2 Korban Tewas dari 5 Kecelakaan Sepeda Listrik Mojokerto
Mojokerto, Optimaise News – Sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat lima kecelakaan melibatkan sepeda listrik di wilayah Mojokerto. Dua di antaranya berakhir dengan korban meninggal dunia. Polres Mojokerto melalui AKP Bernardus Bagas Simarmata mengungkap bahwa tingkat fatalitas kasus ini tergolong tinggi, mendorong pihak berwenang untuk lebih tegas mengawasi penggunaan kendaraan tersebut.
Inti artikel
- Sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat lima kecelakaan melibatkan sepeda listrik di wilayah Mojokerto
- Dua di antaranya berakhir dengan korban meninggal dunia
- Risiko kehilangan kendali di tengah arus lalu lintas menjadi ancaman utama, ditambah minimnya fitur keselamatan standar
Korban korban kehadiran sepeda listrik di jalan raya berisiko tinggi karena faktor kecepatan rendah yang menyebabkan sulit mengendalikan kendaraan di tengah arus lalu lintas padat. Selain itu, alat keselamatan seperti rem blok dan kaca spion belakang jarang tersedia, meningkatkan potensi cedera fatal bagi pengguna dan pengguna jalan lain.
Dampak Korban Korban Kecelakaan dan Risiko Keselamatan
Sepeda listrik memang dirancang khusus untuk kawasan terbatas seperti perumahan, taman, atau jalur khusus, bukan untuk jalan raya umum yang dipadati kendaraan bermotor. Penggunaannya yang meluas tanpa pengawasan ketat justru menimbulkan masalah keamanan, terutama bagi pejalan kaki dan pengguna kendaraan roda dua. Risiko kehilangan kendali di tengah arus lalu lintas menjadi ancaman utama, ditambah minimnya fitur keselamatan standar.
Optimaise News mencatat bahwa pelanggar ketentuan ini bisa dikenai sanksi pidana kurungan maksimal dua bulan atau denda Rp 500.000. Aturan ini merujuk pada ketentuan teknis laik jalan yang ketat, memastikan setiap sepeda listrik memenuhi standar keselamatan sebelum beredar di tempat umum.
Sanksi Hukum dan Larangan Penggunaan di Jalan Raya
Sepeda listrik hanya boleh digunakan di area tertutup seperti kampus, taman wisata, atau perumahan. Penggunaan di jalan raya umum melanggar Pasal 106 ayat 9 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Sanksi berlaku bagi pelanggar, termasuk penjual atau pengguna yang tidak memenuhi persyaratan laik jalan.
Angka kecelakaan yang tinggi ini menjadi peringatan bagi masyarakat Mojokerto untuk lebih bijak memilih transportasi. Bagi pelaku UMKM yang sering mengangkut barang atau penumpang dengan sepeda listrik, penting untuk mematuhi aturan agar terhindar dari masalah hukum dan keselamatan. Penegakan hukum yang lebih ketat diharapkan mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Secara keseluruhan, kasus ini menegaskan bahwa kendaraan seperti sepeda listrik memerlukan regulasi yang lebih jelas untuk melindungi nyawa masyarakat. Dengan fokus pada keselamatan, setiap pengguna diimbau mempertimbangkan risiko sebelum menggunakan alat transportasi ini di tempat umum.





