100 Unta Tebus Abdullah: Nazar Kakek Nabi & Gagalnya Gajah Abrahah

100 Unta jadi tebusan Nazar Kakek Rasul di Ka'bah mengubah tradisi Arab dari 10 menjadi 100 unta. Optimaise News ungkap peristiwa Zamzam dan pengaruhnya.

Author Image

Nurul

100 Unta Tebus Abdullah: Nazar Kakek Nabi & Gagalnya Gajah Abrahah

– Rangkaian sejarah sebelum lahirnya Rasulullah SAW menyatukan dua episode besar: nazar kakek beliau, Abdul Muthalib, yang berakhir tebusan seratus ekor unta bagi ayah beliau, Abdullah, serta gagalnya pasukan gajah Abrahah sekitar 50 hingga 55 hari sebelum kelahiran. Kedua peristiwa itu menjadi fondasi sebutan Tahun Gajah yang jarang dibahas dalam satu alur utuh.

Inti artikel

  • Kedua peristiwa itu menjadi fondasi sebutan Tahun Gajah yang jarang dibahas dalam satu alur utuh
  • Kelahiran dinisbatkan Senin 12 Rabiul Awal Tahun Gajah, sekitar 570 atau 571 M di Mekkah dari keluarga Bani Hasyim Quraisy
  • Abdul Muthalib, kakek Rasulullah yang memimpin Baitul-Haram, menerima petunjuk lewat mimpi agar menggali kembali sumur Zamzam

Berdasarkan sumber yang dihimpun Optimaise News, jejak itu bertumpu pada catatan Sirah Nabawiyah Syeikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, dilengkapi tanda malam kelahiran yang diuraikan Katib Syuriyah PBNU KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar. Kelahiran dinisbatkan Senin 12 Rabiul Awal Tahun Gajah, sekitar 570 atau 571 M di Mekkah dari keluarga Bani Hasyim Quraisy.

Dari Mimpi Zamzam ke Nazar Sepuluh Anak Laki-laki

Abdul Muthalib, kakek Rasulullah yang memimpin Baitul-Haram, menerima petunjuk lewat mimpi agar menggali kembali sumur Zamzam. Ia menunaikan perintah itu dan menemukan benda-benda yang dulu dipendam kaum Jurhum: pedang, baju perang, serta dua pangkal pelana dari emas.

Pedang-pedang itu dijadikan pintu Ka’bah, sementara pangkal pelana emas dipasang di pintu. Setelah Zamzam hidup kembali, kaum Quraisy ingin ikut mengelola sumber air itu. Abdul Muthalib menolak tegas. Ia berkata, “Tidak bisa. Ini adalah urusan yang secara khusus ada di tanganku.”

Ia kemudian bernazar: bila dikaruniai sepuluh anak laki-laki, salah satunya akan dikorbankan di hadapan Ka’bah. Nazar itu menjadi titik awal drama keluarga yang kelak mengubah adat tebusan Arab.

Undian di Depan Hubal: Mengapa Abdullah Keluar Berulang

Saat nazar harus ditunaikan, sepuluh anak laki-laki diberitahu dan mereka patuh. Nama-nama ditulis pada anak panah, dikocok, lalu undian diserahkan di hadapan patung Hubal. Nama yang keluar adalah Abdullah, ayah Rasulullah.

Abdul Muthalib menuntun putranya ke depan Ka’bah. Kaum Quraisy menahan niat penyembelihan. Kesepakatan digeser: undian ulang antara Abdullah dan sepuluh ekor unta. Jika nama Abdullah keluar lagi, jumlah unta ditambah sepuluh ekor per putaran hingga Allah rida.

Setiap undian, nama Abdullah terus muncul. Putaran demi putaran berlanjut tanpa henti, menandai betapa keras undian itu menimpa satu-satunya nama yang selalu keluar.

Tebusan Melonjak dari 10 ke 100 Unta: Perubahan Tradisi Quraisy

Jumlah unta naik bertahap hingga mencapai seratus ekor. Seratus unta itu disembelih sebagai tebusan Abdullah. Abdullah kemudian diselamatkan, sementara adat baru mengakar di tengah Quraisy.

