Ulama Luruskan Mitos Bulan Safar 1448 H Bukan Sial

Ulama luruskan mitos bulan Safar 1448 H bukan pembawa sial. Penjelasan hadis Nabi dan cara menyikapi agar terbebas takhayul jahiliyah.

Author Image

Nurul

Ulama Luruskan Mitos Bulan Safar 1448 H Bukan Sial

Kalender Hijriah resmi memasuki bulan kedua tahun 1448. Diskusi soal anggapan petaka di media sosial dan percakapan sehari-hari kembali memanas di tengah masyarakat Indonesia.

Inti artikel

  • Kalender Hijriah resmi memasuki bulan kedua tahun 1448
  • Diskusi soal anggapan petaka di media sosial dan percakapan sehari-hari kembali memanas di tengah masyarakat Indonesia
  • Para ulama dan tokoh agama serentak mengingatkan umat agar tidak terpengaruh

Para ulama dan tokoh agama serentak mengingatkan umat agar tidak terpengaruh. Mereka menekankan bahwa keyakinan sial di Safar bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW sehingga harus ditinggalkan total.

Asal-Usul Mitos Petaka dari Tradisi Arab Jahiliyah

Masyarakat Arab sebelum datangnya Islam memandang Safar sebagai waktu yang rawan celaka. Mereka menghindari perjalanan jauh, pernikahan, hingga urusan penting karena takut malapetaka datang tiba-tiba tanpa sebab.

Tradisi itu lahir dari kebiasaan mengaitkan kejadian buruk dengan pergantian bulan tertentu. Setelah Islam hadir, sebagian kebiasaan lama masih bertahan di kalangan awam meski bertolak belakang dengan prinsip tauhid yang murni.

Sejarawan Islam mencatat bahwa anggapan tersebut termasuk kategori tiyarah atau percaya pada firasat sial. Nabi Muhammad SAW datang untuk membersihkan akidah umat dari unsur-unsur syirik seperti itu agar keyakinan tetap lurus.

Hadis Sahih yang Membantah Adanya Bulan Sial

Hadis Sahih yang Membantah Adanya Bulan Sial

Dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada adwa, tidak ada tiyarah, tidak ada hama, dan tidak ada Safar.” Sabda ini secara eksplisit meniadakan mitos bulan yang membawa sial.

Ulama menjelaskan bahwa kata Safar di hadis tersebut merujuk pada anggapan orang Jahiliyah. Semua bulan ciptaan Allah SWT memiliki kedudukan sama dan tidak membawa sial secara otomatis kepada siapa pun.

Imam Nawawi dalam syarah hadisnya menegaskan bahwa seorang muslim wajib meyakini qada dan qadar Allah. Percaya mitos justru bisa melemahkan tawakkal serta membuka celah bagi syirik kecil yang berbahaya.

Sikap MUI dan Ulama Nusantara terhadap Mitos Ini

Sikap MUI dan Ulama Nusantara terhadap Mitos Ini

Majelis Ulama Indonesia telah berkali-kali mengeluarkan himbauan serupa melalui fatwa dan ceramah publik. Mereka mengajak masyarakat merujuk langsung ke Al-Quran dan hadis daripada mengikuti cerita turun-temurun yang tak berdasar.

Kiai di berbagai pesantren juga aktif memberikan ceramah khusus di awal Safar. Di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera, pengajian rutin membahas topik ini agar santri serta jamaah paham betul akar masalahnya.

Salah satu ulama senior menyatakan bahwa menunda pernikahan hanya karena Safar termasuk bidah yang perlu diluruskan segera. Keputusan hidup harus dilandasi niat baik, ikhtiar, dan doa, bukan ketakutan semu yang diwariskan nenek moyang.

Dampak Mitos di Kehidupan Sehari-hari Masyarakat

Di sejumlah daerah pedesaan dan pinggiran kota, calon pengantin masih enggan menikah di bulan Safar. Keluarga besar sering menyarankan menunggu bulan Rabiul Awal atau setelahnya agar terhindar dari anggapan sial.

Pelaku usaha kecil menengah juga ada yang menunda pembukaan toko baru atau ekspansi bisnis. Mereka khawatir omzet jelek atau rezeki tersumbat akibat keyakinan yang sudah mengakar kuat di lingkungan sekitar.

Padahal data dari lembaga pencatatan pernikahan menunjukkan angka akad di Safar tidak berbeda signifikan dengan bulan lain. Hal ini membuktikan mitos tersebut sama sekali tidak berdasar pada fakta empiris yang valid.

Amalan yang Dianjurkan Rasulullah di Bulan Safar

Nabi Muhammad SAW tidak pernah membedakan amalan antara Safar dengan bulan lainnya dalam setahun. Umat dianjurkan memperbanyak doa, zikir, istighfar, dan sedekah seperti di bulan-bulan biasa.

Memperkuat silaturahmi menjadi salah satu sunnah yang sangat relevan di periode ini. Mengunjungi kerabat, membantu tetangga yang kesulitan, atau bersedekah justru mendatangkan berkah di bulan apa pun tanpa kecuali.

Beberapa ulama menyarankan membaca Al-Quran lebih intensif serta menjaga shalat berjamaah. Amalan itu menenangkan hati, menjauhkan diri dari bisikan negatif, dan memperkuat keimanan di tengah rumor yang beredar.

Cara Bijak Menyikapi Rumor Viral di Media Sosial

Unggahan tentang pengalaman sial di Safar sering viral tanpa sumber yang jelas dan terpercaya. Netizen mudah terbawa emosi lalu menyebarkan ulang cerita tersebut tanpa melakukan cek fakta terlebih dulu.

Tokoh agama menyarankan untuk selalu merujuk ke kitab-kitab rujukan hadis yang sahih. Diskusi langsung dengan ustaz atau kiai setempat juga sangat membantu mengklarifikasi segala keraguan yang muncul.

Dengan literasi digital dan agama yang seimbang, umat bisa memilah mana konten yang bermanfaat dan mana yang menyesatkan. Fokus pada produktivitas harian jauh lebih baik daripada terbelenggu ketakutan tak berdasar yang menghambat kemajuan.

Memasuki Safar 1448 H, diharapkan seluruh masyarakat Indonesia semakin dewasa dalam beragama dan berpikir. Tinggalkan mitos usang, perkuat keyakinan kepada Allah, serta manfaatkan waktu untuk amal saleh yang nyata dan bermanfaat bagi sesama.

Nurul
Redaktur Teknologi

Nurul adalah redaktur teknologi Optimaise News. Meliput gadget, laptop, handphone, spesifikasi, dan harga perangkat untuk pembaca yang banding-banding sebelum beli. Fokus pada fakta spek, rentang harga, dan konteks pemakaian (kerja, kuliah, gaming ringan).