Harga Bitcoin merosot di bawah US$64.500 segera setelah sesi Wall Street dibuka Senin 10 Agustus 2026. Aset kripto itu sempat menyentuh US$64.447 di Bitstamp, level terendah sejak Jumat sebelumnya, sebelum rebound tipis.
Inti artikel
- Harga Bitcoin merosot di bawah US$64.500 segera setelah sesi Wall Street dibuka Senin 10 Agustus 2026
- Aset kripto itu sempat menyentuh US$64.447 di Bitstamp, level terendah sejak Jumat sebelumnya, sebelum rebound tipis
- Koreksi ini menghapus hampir seluruh kenaikan akhir pekan
Koreksi ini menghapus hampir seluruh kenaikan akhir pekan. Tekanan datang seiring ketegangan geopolitik Amerika Serikat-Iran yang mendorong minyak mentah WTI naik hampir 5 persen ke US$80,90 per barel, sementara Selat Hormuz dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak harian dunia.
Minyak WTI, Hormuz, dan Dampak pada Aset Berisiko
Lonjakan harga minyak mentah langsung menambah guncangan di pasar global. Wakil Ketua Majelis Konsultatif Islam Iran Ali Nikzad menegaskan tidak tersedia pilihan militer untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pernyataan itu mempertegas risiko rantai pasok energi yang rentan.
Bagi investor ritel dan pelaku UMKM di Indonesia, gelombang ini terasa lewat korelasi aset berisiko. Ketika minyak naik tajam, likuiditas global kerap tersedot ke komoditas, meninggalkan ruang sempit bagi kripto. Optimaise News mencatat bahwa pola serupa sering menggerakkan rupiah dan portofolio lokal dalam satu sesi.
Di saat bersamaan USD/JPY menembus 159 dan mendekati ambang psikologis 160. Intervensi bersama Amerika Serikat-Jepang belum mampu menahan pelemahan yen. Mohamed El-Erian mengingatkan bahwa pelemahan yen setelah intervensi memperlihatkan perlunya bauran kebijakan yang tepat untuk mengatasi salah harga, sebab penundaan justru mempersulit perbaikan.
Data Spot, Volume Bursa, dan Rebound Tipis Bitcoin
Di Bitstamp, harga terendah US$64.447 sempat tercatat sebelum buy-side muncul. Glassnode Market Pulse menunjukkan momentum spot kembali netral. Pembelian di pasar spot naik tajam, namun volume di bursa tersentralisasi tetap lemah. Kombinasi ini menandakan minat spot ada, tetapi kedalaman pasar belum pulih penuh.
Investor lokal yang memantau grafik biasanya melihat kondisi serupa sebagai fase waiting. Rebound tipis hari Senin belum cukup untuk memulihkan momentum akhir pekan. Pasar masih bergerak hati-hati menunggu kejelasan aliran petrodolar dan arahan suku bunga global.
Dalam konteks UMKM yang mulai menempatkan sebagian kas di aset digital, frekuensi pantauan sebaiknya dinaikkan saat minyak bergerak di atas 5 persen sehari. Volatilitas seperti ini bisa mengubah margin jaminan pinjaman kripto atau nilai agunan dalam sekejap.
Aliran ETF Spot AS dan Posisi Institusi
Farside Investors mencatat net inflows spot Bitcoin ETF Amerika Serikat mencapai USD 865,3 juta sepekan terakhir. Angka itu memperlihatkan minat institusi tetap ada meski harga spot terkoreksi. Aliran masuk ETF sering menjadi penyeimbang ketika volume CEX sedang lesu.
Namun inflows saja tidak otomatis mengangkat harga bila tekanan makro dari minyak dan yen masih dominan. Optimaise News menekankan bahwa pelaku usaha kecil di tanah air perlu memisahkan antara aliran institusi jangka menengah dengan shock geopolitik harian. Keputusan alokasi sebaiknya mempertimbangkan kedua lapisan tersebut.
Pelemahan yen yang mendekati 160 turut memperketat kondisi likuiditas carry trade. Ketika pair USD/JPY bergolak, aliran spekulatif ke kripto sering berkurang karena biaya pendanaan naik. Efek ini biasanya terasa lebih cepat di pasar Asia termasuk Indonesia.







