Penelitian matematika dari Universitas Wroclaw di Polandia dan Universitas Charles di Ceko yang diterbitkan di jurnal PNAS membuktikan praktik kanibalisme tidak sustainable jangka panjang. Risiko infeksi jauh lebih besar daripada manfaat nutrisi yang diberikan daging manusia.
Inti artikel
- Risiko infeksi jauh lebih besar daripada manfaat nutrisi yang diberikan daging manusia
- Dampak epidemiologisnya justru bisa meruntuhkan komunitas lebih cepat dari manfaat kalorinya
- Tapi fakta ini tidak bisa diabaikan
Data kalori rendah menunjukkan praktik ini hanya viable di situasi terbatas, seperti memakan mayat yang sudah dimasak atau bukan antar sesama kanibal. Dampak epidemiologisnya justru bisa meruntuhkan komunitas lebih cepat dari manfaat kalorinya.
Mengapa Kanibalisme Masih Terjadi Meski Berbahaya
Praktik memakan manusia memang sudah ada sejak zaman purba, tapi di era modern masih muncul karena alasan ritual, perang, atau kelaparan ekstrem. Seorang pelaut bernama Alvarenga bertahan hidup 18 bulan di pulau terpencil dengan memakan teman satu kapalnya, termasuk daging anaknya sendiri. Kasus serupa dengan pelaku Jeffrey Dahmer yang memakan korban setelah membunuh mereka menunjukkan betapa rapuhnya batas manusiawi di bawah tekanan ekstrem.
Tapi fakta ini tidak bisa diabaikan. Di Indonesia, praktik kanibalisme pernah muncul pada suku-suku terpencil seperti di Papua, bukan karena kebutuhan nutrisi melainkan ritual atau mitos penciptaan dunia. Media seperti Santa Clarita Diet juga sempat bikin ramai dengan mengangkat topik ini sebagai tontonan komedi gelap, meski realitanya jauh lebih mengerikan daripada sinematik.
Model Matematika Ungkap Keterbatasan Praktik Ini
Model matematika yang dikembangkan peneliti dari Universitas Wroclaw dan Charles University menunjukkan kanibalisme tidak akan bertahan lama. Daging manusia memberikan nutrisi dan energi sama dengan hewan lain, tapi hanya viable kalau dimasak atau dimakan bukan sesama kanibal. Kalau makan hidup-hidup sesama kanibal, rantai infeksi langsung meledak.
Model ini juga mengintegrasikan contoh suku Fore di Papua Nugini. Penelitian menunjukkan tabu budaya berfungsi sebagai perisai efektif melindungi populasi dari kepunahan total. Tanpa tabu itu, praktik kanibalisme akan musnahkan kelompok dalam waktu singkat karena penyebaran patogen yang lebih cepat dibandingkan makan daging hewan biasa.
Risiko Penyebaran Penyakit dalam Rantai Kanibalisme
Rantai kanibalisme mempercepat penyebaran penyakit karena patogen beredar di spesies yang sama. Ini berbeda jauh dengan makan hewan liar yang jarang membawa strain penyakit manusia. Penyakit kuru yang diderita suku Fore adalah contoh nyata bagaimana kanibalisme bisa menghancurkan komunitas dalam hitungan tahun.
Petr Tureček dari Universitas Charles menyatakan dampak epidemiologis jauh lebih bahaya daripada manfaat kalori. Penelitian ini menggabungkan sintesis model matematika dengan data suku Fore untuk menjelaskan mengapa praktik ini hanya episodic dan tidak pernah bertahan lama. Tanpa perubahan budaya, risiko penyebaran penyakit akan terus mengancam keberlangsungan hidup manusia.
Contoh Nyata Suku Fore dan Penyakit Kuru
Suku Fore di Papua Nugini sempat mengalami ledakan penyakit kuru karena mereka masih memakan jenazah keluarga. Setelah penyakit itu reda berkat pemberantasan oleh pemerintah Australia, suku tersebut berhenti memakan mayat. Pola ini mirip dengan kasus pelaut Alvarenga yang berhenti makan kawannya setelah mengalami kelaparan ekstrem dan akhirnya selamat.
Penelitian matematika juga membuktikan praktik ini hanya masuk akal kalau dimasak terlebih dahulu atau dimakan bukan dari kanibal hidup. Dalam kondisi seperti itu, risiko infeksi bisa dikendalikan sementara, tapi tetap saja jauh lebih tinggi dibandingkan praktik nutrisi biasa dari hewan lain.
Tabu Budaya sebagai Perisai dari Kepunahan
Tabu budaya seperti tidak memakan jenazah justru menyelamatkan suku Fore dari kepunahan total. Model matematika yang dikembangkan peneliti menunjukkan tabu ini berfungsi sebagai perisai biologis yang sangat efektif. Tanpa tabu, rantai kanibalisme akan mempercepat kepunahan kelompok karena penyebaran penyakit yang tak terkendali.
Hari ini, banyak masyarakat yang menerapkan pendekatan serupa melalui edukasi kesehatan dan penghapusan ritual kuno. Optimaise News menilai bahwa pendekatan ini lebih manusiawi daripada membiarkan praktik kanibalisme berlanjut hanya karena alasan nutrisi yang sebenarnya minim. Dengan pemahaman matematika yang lebih baik, manusia dapat belajar dari sejarah agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
Secara keseluruhan, penelitian ini mengingatkan kita betapa rapuhnya batas antara manusia dan hewan. Meski daging manusia memberikan nutrisi dan energi seperti daging hewan lain, risiko infeksi yang lebih tinggi membuat praktik ini tidak sustainable jangka panjang. Suku Fore yang akhirnya berhenti memakan jenazah setelah penyakit kuru reda menjadi bukti nyata bagaimana tabu budaya bisa menyelamatkan hidup banyak orang.







