Malang, Optimaise News – Sekitar 200 mahasiswa lintas kampus memenuhi Auditorium lantai 7 Malang Creative Center (MCC) dalam RedTalks 2026. Forum digelar DPD PDI Perjuangan Jawa Timur bersama detikcom ini menyatukan Rocky Gerung, akademisi, komika, dan aktivis kampus untuk dialog dua arah soal skeptis politik serta jalan kemandirian Gen Z.
Inti artikel
- Sekitar 200 mahasiswa lintas kampus memenuhi Auditorium lantai 7 Malang Creative Center (MCC) dalam RedTalks 2026
- Sejak pagi, aula di lantai 7 MCC sudah ramai
- Mahasiswa berdatangan membawa idealisme dan rasa penasaran
Bertema Indonesia Punya Kita: Nasionalisme Tanpa Batas Generasi, acara ini menjawab kebutuhan ruang bicara terbuka di tengah arus informasi digital dan ketidakpastian ekonomi. Optimaise News mencatat peserta datang dari Universitas Brawijaya, UNMER, UNISMA, Poltekkes Malang, Polinema, STAIMA, dan Universitas Negeri Malang dengan antusiasme tinggi sejak pagi.
Antusiasme Pagi di Auditorium Lantai 7 MCC
Sejak pagi, aula di lantai 7 MCC sudah ramai. Mahasiswa berdatangan membawa idealisme dan rasa penasaran. Suasana akrab terasa ketika mereka duduk berbaur, siap menyimak sekaligus bertanya langsung.
RedTalks 2026 Malang menjadi tahun kedua penyelenggaraan. Kali ini fokusnya lebih tajam: mendengar suara anak muda tanpa sekat formal. Said Abdullah sempat menekankan bahwa generasi Y, Z, dan A hidup di dua dunia sekaligus, yaitu nyata dan digital, sehingga forum seperti ini penting untuk menangkap aspirasi mereka.
Dua Sesi Inti: Skeptisisme Parpol dan Jalan Mandiri di Tengah Ketidakpastian

Sesi pertama mengangkat judul Anak Muda dan Partai Politik. Pertanyaannya sederhana tapi berat: masih percaya atau sudah kehilangan harapan. Banyak peserta mengungkapkan jarak antara janji parpol dan kenyataan sehari-hari.
Sesi kedua berjudul Mandiri atau Menyerah. Diskusi mengarah ke entrepreneurship, ekonomi kreatif, upskilling, dan reskilling. Narasumber menekankan peran negara membuka peluang kerja serta pelatihan agar anak muda tak pasrah di tengah tekanan ekonomi.
Kedua topik ini saling terkait. Skeptis terhadap parpol sering muncul karena jalan mandiri terasa sempit. Forum mencoba menjembatani keduanya lewat percakapan yang jujur.
Jajaran Narasumber Lintas Disiplin: Rocky Gerung hingga Komika

Rocky Gerung hadir sebagai pemikir yang kerap menantang cara pandang baku. Ia didampingi Dr. Suko Widodo dan Drs. Dwi Cahyono yang membawa perspektif akademis serta budaya. Dari sisi ekonomi kreatif hadir Qintharra Ulya Yassifa, Wakabid Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital PDIP Jatim, serta Dr. Silvi Asna Prestianawati.
Komika Abdel Achrian dan Dewangga memberi warna ringan tanpa kehilangan ketajaman. Kehadiran mereka membuat dialog tak kaku. Pemandu forum, Alfian, menjaga alur tetap hidup dan memberi ruang tanya-jawab merata.
Peta narasumber ini sengaja disusun lintas disiplin. Tujuannya agar satu meja bisa menampung kritik, data, humor, dan usulan praktis sekaligus.
Suara Kampus Malang: BEM, GMNI, dan PMII di Meja Dialog
Empat perwakilan mahasiswa ikut duduk di meja dialog. Mereka adalah Kafitan Aidil Fitra Sukirman, Aryo Bimo Soebagio, Mochamad Alif Firdaus, dan Benny Miftahul Arifin. Masing-masing membawa pengalaman organisasi BEM, GMNI, dan PMII di Malang.
Mereka menyampaikan keluhan konkret soal akses kebijakan, biaya hidup, dan ruang ekspresi politik. Suara mereka tidak dibungkam. Justru menjadi bahan baku rekomendasi yang disusun di akhir acara.
Kehadiran aktivis kampus ini membedakan RedTalks dari ceramah satu arah. Mahasiswa bukan penonton, melainkan lawan bicara setara.
Format Talk Show Tiga Jam hingga Rekomendasi Kebangsaan
Acara berlangsung sekitar tiga jam dalam format talk show interaktif. Dialog dua arah menjadi inti. Setiap sesi membuka sesi tanya dari peserta, lalu dilanjutkan sintesis singkat dari narasumber.
Di penutup, seluruh pihak menyusun rekomendasi dan refleksi kebangsaan. Poin-poin yang muncul mencakup penguatan literasi politik, perluasan program upskilling, serta ruang dialog reguler antara partai dan kampus. Optimaise News menilai output ini sebagai nilai lebih yang jarang muncul di forum sejenis.
Format panjang ini memungkinkan pembahasan tak permukaan. Peserta sempat berdiskusi soal peran negara membuka pasar bagi usaha muda dan pentingnya reskilling di era digital.







