Komite Perdagangan Senat AS meloloskan Motor Vehicle Modernization Act of 2026 secara bipartisan. RUU itu memasang ambang kepemilikan investor China maksimal 15 persen bagi produsen mobil yang ingin jual di pasar Amerika.
Inti artikel
- Komite Perdagangan Senat AS meloloskan Motor Vehicle Modernization Act of 2026 secara bipartisan
- RUU itu memasang ambang kepemilikan investor China maksimal 15 persen bagi produsen mobil yang ingin jual di pasar Amerika
- Ambang tersebut justru menjerat Mercedes-Benz lewat saham BAIC dan Li Shufu yang total hampir 20 persen
Ambang tersebut justru menjerat Mercedes-Benz lewat saham BAIC dan Li Shufu yang total hampir 20 persen. Senator Ted Cruz langsung peringatkan agar aturan diamandemen dulu sebelum jadi undang-undang. Liputan Optimaise News menyoroti risiko tak terduga bagi merek premium Jerman yang akrab di pasar Indonesia.
Hitungan Saham BAIC dan Li Shufu yang Melebihi Ambang 15%
BAIC, produsen mobil milik pemerintah China, memegang 9,98 persen saham Mercedes-Benz. Li Shufu, pendiri Geely, memiliki 9,69 persen saham yang sama.
Gabungan keduanya mendekati 20 persen. Angka itu jelas melampaui batas 15 persen yang diusulkan dalam RUU.
Jika aturan berlaku tanpa perubahan, Mercedes berisiko kehilangan akses pasar AS. Bagi konsumen Indonesia, merek ini dikenal sebagai simbol status di segmen premium. Gangguan di pasar terbesar dunia bisa memengaruhi citra dan rantai pasok global.
Alasan Keamanan Data Connected Car di Balik RUU

Bernie Moreno dari Partai Republik Ohio dan Elissa Slotkin dari Partai Demokrat Michigan menjadi pengusul utama. Kekhawatiran mereka berpusat pada connected car atau mobil terhubung.
Mobil modern mengumpulkan data lokasi, pola mengemudi, hingga informasi pribadi. Senat menilai data sensitif itu bisa menjadi ancaman keamanan nasional jika dikuasai entitas China.
RUU ini dirancang melindungi basis industri otomotif AS sekaligus menjaga privasi warga. Moreno menekankan perlunya benteng terhadap pengaruh asing di sektor kritis.
Cruz Desak Amandemen, Mercedes Dapat Tenggat 2030

Ted Cruz, ketua komite dari Texas, menyatakan aturan bisa tak sengaja melarang Mercedes. Ia mendesak amandemen segera agar dampak sampingan tidak terjadi.
Moreno menjelaskan Mercedes masih punya waktu hingga 2030 untuk menyesuaikan kepemilikan. Perusahaan juga bisa mengajukan waiver atau pengecualian khusus.
Proses waiver memberi ruang negosiasi syarat keamanan data dan divestasi bertahap. Hingga 2030, Mercedes bisa merestrukturisasi saham China tanpa menghentikan operasi harian. Konsumen AS tetap mendapat pasokan model premium selama masa transisi.
Status legislasi saat ini masih di tahap lolos komite. RUU belum menjadi undang-undang. Langkah berikutnya meliputi amandemen, pembahasan di lantai Senat, lalu persetujuan DPR.
10.000 Pekerja AS dan Pabrik Alabama-South Carolina
Mercedes-Benz menolak memberi komentar tentang isi RUU. Perusahaan justru menyoroti kontribusi ekonomi di tanah Amerika.
Lebih dari 10.000 pekerja AS bergantung pada operasional Mercedes. Pabrik perakitan beroperasi di Alabama dan South Carolina.
Ancaman larangan penjualan berisiko memicu gelombang PHK. Faktor pekerjaan inilah yang memperkuat desakan Cruz agar RUU direvisi sebelum berdampak luas.
Tuduhan Cruz: GM Dorong Aturan demi Cadillac
Cruz menuduh General Motors mendukung ketentuan ambang 15 persen. Motif yang digambarkan adalah membuka ruang bagi Cadillac di pasar luxury AS dengan menyingkirkan Mercedes.
Jika Mercedes terhambat, Cadillac berpeluang naik di segmen premium. Tuduhan ini menambah lapisan politik di balik RUU yang semula dibingkai sebagai isu keamanan data.
Persaingan luxury AS menjadi lebih ketat. Mercedes tetap pemain kuat global, namun akses pasar domestik AS sangat menentukan volume dan citra merek.







