Jakarta, Optimaise News – Pada 8 Agustus 2026, Sultan Hassanal Bolkiah cabut gelar Yang Amat Mulia Pengiran Anak Isteri dari Pengiran Raabi’atul Adawiyyah Pengiran Haji Bolkiah, istri Pangeran Abdul Malik Hassanal Bolkiah di kerajaan Brunei Darussalam. Keputusan langsung ini diambil karena perilaku menantunya yang dianggap mencoreng nama baik institusi kerajaan dan kurangnya rasa hormat terhadap Sultan Hassanal Bolkiah.
Inti artikel
- Keputusan Sultan Brunei ini mengguncang dinamika keluarga kerajaan yang selama ini erat
- Proses pencabutan berlangsung tanpa rincian lebih lanjut mengenai perilaku spesifik yang menyebabkan masalah tersebut
- Ia menikah dengan Pangeran Abdul Malik Hassanal Bolkiah pada 12 April 2015 di Istana Nurul Iman
Penjabat Kepala Protokol Kerajaan Pengiran Haji Raffizanna Pengiran Haji Razali menyatakan tindakan pencabutan gelar bertujuan menjaga akhlak dan keluhuran gelar Pengiran Anak Isteri dalam lingkungan keluarga kerajaan yang besar.
Latar Belakang Keputusan Sultan Brunei Mencabut Gelar Raabi’atul Adawiyyah
Keputusan Sultan Brunei ini mengguncang dinamika keluarga kerajaan yang selama ini erat. Gelar yang dicabut langsung oleh Sultan ini tidak hanya berkaitan dengan status pribadi tetapi juga mencerminkan penegakan disiplin dalam institusi kerajaan yang menggunakan sistem pengangkatan gelar tradisional. Proses pencabutan berlangsung tanpa rincian lebih lanjut mengenai perilaku spesifik yang menyebabkan masalah tersebut.
Profil Pengiran Raabi’atul Adawiyyah dalam Dunia Kerajaan Brunei
Pengiran Raabi’atul Adawiyyah lahir pada 27 Oktober 1992 sebagai anak kedua dari sepuluh bersaudara dari Pengiran Haji Bolkiah bin Pengiran Haji Jaluddin dan Pengiran Hajah Noor’aismah. Ia menikah dengan Pangeran Abdul Malik Hassanal Bolkiah pada 12 April 2015 di Istana Nurul Iman. Gelar Yang Amat Mulia Pengiran Anak Isteri yang diberikan sebelumnya kini dicabut sesuai titah Sultan.
Sebagai bagian dari lingkaran keluarga kerajaan, peran Pengiran Raabi’atul Adawiyyah dianggap strategis. Namun pencabutan gelar ini menimbulkan pertanyaan tentang stabilitas keluarga penguasa Brunei darussalam yang dikenal dengan kekayaan luar biasa dan pengaruhnya di Asia Tenggara.
Pendidikan dan Prestasi Pengiran Raabi’atul Adawiyyah
Pengiran Raabi’atul Adawiyyah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Al-Falaah, Sekolah Rendah Rimba I, Sekolah Menengah Menglait, serta Sekolah Agama Pengiran Anak Puteri Hafizah Sururul Bolkiah. Di usia muda ia meraih kategori Pembacaan Al-Qur’an Terbaik dalam kontes Miss World Muslimah di Indonesia tahun 2013, menunjukkan bakatnya di bidang agama dan bahasa Arab.
Latar Belakang Teknologi Informasi dan Sertifikasi Pengiran Raabi’atul
Di balik prestasi akademisnya, Pengiran Raabi’atul Adawiyyah memiliki latar belakang teknologi informasi dengan berbagai sertifikasi seperti Internet and Computing Core Certification, Microsoft Office Specialist, serta sertifikat lainnya. Latar belakang ini menjadi nilai tambah di era digital di mana keluarga kerajaan kerap melibatkan anggota dengan kemampuan modern.
Dampak Pencabutan Gelar terhadap Keluarga dan Sultan Brunei
Pencabutan gelar dari menantunya pengaruhi citra keseluruhan keluarga sultan brunei yang memiliki status tinggi. Dalam konteks sultan brunei darussalam yang terkenal dengan kekayaan sultan brunei melimpah, keputusan ini menandakan upaya pelindungan nilai-nilai tradisional kerajaan. Anak sultan brunei seperti Pangeran Abdul Malik juga menjadi pusat perhatian publik selama periode adaptasi ini.
Kepercayaan Publik terhadap Sistem Gelar di Sultan Brunei
Berita pencabutan gelar ini menjadi sorotan karena berkaitan langsung dengan derajat daripada anak sultan brunei dan stabilnya institusi kerajaan. Bagi publik yang mengikuti perkembangan keluarga penguasa Brunei darussalam, kasus ini memberikan gambaran tentang mekanisme pengawasan gelar di era modern.