Sebelum peristiwa ini, tebusan pembunuhan di kalangan Quraisy dan masyarakat Arab lazimnya sepuluh ekor unta. Setelah nazar Abdul Muthalib, standar tebusan naik menjadi seratus ekor. Perubahan sosial itu jarang diurai sumber lain, padahal ia menandai dampak langsung kisah ayah Rasulullah bagi hukum adat Arab.

Dalam rangkuman Optimaise News, alur nazar-undian-tebusan ini menjembatani fondasi keluarga Bani Hasyim dengan aksi besar Abrahah yang terjadi belakangan. Abdullah wafat sebelum kelahiran; Aminah wafat ketika Nabi berusia enam tahun, lalu asuhan beralih ke Abdul Muthalib dan Abu Thalib.

Abrahah, Gereja San’a, dan Gajah yang Menolak ke Ka’bah

Abrahah Ash-Shabbah Al-Habsi, penguasa Yaman di bawah Najasy, membangun gereja raya di San’a. Tujuannya mengalihkan arus haji bangsa Arab dari Ka’bah ke bangunannya. Seorang dari Bani Kinanah menyusup dan mengotori kiblat gereja itu, memicu amarah Abrahah.

Ia mengerahkan sekitar 60 ribu prajurit menunggang gajah untuk menghancurkan Ka’bah. Di Wadi Muhassir, antara Muzdalifah dan Mina, gajah menderum dan menolak maju ke arah Ka’bah. Ke empat penjuru berlawanan, gajah itu mau bangkit; begitu dialihkan lagi ke Ka’bah, ia kembali menderum.

Perilaku hewan itu memutus laju pasukan tepat di ambang serangan. Kronologi operasional dari gereja San’a, sabotase Kinanah, hingga penolakan gajah di wadi menjadi jembatan langsung ke sebutan Tahun Gajah.

Burung Ababil di Wadi Muhassir: 50-55 Hari Menjelang Kelahiran

Dalam kondisi gajah yang menderum, Allah mengirim burung-burung Ababil. Mereka menjatuhkan batu dari tanah yang terbakar. Pasukan digambarkan seperti daun yang dimakan ulat. Peristiwa itu terjadi pada bulan Muharram, sekitar 50 atau 55 hari sebelum kelahiran Rasulullah SAW.

Setelah fondasi tahun itu, tanda-tanda malam kelahiran juga tercatat di luar Jazirah. Gus Kautsar menjelaskan Istana Kisra di Persia, yang tingginya sekitar 100 dzira atau 50 meter dan lebar seratus hasta, mengalami keruntuhan 14 balkon. Sungai Furat dan Danau Sawa tiba-tiba kering hingga masyarakat Persia panik. Api abadi kaum Majusi yang dijaga ribuan tahun padam pada malam yang sama.

Nubuat silang-agama menyebut Nabi Daniel sekitar abad ke-6 SM meramalkan kemunculan Muhammad hampir 1.200 tahun sebelumnya, menurut rujukan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Katsir. Dengan demikian, nazar 100 unta, serbuan gajah 50-55 hari pra-kelahiran, dan tanda peradaban di Persia membentuk satu rangkaian yang utuh, bukan fragmen terpisah.

FAQ
Apa nazar Abdul Muthalib terkait ayah Rasulullah?
Ia bernazar menyembelih salah satu dari sepuluh anak laki-laki di depan Ka’bah. Undian di hadapan Hubal berulang menunjuk Abdullah, lalu diganti tebusan hingga seratus ekor unta.
Kapan pasukan gajah Abrahah datang relatif terhadap kelahiran Nabi?
Peristiwa di Wadi Muhassir berlangsung bulan Muharram, sekitar 50 atau 55 hari sebelum kelahiran Rasulullah SAW, dan menjadi acuan sebutan Tahun Gajah.
Apa tanda besar di Persia pada malam kelahiran?
Empat belas balkon Istana Kisra runtuh, Sungai Furat dan Danau Sawa kering mendadak, serta api abadi Majusi padam, seperti diuraikan Gus Kautsar.
Nurul
Redaktur Teknologi

Nurul adalah redaktur teknologi Optimaise News. Meliput gadget, laptop, handphone, spesifikasi, dan harga perangkat untuk pembaca yang banding-banding sebelum beli. Fokus pada fakta spek, rentang harga, dan konteks pemakaian (kerja, kuliah, gaming ringan).