Rangga tampil sebagai peserta terakhir di Final Audition Dangdut Academy 8 pada Selasa, 21 Juli 2026. Ia membawakan Nyanyian Setan karya Rhoma Irama dengan energi yang tetap terkendali meski fisik tampak lelah dan mata sering terkantuk-kantuk.
Inti artikel
- Rangga tampil sebagai peserta terakhir di Final Audition Dangdut Academy 8 pada Selasa, 21 Juli 2026
- Penampilan itu diganjar Standing Ovation tunggal dari Dewi Perssik
- Tiga juri lalu merangkai pujian energi serta aura dengan catatan teknis soal tempo dan dinamika
Penampilan itu diganjar Standing Ovation tunggal dari Dewi Perssik. Tiga juri lalu merangkai pujian energi serta aura dengan catatan teknis soal tempo dan dinamika. Optimaise News membedah momen penampil buncit yang tetap diganjar apresiasi tertinggi itu.
Urutan Paling Akhir, Energi Tetap Terkontrol sampai Penutup
Posisi paling akhir selalu membawa beban psikis ekstra. Rangga tetap menjaga alur lagu dari pembuka hingga penutup tanpa kehilangan kendali.
Fisiknya yang terlihat lelah tidak membuat tenaga di panggung ambruk. Ia justru menutup penampilan dengan rapi dan konsisten. Standing Ovation tunggal dari Dewi menjadi sinyal bahwa usaha energik itu terbaca jelas.
Bagi peserta urutan buncit, momen sejenis jarang terjadi. Apresiasi itu memberi konteks bahwa kerja keras di atas panggung tetap dihargai, meski tubuh sudah menunjukkan tanda kelelahan.
Mengapa Dewi Perssik Berdiri untuk Rangga

Dewi Perssik berdiri dan memberi tepuk tangan meriah hanya untuk Rangga di babak itu. Ia menyoroti usaha energik sang peserta meski mata tampak terkantuk-kantuk sepanjang lagu.
Dewi menekankan bahwa sikap seperti itu pantas dicontoh. Kerja keras di panggung bisa jadi teladan bagi seluruh peserta lain, bukan sekadar pujian personal untuk Rangga.
Standing Ovation itu menegaskan bahwa energi yang dijaga konsisten lebih berharga daripada penampilan yang tampak mulus tapi hampa. Dewi melihat Rangga sebagai contoh nyata mental juang yang kuat di tengah kelelahan.
Aura Lepas dan Catatan Tempo dari Lesti Kejora

Lesti Kejora memuji cara Rangga menyanyikan lagu secara lepas. Aura yang muncul di panggung terasa menyenangkan dan mudah diterima penonton.
Lesti juga melihat kecocokan materi. Lagu pepatah Rhoma Irama itu terasa pas dengan usia Rangga yang masih muda. Pemilihan lagu seperti itu memberi bingkai yang tepat untuk menampilkan karakter vokalnya.
Namun Lesti memberi catatan teknis. Beberapa bagian tempo sedikit lari dari ketukan. Rangga perlu lebih cermat menjaga ketepatan tempo agar alur lagu tetap stabil.
Mental Kompetisi Muda dan Dinamika Vokal Versi Soimah
Soimah menonjolkan semangat juang Rangga. Mental kompetisi yang ia miliki terasa kuat untuk ukuran peserta yang masih muda.
Soimah meminta permainan dinamika vokal diperkuat. Lagu perlu terasa lebih hidup lewat naik-turun volume dan ekspresi yang lebih tegas di bagian-bagian tertentu.
Kontrasnya jelas. Penampilan Rangga terasa mulus dari A sampai Z, tapi dinamika yang kurang membuat lagu kurang berdenyut. Diagnosis teknis ini bisa dibaca sebagai checklist latihan sederhana.
Bekal Teknis yang Bisa Dibawa ke Babak Berikut
Dari tiga juri muncul sintesis yang rapi. Pujian berpusat pada energi, aura lepas, dan mental juang. Catatan teknis menempel di tempo yang sedikit lari serta dinamika vokal yang masih perlu diisi.
Optimaise News menyusun checklist praktis tiga poin agar Rangga membawa bekal konkret. Pertama, jaga energi konsisten sampai penutup meski fisik lelah. Kedua, cermati tempo agar tidak lari di bagian sensitif. Ketiga, isi dinamika agar lagu terasa lebih hidup dan berdenyut.
Paket ini membedakan penampilan yang hanya lulus dengan penampilan yang siap naik level. Rangga sudah punya fondasi kuat dari pujian juri. Kini ia tinggal mengasah dua catatan teknis itu di latihan harian.







