GKR Condrokirono menerima laporan dari calon korban soal video yang menyerupai ayahnya, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Video itu beredar lewat WhatsApp dan mengarahkan pembayaran barang dulu sebelum dikirim, termasuk narasi soal koin kuno serta sebutan nama seseorang.
Inti artikel
- GKR Condrokirono menerima laporan dari calon korban soal video yang menyerupai ayahnya, Sri Sultan Hamengku Buwono X
- Diskominfo DIY memastikan isi video hasil rekayasa AI atau deepfake, bukan dokumentasi Humas Pemda DIY
- Ini temuan pertama video AI yang mencatut Gubernur DIY
Diskominfo DIY memastikan isi video hasil rekayasa AI atau deepfake, bukan dokumentasi Humas Pemda DIY. Ini temuan pertama video AI yang mencatut Gubernur DIY. Optimaise News memaparkan jalur laporan, ciri narasi pembeda, dan checklist cepat agar warga tak mudah terjebak.
Jalur Laporan: Dari Calon Korban ke Putri Sultan
Calon korban sempat menerima video lewat chat WhatsApp. Ia kemudian membagikan cuplikan itu ke kolega atau orang dekat yang punya akses ke putri Sultan.
GKR Condrokirono segera menindaklanjuti laporan tersebut. Informasi dibawa ke jajaran Pemda DIY agar dicek keasliannya oleh Humas dan Diskominfo.
Timeline ringkas penemuan berjalan satu alur. Laporan masuk sore hari, Humas memverifikasi ada atau tidak dokumentasi resmi sejenis, lalu Diskominfo menegaskan bahwa video itu AI. Imbauan publik menyusul agar masyarakat waspada dan tidak menyebarluaskan.
Urutan laporan-verifikasi-penegasan-imbauan ini menjadi gambaran kasus perdana catut Gubernur DIY. Warga yang jarang melihat penampilan asli Sultan lebih rentan percaya. Kemiripan wajah dan suara hasil AI terasa meyakinkan bila tak ada pembanding langsung dari kanal resmi.
Ciri Narasi yang Menandai Video Bukan Asli

Narasi video mengarahkan orang bayar dulu sebelum barang dikirim. Ada pula penyebutan nama seseorang dan gaya bicara yang terasa sangat pribadi, seolah Sultan sedang berurusan langsung dengan penerima chat.
Pernyataan ranah pribadi seperti itu tidak pernah muncul dalam komunikasi resmi Sultan. Pejabat tinggi DIY juga jarang meminta transfer uang lewat video informal di WhatsApp.
Cara penyampaian sering terasa kaku atau terlalu mulus untuk rekaman alami. Intonasi dan tempo kadang tidak pas dengan kebiasaan bicara Sultan di acara resmi. Gabungan fakta kasus pertama, adanya calon korban nyata, dan indikator narasi pribadi ini bisa jadi alat deteksi sederhana bagi awam.
Kalau video mengajak transaksi koin kuno atau barang koleksi dengan skema bayar di muka, waspadai segera. Pola itu yang muncul di sebaran WhatsApp kali ini dan langsung memicu laporan ke putri Sultan.
Penegasan Diskominfo DIY soal Asal dan Teknologi AI

Diskominfo DIY memastikan video bukan produk Humas Pemda DIY. Tidak ada dokumentasi resmi yang cocok dengan cuplikan yang beredar di chat warga.
Isi dan cara penyampaian dinilai hasil rekayasa teknologi AI. Deepfake memungkinkan wajah dan suara seseorang ditiru untuk menghasilkan video palsu yang meyakinkan di layar ponsel.
Pejabat terkait menekankan bahwa Sultan tidak pernah mengeluarkan pernyataan seperti itu di saluran resmi. Klarifikasi disampaikan bertahap agar publik paham konten tersebut hoaks murni.
Penegasan itu menutup ruang spekulasi. Warga diminta tidak percaya dan tidak meneruskan video serupa ke grup atau kontak lain.
Status Respons: Edukasi Dulu, Hukum Belum
Pemda DIY memprioritaskan literasi digital. Edukasi ke masyarakat dinilai lebih mendesak daripada langkah hukum pada tahap ini.
Langkah hukum belum dibahas secara terbuka. Fokus sementara ada pada pencegahan agar kasus serupa tak terulang dan warga tahu cara memilah informasi di chat.
Sensor nama tokoh dalam materi klarifikasi juga dilakukan. Tujuannya agar dampak pada pihak yang disebut di narasi palsu tidak semakin luas.
Respons ini mencerminkan pendekatan hati-hati. Edukasi dulu digulirkan, penegakan menyusul jika bukti lebih lengkap dan korban bertambah.
Checklist Cepat Saat Terima Video Mengatasnamakan Pejabat
Saat menerima video yang mengatasnamakan pejabat lewat chat, lakukan cek cepat ini sebelum percaya atau sebar. Checklist praktis lima langkah berikut bisa langsung dipraktikkan.
- Pastikan sumbernya akun resmi Humas Pemda DIY atau kanal terverifikasi pejabat dan pemerintah daerah.
- Waspadai narasi yang minta transfer atau bayar di muka sebelum barang dikirim.
- Bandingkan wajah dan suara dengan video resmi yang sudah dikenal dari acara publik.
- Tanyakan ke orang terpercaya di lingkaran pejabat atau hubungi saluran aduan Diskominfo DIY.
- Simpan bukti chat dan video, tapi jangan teruskan ke grup lain sebelum statusnya jelas.
Apa beda deepfake dengan edit video biasa? Deepfake memakai kecerdasan buatan untuk meniru wajah dan suara secara utuh sehingga terlihat seperti orang aslinya sedang berbicara. Edit biasa biasanya hanya potong-tempel gambar atau ubah teks tanpa meniru suara hidup yang natural.
Apa yang harus dilakukan jika merasa jadi target scam semacam ini? Jangan transfer uang. Laporkan ke Diskominfo DIY atau polisi setempat, simpan bukti video serta chat, lalu cek ulang ke sumber resmi Pemda. Ajak keluarga dan teman agar tak mudah percaya video pejabat yang masuk lewat WhatsApp.
Dengan checklist dan pemahaman ciri narasi, warga bisa lebih tangguh menghadapi rekayasa AI. Kasus catut Sultan DIY ini jadi pengingat bahwa deepfake sudah masuk ke ranah pejabat daerah dan bisa menarget siapa saja di chat pribadi.







