumbuhan awan hujan belum mencukupi menurut koordinasi BMKG. Perkiraan luas terbakar sekitar 80 hektare pada laporan 6 Agustus 2026, sementara update 13 Agustus menyebut angka sementara di atas 900 hektare yang masih bisa berubah. Dari 3 hingga 13 Agustus, bantuan kota seperti Damkar Surabaya mengisi celah akses, sementara heli, drone, dan cuaca menjadi kunci di lereng yang tidak bisa dilewati truk.







