Sistem perfusi otomatis berhasil menjaga bola mata donor tetap merespons cahaya hingga 10 jam setelah kematian. Perangkat bernama Eye-in-Care-Box mengalirkan oksigen dan darah lewat arteri oftalmik sehingga jaringan lebih awet dibanding rekor lima jam pada 2022.
Menurut pantauan Optimaise News, 15 dari 36 mata yang diuji memunculkan sinyal elektrik mirip manusia hidup. Temuan ini dinilai membuka peluang transplantasi penglihatan penuh yang selama ini terhambat degenerasi retina.
Mekanisme Perangkat Eye-in-Care-Box dalam Menjaga Suplai Oksigen
Tim pimpinan Eimear Byrne di institut riset Barcelona merancang saluran ke arteri oftalmik agar mata donor mendapat suplai mirip kondisi di tubuh. Sensor otomatis mengatur tekanan dan aliran larutan kaya oksigen di dalam kotak perawatan khusus.
Tujuannya sederhana: menekan kerusakan akibat kekurangan oksigen secepat mungkin. Dengan lingkungan yang stabil, metabolisme jaringan diharapkan tidak langsung ambruk setelah donor meninggal dunia.
Pendekatan ini membedakan uji terbaru dari sekadar menyimpan bola mata dalam wadah dingin biasa. Kontrol aliran yang dinamis menjadi kunci agar sirkuit cahaya di retina tidak padam terlalu dini.
Mengapa Retina Lebih Sulit Ditangani Dibandingkan Kornea

Transplantasi kornea sudah lama memperbaiki penglihatan dengan mengganti lapisan jernih di depan mata. Sebaliknya, retina menempel pada sistem saraf pusat sehingga rawan rusak permanen bila aliran oksigen terputus.
Di Inggris, warga yang buta atau mengalami gangguan penglihatan tetap akibat kerusakan retina—termasuk degenerasi makula—jumlahnya melampaui sejuta orang. Kebutuhan terapi pengganti retina pun kian mendesak.
Sejak 2023, transplantasi sebagian wajah maupun bola mata utuh sudah dicoba. Namun prosedur itu belum mengembalikan penglihatan penerima karena jalur visual ke otak tidak tersambung ulang.
Iskemia singkat saja dapat merusak kepekaan neuron terhadap cahaya. Karena itu, menjaga metabolisme pasca kematian jadi prasyarat sebelum operasi penempelan saraf optik bisa diuji lebih jauh.
Hasil Uji pada Enam Mata Donor dan Perbandingan dengan Tanpa Perfusi

Pada tahap awal, enam mata donor diuji secara berpasangan: satu sisi diperfusi, sisi lain dibiarkan tanpa suplai. Yang mendapat aliran darah dan oksigen mempertahankan bentuk retina serta kondisi jaringan sekitar hingga 24 jam.
Tanpa perfusi, kerusakan muncul jauh lebih cepat. Tim kemudian memperluas uji ke 36 bola mata dan menemukan 15 di antaranya memunculkan sinyal elektrik saat disinari, mirip respons pada orang hidup.
Respons itu bertahan sampai 10 jam pasca kematian—dua kali capaian studi 2022. Dua puluh satu mata lain yang juga diperfusi tidak memberikan sinyal serupa, dan penyebabnya belum terjelaskan.
Angka-angka ini menandai bahwa orang meninggal bisa menyumbang jaringan visual yang masih “hidup” secara fungsional. Namun konsistensi antar-donor masih jadi pekerjaan rumah riset lanjutan.
Prospek bagi Jutaan Penderita Kerusakan Retina Permanen
Jika metabolisme mata donor bisa dijaga, peluang memadukan temuan regenerasi saraf optik dengan transplantasi utuh menjadi lebih realistis. Beberapa kelompok sudah meneliti cara mendorong pertumbuhan ulang serabut saraf tersebut.
Tanpa koneksi baru ke pusat penglihatan, bola mata yang ditanam tidak akan menyampaikan sensasi visual ke otak penerima. Menjaga kesehatan jaringan dulu dinilai langkah pendamping yang krusial agar donor tidak “habis” oleh iskemia.
Eye-in-Care-Box juga berpotensi jadi platform uji terapi penglihatan pada mata manusia, bukan hanya model hewan. Model in-vitro semacam itu dapat mempercepat evaluasi obat dan pemahaman biologi penyakit retina.
Bagi pasien yang retina-nya rusak permanen, skenario “bisa dihidupkan kembali” jaringan donor bukan lagi fiksi semata—meski jalan klinisnya masih panjang dan multi-disiplin.
Pandangan Ahli Independen soal Langkah Menuju Transplantasi Mata Utuh
Thomas Johnson, peneliti Johns Hopkins University yang tidak ikut studi, menilai temuan ini bisa menjadi langkah penting menuju kemungkinan transplantasi mata seutuhnya. Ia menekankan bahwa menjaga respons cahaya di luar tubuh manusia adalah capaian luar biasa.
“Penelitian ini bisa menjadi langkah penting kemungkinan transplantasi mata seutuhnya,” ujar Johnson. Ia juga mengingatkan risiko: “Bahkan durasi singkat iskemia kemungkinan bisa menyebabkan degenerasi permanen pada kepekaan neuron dan sirkuit akan cahaya.”
Soal hambatan koneksi otak, penjelasannya tegas. “Tanpa hal itu, mata donor tidak akan memiliki cara untuk mengirimkan sensasi visual ke otak penerima,” katanya.
Johnson mendorong agar berbagai temuan—perfusi jaringan, regenerasi saraf, dan teknik bedah—mulai digabung. Catatan Optimaise News menunjukkan, justru titik temu antar-laboratorium itu yang akan menentukan kapan transplantasi penglihatan penuh masuk fase uji yang lebih berani.
FAQ
Berapa lama retina donor bisa tetap aktif setelah kematian?
Hingga 10 jam respons terhadap cahaya tercatat pada sebagian mata yang diperfusi, dua kali lipat dari capaian lima jam pada 2022. Kesehatan jaringan sekitar dapat bertahan sampai 24 jam dengan aliran oksigen terkontrol.
Apa bedanya transplantasi kornea dengan target retina?
Kornea diganti di lapisan depan dan sudah memperbaiki penglihatan banyak pasien. Retina terhubung saraf pusat sehingga jauh lebih rentan iskemia dan belum memulihkan penglihatan meski bola mata utuh pernah ditransplantasikan sejak 2023.
Apakah semua mata donor merespons cahaya setelah perfusi?
Tidak. Dari 36 bola mata yang diperfusi, hanya 15 yang menampilkan sinyal elektrik mirip manusia hidup. Alasan 21 mata lain tidak berespons masih belum terpecahkan.
Apa hambatan terbesar menuju transplantasi mata yang mengembalikan penglihatan?
Meregenerasi serabut saraf optik agar tersambung ke pusat visual di otak. Tanpa jalur itu, sensasi cahaya tidak bisa dikirim meski retina donor masih sehat secara metabolik.







