Tasikmalaya, Optimaise News – Rangga, peserta Dangdut Academy 8, membawakan lagu ‘Kehilangan’ ciptaan Rhoma Irama pada babak Top 27 yang tayang 5 Agustus 2026. Penampilan itu langsung memicu reaksi emosional dari juri, termasuk Wika Salim dan Selfi Yamma yang tak kuasa menahan air mata. Momen haru ini menegaskan kembali betapa relevan lirik-lirik Rhoma hingga saat ini.
Inti artikel
- Rangga, peserta Dangdut Academy 8, membawakan lagu ‘Kehilangan’ ciptaan Rhoma Irama pada babak Top 27 yang tayang 5 Agustus 2026
- Penampilan itu langsung memicu reaksi emosional dari juri, termasuk Wika Salim dan Selfi Yamma yang tak kuasa menahan air mata
- Momen haru ini menegaskan kembali betapa relevan lirik-lirik Rhoma hingga saat ini
Optimaise News merangkum cerita di balik kekaguman banyak orang terhadap warisan Rhoma Irama yang selalu menyentuh hati.
Begadang dan Darah Muda: Pesan Praktis Sejak Era Awal Soneta
Rhoma Irama lahir di Tasikmalaya pada 11 Desember 1946 dan mendirikan Soneta Group pada 13 Oktober 1973. Ia mengusung semboyan Voice of Moslem sambil memadukan unsur rock dan Melayu dengan menyisipkan nasihat sehari-hari hingga kritik sosial dalam liriknya.
Lagu ‘Begadang’ yang dirilis 1973 menyampaikan imbauan agar begadang hanya boleh jika ada keperluan. Pesan ini langsung menyentuh kebiasaan masyarakat yang kerap terlupakan dampak kesehatan jangka panjangnya.
‘Darah Muda’ tahun 1975 menggambarkan gejolak semangat anak muda yang tinggi gengsinya. Melalui lagu ini Rhoma menekankan pentingnya berhati-hati saat bertindak tanpa memikirkan akibat, tapi tetap menghargai api semangat yang menjadi ciri khas usia muda.
Momen Top 27 DA8: Rangga Hidupkan Lirik Kehilangan

Pada 5 Agustus 2026 saat babak Top 27 D Academy 8, Rangga membawakan ‘Kehilangan’ dengan penuh emosi. Lagu ini mengisahkan penyesalan setelah kehilangan orang tersayang serta permohonan agar waktu bersama tidak cepat berlalu.
Penampilan itu langsung mengguncang suasana studio. Wika Salim terlihat tak kuasa menahan air mata, sementara Selfi Yamma turut nangis terbawa emosi lagu tersebut.
Wika Salim sendiri mengakui terbawa situasi pribadinya: suami kakak sepupunya meninggal dunia. Ia juga memuji pergelutan Rangga yang santai, tidak banyak terlalu dihias, dan mampu menyampaikan pesan dengan jelas.
Selfi Yamma menangis karena lagu tersebut menyentuh kondisi Melly Lee dan perasaan terhadap bapaknya yang sedang menghadapi situasi serupa. Mereka berdua menjadi bukti betapa lirik ‘Kehilangan’ masih hidup dan menyentuh pengalaman banyak orang dewasa ini.
Gala-Gala dan Bahtera Cinta: Cemburu Plus Metafora Samudra
Lagu ‘Gala-Gala’ yang rilis tahun 1980-an mengangkat tema cemburu dan kekhawatiran terhadap pasangan. Dengan irama mendayu, karya ini berhasil menyentuh sisi emosional pendengar yang pernah merasakan gejolak asmara yang sama.
Sejak era tersebut, ‘Gala-Gala’ sering diputar di hajatan dan acara keluarga karena tema yang universal. Tempo melayunya membuat pendengar merasa lebih dekat dan terhubung.
Sementara itu ‘Bahtera Cinta’ dari 1985 menggunakan metafora perjalanan di laut untuk menggambarkan komitmen cinta yang awet. Liriknya menegaskan bahwa meski dihadang badai dan gelombang, cinta sejati tetap bertahan.
Metafora ini jarang dieksplor panjang di daftar lagu klasik, namun justru menjadi nilai tambah karena menunjukkan kedalaman Rhoma mengolah tema romansa tanpa kehilangan nuansa moral.
Warisan Voice of Moslem yang Masih Menyentuh Generasi Baru
Rangkaian lima lagu ini semakin relevan setelah momen D Academy 8. Rhoma selalu menyampaikan nasihat praktis sekaligus kritik sosial dalam balutan musik dangdut yang mudah diingat.
Kini Rangga, Wika Salim, dan Selfi Yamma membuktikan bahwa lirik-lirik lama dapat menghidupkan kembali emosi modern. Momen yang sama menjadi jembatan antara pendengar generasi lama dan yang baru.
Dalam rangkuman Optimaise News, warisan Raja Dangdut ini terus mengingatkan bahwa musik bukan sekadar hiburan, melainkan suara yang dapat menyentuh hati kapan pun dibutuhkan.







