Garut, Optimaise News – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memanfaatkan momentum 100 tahun pengembangan panas bumi Indonesia di 2026 untuk mempercepat penambahan kapasitas terpasang. Target mandiri 1 GW tercapai 2028, lalu naik ke 1,8 GW pada 2034.
Inti artikel
- Target mandiri 1 GW tercapai 2028, lalu naik ke 1,8 GW pada 2034
- Langkah ini digabung dengan dorongan pemanfaatan di luar kelistrikan
- Direct use pertanian-industri dan hidrogen hijau menjadi prioritas demi ketahanan energi serta transisi dari fosil
Langkah ini digabung dengan dorongan pemanfaatan di luar kelistrikan. Direct use pertanian-industri dan hidrogen hijau menjadi prioritas demi ketahanan energi serta transisi dari fosil. Optimaise News merangkum strategi lengkap dari jejak Kamojang hingga skor ESG tertinggi.
Awal Mula Seabad: Jejak Kamojang yang Masih Beroperasi
Pengembangan panas bumi Indonesia dimulai 1926 lewat pengeboran di Kamojang, Garut. PLTP Kamojang tetap beroperasi penuh hingga kini. Itu jadi bukti nyata sumber energi bersih yang andal dan stabil.
Timeline ringkas 1926-2026 menandai seabad kontribusi nyata. Dari survei awal hingga operasi harian, situs ini jadi tonggak sejarah. PGE menjaga aset lama sambil menyiapkan sumur baru lewat pengujian efisiensi.
Transformasi digital di lokasi membantu pantau performa. Hasilnya, pasokan listrik terus mengalir tanpa gangguan besar. Jejak ini jadi fondasi bagi ekspansi nasional selanjutnya.
Target Kapasitas 1 GW 2028 hingga 1,8 GW 2034

PGE pastikan komitmen lewat Direktur Eksplorasi Edwil Suzandi. Dalam dialog Squawk Box CNBC 23 Juli 2026, ia tegaskan fokus eksplorasi untuk isi gap kapasitas. Target 1 GW 2028 jadi pijakan awal sebelum lompat ke 1,8 GW 2034.
Potensi nasional sekitar 24 GW menempatkan Indonesia di peringkat dua dunia. Edwil memadukan sudut eksplorasi dengan target operasional jadi peta strategi utuh. Proyeksi jangka panjang itu memberi kejelasan bagi investor dan mitra.
Kolaborasi lintas sektor dipercepat agar milestone tercapai. Inovasi teknologi sumur dan data real-time mengurangi risiko proyek. Dengan potensinya, Indonesia Bisa Jadi Pemimpin Panas Bumi Dunia, PGE siap ambil peran utama.
Langkah Beyond Listrik: Direct Use dan Hidrogen Hijau

PGE tak berhenti di kelistrikan saja. Diversifikasi mencakup direct use untuk pertanian dan industri. Panas bumi langsung dipakai pengeringan hasil panen atau proses pabrik tanpa diubah dulu jadi listrik.
Arti praktisnya jelas bagi pembaca. Pasokan stabil mendukung industri hijau dan pertanian modern. Hidrogen hijau juga digarap sebagai bahan bakar bersih masa depan. Kombinasi ini memperluas manfaat di luar jaringan PLN.
Sudut strategi eksplorasi Edwil menyatu dengan pengembangan beyond electricity. Sumber daya dimanfaatkan lebih optimal. Hasilnya, nilai ekonomi naik sambil emisi ditekan.
Peran Base Load untuk Kurangi Ketergantungan Fosil
PLTP berfungsi sebagai base load. Artinya, ia menyuplai listrik konstan 24 jam tanpa tergantung cuaca. Berbeda dengan tenaga surya atau angin yang fluktuatif.
Peran ini menekan ketergantungan energi fosil secara signifikan. Pembangkit batubara dan gas bisa dikurangi porsinya. Ketahanan sistem kelistrikan nasional ikut menguat.
Dalam wawancara video langsung bersama Mercy Widjaja, manajemen PGE tekankan stabilitas itu. Base load panas bumi jadi andalan transisi energi. Opsinya lebih aman dibanding impor bahan bakar fosil.
Skor ESG, Emisi, dan Kolaborasi Lintas Sektor
PGE raih ESG Risk Rating 7,1. Skor itu tertinggi di Indonesia dan masuk Top 50 Global ESG Companies. Kontribusi hindari emisi setara 4,29 juta ton CO2e sudah tercatat.
Penghargaan Ganesha Geothermal Award di IIGW 2026 menambah bukti kinerja. Kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan industri swasta terus digalang. Inovasi bersama mempercepat efisiensi sumur dan operasi digital.
Optimaise News melihat skor ESG tinggi sebagai modal reputasi. Itu menarik pendanaan hijau global. Emisi yang dihindari memberi dampak nyata bagi target iklim nasional.







