Tinggi muka air Bendung Katulampa Bogor sentuh 0 cm imbas kemarau dalam beberapa hari terakhir. Debit Sungai Ciliwung di Kota Bogor menyusut tajam setelah hujan di hulu Puncak hampir absen sekitar dua pekan.
Optimaise News mencatat kondisi itu tidak hanya mengubah tampilan bendung, tetapi juga memaksa petugas mengatur ulang aliran air ke irigasi dan aliran utama. Dampaknya mulai dirasakan hingga wilayah hilir yang bergantung pada pasokan Ciliwung.
Titik nol bertahan, status di bawah normal
Petugas Bendung Katulampa Subhan memastikan ketinggian TMA sudah di nol sentimeter sejak dua hari sebelumnya dan masih bertahan. “Untuk ketinggian TMA di Bendung Katulampa memang sejak dua hari kemarin ketinggiannya di nol sentimeter (cm). Iya sampai sekarang masih bertahan di nol sentimeter,” katanya saat dihubungi.
Petugas lain, Muhammad Alwan, menyebut pola kemarau biasanya membuat debit fluktuatif antara nol hingga 10 sentimeter. Namun tiga hari terakhir ketinggian benar-benar terus di titik nol, sehingga menjadi perhatian serius.
“Kalau debit air kan fluktuatif, antara nol sampai sepuluh, tetapi tiga hari terakhir ini benar-benar terus mencapai titik nol,” ujar Alwan pada Jumat, 17 Juli 2026.
Batu dasar sungai dan sedimentasi terlihat

Menyusutnya debit membuat batu-batu besar di dasar Sungai Ciliwung di kawasan bendung tampak jelas. Sungai yang biasa terlihat deras saat musim hujan kini hanya menyisakan genangan kecil di bawah fondasi bendung.
“Betul, sampai kelihatan batu-batunya, ya saking menyusutnya ya. Kondisi TMA kan nol sentimeter, jadi sampai dasar sungai juga kelihatan,” kata Subhan. Sedimentasi di dasar sungai juga ikut terbuka, sehingga petugas merencanakan kerja bakti bersama warga dan komunitas untuk mengangkat material itu.
“Tapi memang di kondisi ini memang sedimentasi di dasar sungai juga jadi kelihatan, biasanya kita gotong royong, kerja bakti sama warga, sama komunitas, itu nanti mungkin akan diadakan, untuk mengangkat sedimennya, jadi kita gali,” tambahnya.
Hulu Puncak sepi hujan sejak Juni
Subhan menjelaskan kawasan hulu Ciliwung di Puncak Bogor tidak diguyur hujan sekitar dua pekan. Sejak Juni, hujan sudah jarang, kadang hanya seminggu sekali, dan seminggu terakhir belum ada hujan sama sekali.
“Kondisi ini memang dampak memasuki musim kemarau, dari bulan Juni itu kan hujannya memang sudah jarang-jarang, hujan juga kadang seminggu sekali, malah seminggu ini belum hujan nih,” katanya. “Kalau di hulu nggak ada hujan sampai satu minggu, pastinya air menyusut juga ya yang mengalir ke bendung,” lanjutnya.
Tinggi permukaan air di Bendung Katulampa Bogor menyusut seiring minimnya curah hujan di hulu, sehingga debit yang sampai ke bendung terus menipis.
Prioritas air ke Kali Baru dan ancaman hilir
Saat debit menyusut, aliran dari hulu diprioritaskan ke Sungai Kali Baru di samping bendung agar saluran irigasi dan ekosistem tidak kering. “Betul, jadi kalau kondisi seperti ini aliran air dari hulu, karena kondisinya menyusut kita utamakan agar mengalir ke saluran irigasi, jadi kita tetap penggelontoran air ke Kali Baru, ke saluran irigasi,” kata Subhan.
“Kita ada penggelontoran air untuk menjaga ekosistem sungai (di Kali Baru), jadi jangan sampai kering,” imbuhnya. Alwan merinci pengaturan distribusi sekitar 2.000 liter per detik ke irigasi Kali Baru, sementara penggelontoran ke Ciliwung sekitar 200 liter per detik agar aliran utama tetap ada.
Penurunan debit berpotensi memengaruhi pasokan air baku Perumda Air Minum Tirta Kahuripan yang melayani Cibinong dan sebagian Depok. Warga juga mulai melaporkan sumur dan sumber air bersih mengering, sehingga ketersediaan air tanah dari Bogor hingga Jakarta ikut dikhawatirkan.
“Ini sudah ada laporan dari warga kalau sumber air bersih mulai mengering,” kata Alwan. Dalam ringkasan Optimaise News, titik nol di Katulampa menjadi sinyal dini bagi pengelolaan air Jabodetabek selama puncak kemarau berlanjut.






