Paris Saint-Germain meraih gelar Piala Super Eropa 2026 kedua secara beruntun setelah mengalahkan Aston Villa 2-1 di Red Bull Arena, Salzburg. Laga penentu digelar Kamis dini hari (14/8/2026) WIB, mempertemukan juara Liga Champions dengan kampiun Liga Europa.
Inti artikel
- Laga penentu digelar Kamis dini hari (14/8/2026) WIB, mempertemukan juara Liga Champions dengan kampiun Liga Europa
- Arena di Austria menjadi panggung adu taktik dua pelatih Spanyol berusia 54 tahun: Luis Enrique dan Unai Emery
- PSG menekan sejak awal dan menguasai irama serangan ke gawang Marco Bizot
Hasil Piala Super Eropa 2026 – PSG Back-to-Back itu menempatkan Les Parisiens di daftar sangat pendek klub yang mampu mengulang trofi Super Eropa dua musim berturut-turut. Optimaise News merangkum, hanya tiga klub, termasuk PSG dan AC Milan, yang mencapai rekor back-to-back di ajang khusus kampiun kontinental tersebut.
Laga penentu di Red Bull Arena yang ditentukan Desire Doué
Arena di Austria menjadi panggung adu taktik dua pelatih Spanyol berusia 54 tahun: Luis Enrique dan Unai Emery. PSG menekan sejak awal dan menguasai irama serangan ke gawang Marco Bizot.
Skor akhir 2-1 lahir lewat tiga momen penentu. Khvicha Kvaratskhelia membuka keunggulan di menit ke-20, Brian Madjo menyamakan sebelum istirahat, lalu Desire Doué mencetak gol kemenangan di menit ke-61. PSG menutup laga dengan pertahanan yang cukup solid menghadapi tekanan The Villans.
Gol Kvaratskhelia dan Madjo bikin matchup seru tanpa status juara
Pembukaan skor datang dari kerja sama Doué dan Kvaratskhelia. Umpan yang diolah menjadi aksi individu diselesaikan tembakan keras ke tengah gawang, 1-0 untuk Paris.
Aston Villa merespons dengan tandukan jarak dekat Madjo di menit ke-28 yang masih melenceng, lalu deretan peluang di sisa babak pertama. Sebelum turun minum, Madjo akhirnya menembus gawang Matvey Safonov dan skor jadi 1-1. Babak kedua menanti satu momen penentu yang akhirnya datang dari Doué.
Status juara belum terjamin sampai menit ke-61. Gol penentu Doué mengubah skema matchup yang tadinya imbang menjadi trofi kedua beruntun bagi skuad Luis Enrique.
Kenapa hanya ada tiga tim yang punya rekor back-to-back
Fakta historis sederhana tapi keras: hanya tiga klub yang mampu juara beruntun di kompetisi yang mempertemukan juara Liga Champions dan juara Liga Europa. AC Milan menjadi yang pertama dengan trofi 1989 dan 1990.
PSG kini masuk daftar yang sama usai gelar 2025 dilanjutkan gelar 2026. Ketatnya rotasi juara di Liga Champions modern membuat suksesi Super Eropa makin jarang, sehingga status “tim super langka” bukan hiperbola media, melainkan hitungan klub yang benar-benar mampu mengulang.
Bagi penggemar di Indonesia, angka “hanya tiga” memberi kerangka: rekor ini lebih jarang daripada sekadar juara sekali. Optimaise News mencatat dari himpunan sumber bahwa kemenangan tipis 2-1 justru memperkuat klaim tersebut, bukan mereduksinya, karena laga penentu tetap dimenangkan di arena netral di Austria.
Rekor panjang Emery yang kini dikejar PSG dan AC Milan
Sebelum kick-off, Unai Emery sempat memuji Luis Enrique setinggi langit dan menyebutnya di barisan pelatih nomor satu dunia, bahkan berdampingan dengan Pep Guardiola. Pujian itu mempertegas taruhan laga: duel gaya dua pelatih Spanyol, bukan sekadar formalitas musim baru.
Di sisi lapangan, hasil 2-1 memperpanjang narasi sulit Emery di panggung Super Eropa, sementara PSG dan AC Milan berdiri sebagai acuan klub yang berhasil menahan momentum beruntun. Konteks musim PSG sebelumnya, dengan rangkaian gelar Liga Champions beruntun, membuat Super Eropa 2026 terasa sebagai lanjutan proyek, bukan kejutan tunggal.
PSG berlanjut sukses bersama Luis Enrique setelah Aston Villa menyerah
Gelar kedua beruntun menegaskan konsistensi proyek Luis Enrique di Paris. Desire Doué menjadi nama penentu di menit ke-61, setelah Kvaratskhelia dan Madjo menulis babak pertama yang setara 1-1.
Implikasinya ke depan jelas bagi pembaca yang mengikuti performa klub Prancis: PSG memulai musim dengan trofi kontinental di tangan, status historis berbagi dengan Milan era 1989-1990, dan legitimasi sebagai salah satu dari hanya tiga klub yang pernah back-to-back di Super Eropa. Aston Villa, sebagai juara Liga Europa, menyerah tipis tanpa melepas intensitas hingga istirahat.







